Panggung Ujian Publik
Lantai dasar Menara bergetar. Bukan karena gempa, melainkan karena frekuensi energi yang dipicu teknik Konversi Tekanan Pasar milik Aris semalam. Udara di arena ujian terasa tajam, berbau ozon dan logam berkarat. Di tribun kehormatan, Penilai Kael berdiri dengan jubah abu-abu yang kaku, matanya menyapu kerumunan sebelum berhenti tepat di tengkuk Aris. Kael memegang daftar audit yang baru saja ia perbarui—sebuah surat perintah eliminasi terselubung.
"Aris dari Sektor Bawah," suara Kael bergema, dingin dan mekanis. "Karena lonjakan energi ilegal yang kau picu, pajakmu dilipatgandakan. Kau punya waktu dua belas jam sebelum sistem mencabut hak hunimu secara permanen. Untuk membuktikan kelayakanmu tetap berada di Menara, kau akan menjalani Ujian Publik sekarang."
Aris mengepalkan tangan di balik lengan bajunya. Di dalam sakunya, ledger curian dari Lia terasa berat. Bukti korupsi Kael—pengalihan jatah energi sektor bawah ke lantai atas—tersimpan di sana. Namun, bukti itu tidak berguna jika ia mati di arena ini. Kael memberi isyarat, dan seorang kultivator tingkat dua melompat ke arena. Lawan itu memiliki aura yang menekan, sengaja dipilih Kael untuk menghancurkannya dengan cepat.
"Menyerah saja, Tikus Lantai Nol!" teriak lawan itu. Ia menghantamkan tinjunya, menciptakan gelombang biru elektrik yang membelah lantai batu.
Aris tidak menghindar. Ia merasakan detak jantungnya berpacu, sinkron dengan dengungan sistem Menara. Lawan itu terlalu boros. Setiap serangan yang gagal menghantam Aris justru menyedot energi dari kristal di dinding arena—jatah yang seharusnya menjadi milik sektor bawah. Aris memejamkan mata, membiarkan pori-porinya terbuka. Ia tidak melawan arus energi itu; ia menyerap tekanan tersebut.
Saat lawan melompat untuk serangan brutal berikutnya, Aris melangkah maju. Klik. Energi lawan tersedot masuk ke dalam inti Aris, mengubah serangan itu menjadi bahan bakar bagi kenaikan tingkatnya sendiri. Lawan itu tumbang, terkuras habis, sementara Aris berdiri tegak dengan aura yang kini lebih stabil.
Kael turun dari podium, jubahnya menyapu lantai. "Pemeriksaan standar," katanya keras. "Tubuhmu menunjukkan lonjakan yang tidak wajar. Buka mantelmu. Sekarang."
Aris tidak bergerak. Ia mengeluarkan gulungan kecil kulit tipis—salinan halaman ledger yang Lia berikan. "Sebelum tanganmu menyentuhku, lihat ini dulu, Penilai," bisik Aris dingin. Nama-nama yang tertera di sana membuat mata Kael membelalak. Kael terpaksa mundur, memberi Aris celah untuk berlari menuju gerbang lantai dua.
Di depan gerbang raksasa, dengungan rendah menyambutnya. Aris menatap antarmuka cahaya yang memproyeksikan syarat mutlak: Biaya Akses: 50% Sisa Durasi Hidup. Konfirmasi?
Aris teringat daftar nama di dalam ledger—daftar tumbal yang dikorbankan sistem. Ia tidak lagi hanya berjuang untuk hidup, tapi untuk membalas dendam. Dengan satu tarikan napas, ia menekan konfirmasi. Gerbang terbuka dengan suara logam berat, menyisakan Aris yang lebih lemah secara fisik, namun kini berdiri di ambang lantai yang lebih tinggi, membawa rahasia yang siap meruntuhkan Menara dari dalam.