Lantai Dua: Oksigen Berbayar
Udara di lantai dua terasa seperti logam cair yang dipaksakan masuk ke paru-paru. Aris tersungkur di lantai marmer dingin area transit, sensasi terbakar menjalar di sekujur tubuhnya. Lima puluh persen sisa durasi hidupnya telah ditarik paksa oleh sistem Menara sebagai biaya akses. Ia tidak hanya merasa lemah; ia merasa tipis, seolah eksistensinya baru saja diiris oleh pisau bedah birokrasi yang tak terlihat. Notifikasi merah berkedip di depan matanya: Oksigen Tersisa: 00:57:12. Setiap detik yang berlalu memotong angka itu lebih dalam.
Di sekelilingnya, penghuni lantai dua berjalan dengan langkah efisien, wajah pucat tapi tenang, menempelkan kartu identitas ke sensor dinding untuk menghirup udara bersih. Aris tidak punya kredit. Pajak oksigen harian sudah didebit otomatis dari sisa umurnya yang semakin tipis. Suara mesin dingin menggema, "Saldo kritis. Segera isi ulang atau ruang akan dikosongkan."
Aris mencengkeram lantai, buku-buku jarinya memutih. Pita pengukur penjahit di pergelangan tangannya—pemberian Lia—kini menunjukkan angka yang mengerikan: 47 jam tersisa. Ia bangkit dengan susah payah, menyandarkan punggung ke dinding dingin, dan mengaktifkan sedikit 'Konversi Tekanan Pasar'. Tekanan udara berbayar di sekitarnya bergetar, lalu mengalir tipis ke dalam tubuhnya sebagai energi mentah. Bukan banyak, tapi cukup untuk membuat langkah pertamanya stabil. Sensor di bilik transit sempat berkedip ragu sebelum akhirnya mengizinkannya lewat. Napas pertama yang dibayar paksa terasa pahit, tapi memberinya waktu.
Ia melangkah keluar dari area transit menuju pasar gelap lantai dua yang remang-remang. Lorong-lorong sempit penuh kios barang bekas dan pedagang kecil yang saling berbisik. Di sini, orang-orang bertahan bukan dengan kekuatan, tapi dengan hitungan detik yang tepat. Aris menemukan celah di antara dua kios, duduk di bangku reyot, dan mengeluarkan ledger yang diberikan Lia.
Lia muncul dari balik tirai kain tebal, matanya waspada menyapu lorong. "Jangan buka di bawah cahaya utama," bisiknya sambil menyerahkan buku catatan bersampul kulit kusam. "Sistem di lantai ini lebih tajam—ia tidak hanya melacak energi, tapi juga pola bacaan kita."
Aris mengisolasi ledger dengan lapisan tipis qi dari tekniknya, menyembunyikan frekuensi dari detektor. Ia membalik halaman pertama. Bukan catatan hutang biasa. Itu daftar tumbal. Nama-nama yang tercatat bukan penggelap pajak sembarangan. Matanya tertuju pada satu baris yang membuat darahnya membeku: Mentor Harsa. Pria yang mengajarinya cara bertahan di lantai bawah, yang hilang tanpa jejak tiga tahun lalu. Di samping namanya tertulis: "Kontribusi energi penuh untuk stabilisasi lantai tiga. Status: Dikonversi."
Aris mengepalkan tangan hingga kuku menusuk telapak. Ledger ini bukan sekadar bukti korupsi Kael. Ini catatan sistematis bagaimana Menara mengorbankan kultivator berbakat dari bawah untuk memberi oksigen dan qi ke atas. Setiap nama adalah nyawa yang dijadikan bahan bakar. Motif pita pengukur di pergelangan tangannya terasa semakin berat—bukan lagi pengingat hutang, tapi pengingat darah yang mengalir ke lantai yang lebih tinggi.
"Mereka bukan hilang," gumam Aris pelan. "Mereka dibunuh untuk menjaga keseimbangan ini." Lia mengangguk pelan, wajahnya tegang. "Itu sebabnya aku berikan padamu. Tapi bawa itu berarti kau jadi target utama. Kael sudah tahu kau punya sesuatu yang bisa meruntuhkannya."
Aris menutup ledger dengan pelan. Motivasi bertahan hidupnya berubah dalam sekejap. Bukan lagi sekadar naik lantai untuk hidup lebih lama. Ini sekarang misi untuk meruntuhkan seluruh sistem yang memakan orang-orang seperti Harsa, seperti dirinya. Tapi untuk itu, ia butuh kekuatan yang lebih besar—dan waktu yang semakin menipis.
Dua jam kemudian, di ruang sewa kecilnya yang dingin seperti kotak perak, Aris membentangkan ledger, catatan teknik, dan material baru yang dibelinya dari pedagang kecil: vial embun inti tekanan, serpih kristal ventilasi, dan pelat tembaga beralur dari saluran lama menara. Pita pengukur menunjukkan 45 jam 10 menit. Pajak Kael masih menggantung dengan tenggat 12 jam yang tersisa.
Ia meletakkan jari di pelat tembaga. Saat qi mengalir, helaian frekuensi material merespons, berputar lebih cepat. Teknik 'Konversi Tekanan Pasar' yang tadinya mentah di lantai bawah kini bisa disempurnakan. Tekanan udara berbayar di lantai dua, pajak oksigen, semuanya bisa diubah menjadi energi kultivasi yang lebih murni. Aris menyalurkan qi dengan hati-hati, merasakan perubahan yang terukur: cadangan energinya naik tipis, cukup untuk menahan satu serangan kecil tanpa kehabisan napas. Gain itu nyata—bukan deskripsi kosong. Tapi setiap detik penyempurnaan juga meninggalkan jejak frekuensi yang lebih kuat, jejak yang sistem bisa deteksi.
Tiba-tiba pintu ruangan didobrak keras. Seorang kolektor berjubah abu-abu dari lantai atas berdiri di ambang, mata dingin menyapu meja. "Material prioritas baru saja dibeli di pasar bawah. Serahkan sekarang. Ini perintah dari Biro Atas."
Aris berdiri pelan, tangan kanannya masih menyentuh pelat tembaga. Kolektor itu jauh lebih kuat—tingkat kultivasi yang jelas terasa di tekanan auranya. Menyerahkan berarti kehilangan kesempatan menyempurnakan teknik. Bertarung terbuka berarti alarm baru dan akhir dari segalanya.
"Ini milikku," kata Aris datar. "Dibeli dengan kredit yang tersisa."
Kolektor tertawa pendek. "Di lantai dua, hak milik adalah ilusi. Serahkan atau aku ambil paksa."
Aris mengaktifkan 'Konversi Tekanan Pasar' sepenuhnya. Tekanan udara di ruangan, tekanan qi kolektor, bahkan tekanan ancaman itu sendiri—semuanya bergetar lalu mengalir ke tubuhnya. Bukan serangan langsung, tapi penyerapan halus yang membuat kolektor tersentak mundur. Auranya melemah seketika, sementara Aris merasakan lonjakan energi yang terukur: cadangan qi-nya naik dua kali lipat dari sebelumnya. Teknik itu kini bekerja lebih tajam berkat material lantai dua.
"Kau... apa yang kau lakukan?" desis kolektor, mundur selangkah.
Aris tersenyum tipis, meski tubuhnya masih lemah karena biaya akses. "Tekanan selalu bisa dikonversi. Katakan pada yang mengirimmu—jika mereka datang lagi, aku akan konversi lebih banyak." Ancaman terselubung itu cukup. Kolektor menggeram tapi mundur, pintu tertutup dengan keras.
Aris ambruk ke kursi, napasnya tersengal. Gain itu nyata: tekniknya lebih kuat, opsi bertahannya lebih luas. Tapi jejak frekuensi baru saja terkirim ke atas. Kael pasti sudah tahu posisinya sekarang. Dan pita pengukur di pergelangan tangannya berkedip lagi—sisa umur semakin tipis.
Ia membuka ledger sekali lagi, mata tertuju pada nama Mentor Harsa. Bukan lagi sekadar bertahan. Ini perang. Dan daftar tumbal itu akan menjadi senjatanya.
Tiba-tiba, langkah kaki berat mendekat lagi ke koridor luar. Kali ini bukan satu kolektor, melainkan sekelompok orang. Aris tahu, waktu sebelum audit besar dan tagihan pajak Kael benar-benar jatuh semakin pendek. Lantai dua baru saja menunjukkan giginya yang sebenarnya.