Pasar Gelap dan Janji Palsu
Udara di Balai Lelang Obsidian lantai dua terasa seperti logam cair yang dipaksa masuk ke paru-paru. Setiap tarikan napas memiliki harga; Aris bisa merasakan detak jantungnya yang melambat, sisa dari biaya akses 50% durasi hidup yang ia bayarkan untuk menembus batas lantai ini. Di pelipisnya, denyut nyeri berdenyut seirama dengan angka digital yang berkedip liar di atas panggung. Itu bukan sekadar harga barang, melainkan konversi langsung dari sisa oksigen dan waktu hidup para kultivator yang hadir.
"Tiga puluh tahun sisa hidup untuk Core Stabilizer ini," suara juru lelang datar, tanpa emosi, seolah ia sedang menghitung tumpukan sampah, bukan masa depan seseorang.
Aris tidak menoleh ke arah balkon VIP tempat Kael berdiri. Ia tahu Penilai itu sedang mengawasi, matanya menyapu ruangan seperti predator yang kehilangan mangsa. Ledger yang dicuri Aris adalah satu-satunya rantai yang menahan Kael untuk tidak menghabisinya di tempat, namun tenggat pajak 12 jam yang tersisa tetap menjadi palu yang siap menghantam. Aris tidak punya waktu untuk bersembunyi.
Lia berbisik, suaranya tipis, nyaris tenggelam oleh dengung energi artefak di sekeliling mereka. "Lot 42. Fragment of Time. Itu kunci untuk menstabilkan Konversi Tekanan Pasar milikmu. Tapi ingat, elit di sini tidak akan membiarkanmu menang tanpa harga yang harus dibayar balik."
Aris tahu Lia bermain di dua sisi. Informasi ini bisa jadi umpan untuk menarik perhatian kolektor lantai atas. Namun, ia tidak punya pilihan. Saat lot ke-42 muncul, Aris membiarkan harga melonjak. Ia menunggu, membiarkan para elit saling sikut dalam keserakahan mereka, sebelum menekan tombol tawar di detik terakhir dengan sisa kredit yang ia miliki.
Di lorong transaksi belakang, Aris memeriksa material itu. Bukan sekadar logam, melainkan pengunci resonansi kuno. Saat ia meneliti retakan mikroskopis pada permukaannya, sebuah realisasi menghantam: ini adalah kunci untuk memanipulasi waktu di lantai ini. Namun, kemenangan itu berbau jebakan. Lia menatapnya dari kejauhan dengan tatapan yang sulit diartikan—pengkhianatan yang tertunda.
Langkah kaki Aris bergema di lorong sempit menuju tangga servis. Efek samping dari kehilangan separuh sisa umurnya membuat dadanya terasa seperti diikat sabuk besi. Tiba-tiba, tiga pria bertubuh kekar dengan lencana pengawas sekte menghadang jalannya.
"Berhenti, tikus lantai satu," sahut salah satu antek, belati berenergi biru berpendar di tangannya. "Kael ingin material itu kembali. Dia tidak peduli jika harus mengambil sisa hidupmu yang tersisa."
Aris tidak berhenti. Ia merasakan frekuensi teknik terlarangnya bergetar di meridian yang melemah. Dengan satu hentakan, ia mengaktifkan Konversi Tekanan Pasar, mengubah niat membunuh para antek tersebut menjadi dorongan energi yang menghantam mereka ke dinding beton. Aris keluar dari lorong dengan napas pecah, meninggalkan para antek yang terkapar, namun desas-desus bahwa ia adalah pembeli curang mulai menyebar di koridor sistem.
Di luar balai lelang, udara sore mendadak dingin. Sebuah bayangan tinggi menjulang: Tuan Vargo, kolektor dari lantai atas dengan jubah sutra yang harganya setara pendapatan Aris setahun.
"Bocah," suara Vargo berat. "Material yang kau menangkan tadi—serpihan inti besi meteor itu. Perlihatkan. Aku ingin memastikan barang itu tidak rusak oleh tangan amatir."
Aris merasakan jantungnya berpacu. Ia tidak bisa menolak tanpa memicu kecurigaan. Dengan tangan gemetar yang disengaja, ia mengeluarkan potongan kecil yang memang sudah disiapkan sebagai umpan. Vargo menatap serpihan tak berharga itu dengan cibiran. "Sampah," gumamnya, lalu pergi dengan senyum tipis yang meremehkan.
Aris mengembuskan napas panjang saat sosok Vargo menghilang. Namun, ia tahu ini belum berakhir. Jauh di bawah tanah, Kael sedang menerima catatan medis lama yang berdebu—catatan yang seharusnya sudah menghapus identitas Aris dari sistem. Saat Kael mulai mencocokkan data tersebut dengan jejak energi yang baru saja dipicu Aris di balai lelang, ancaman baru mulai mengunci lehernya.