Harga dari Sebuah Keuntungan
Sensasi dingin yang menusuk tulang bukan berasal dari udara lantai nol, melainkan dari meridian Aris yang dipaksa bekerja di luar kapasitas. Teknik ‘Konversi Tekanan Pasar’ miliknya baru saja menyedot sisa energi dari sirkuit distribusi sektor, mengubah beban pajak yang seharusnya ia bayar menjadi lonjakan qi murni ke dalam dantian-nya.
Di layar monitor retak di depannya, angka fluktuasi pasar yang tadinya merah pekat kini berkedip hijau. Aris naik satu tingkat. Namun, kemenangan itu terasa seperti racun. Sirene Menara melengking, memecah kesunyian industri yang biasanya hanya diisi suara mesin jahit tua. Lampu indikator di dinding lorong berputar, memancarkan cahaya merah yang menyapu wajahnya yang pucat.
Sial. Teknik terlarang itu meninggalkan residu frekuensi yang terlalu mencolok.
Brak! Pintu baja sektor 4-B diguncang keras dari luar.
"Aris! Buka! Terdeteksi anomali energi ilegal di titik koordinatmu!" Suara penjaga sektor terdengar menggelegar, penuh ancaman. Aris menyambar artefak kompas peninggalan bibinya yang kini berpendar redup, menyembunyikannya di balik tumpukan kain perca. Ia memutus koneksi tekniknya tepat saat engsel pintu mulai melengkung di bawah hantaman gada listrik.
Ia tersungkur di lantai, napasnya tersengal. Bau ozon dan logam hangus memenuhi udara. Teknik itu baru saja memakan cadangan energi intinya sebagai tumbal, meninggalkan sensasi dingin yang menyiksa. Di luar, suara langkah kaki berat mendekat. Aris tahu, jika ia tertangkap sekarang, ia bukan hanya akan kehilangan hak tinggal, tapi akan dijadikan tumbal untuk menstabilkan lantai nol.
"Itu bukan sekadar alarm, Aris. Itu adalah lonceng kematian bagi siapa pun yang tidak punya pelindung," sebuah suara serak memecah ketegangan dari balik tumpukan kotak logistik. Lia muncul dari bayang-bayang, mengenakan jubah abu-abu yang menyatu dengan debu industri. Ia melempar sebuah gulungan kertas kecil—ledger yang selama ini dicari Aris.
"Kael tidak hanya menggelapkan energi, dia menjual akses keamanan ke lantai dua kepada sindikat luar. Alarm tadi? Itu karena dia sengaja memicu sistem agar audit bisa ditutup lebih awal dan menyingkirkan 'sampah' seperti kita sebelum bukti transaksi itu ditemukan," bisik Lia. Aris menggenggam ledger itu erat-erat. Ia kini tahu mengapa Kael begitu terobsesi dengan sektor bawah.
Di pusat administrasi, Penilai Kael berdiri di depan meja kayu tua, jemarinya mengetuk-ngetuk alat pendeteksi energi kristal yang berdenyut redup. Alarm Menara yang berbunyi beberapa menit lalu masih menyisakan dengung frekuensi tinggi di telinga Aris saat ia dipaksa menghadap.
"Anomali energi di sektor ini tidak muncul begitu saja, Aris," suara Kael dingin. Matanya menyapu setiap sudut ruangan, berhenti sejenak pada artefak kompas di meja Aris. "Jika aku menemukan satu saja jejak qi liar di sini, kau akan menjadi tumbal berikutnya untuk menstabilkan lantai nol. Untuk sekarang, aku akan melipatgandakan pajak operasionalmu. Bayar dalam dua belas jam, atau serahkan hak tinggalmu."
Kael pergi, meninggalkan Aris dalam kondisi kekurangan sumber daya yang lebih parah. Lia kembali menemuinya di gudang rahasia, di mana sebuah monitor kristal retak memancarkan pendar biru pucat.
"Teknik yang kau gunakan telah menarik perhatian sensor lantai atas. Kael tidak akan berhenti sampai dia membedahmu untuk mencari tahu sumber anomali itu," ujar Lia tajam. Ia menunjuk ke arah grafik yang melandai tajam. "Gerbang menuju lantai dua telah terbuka karena lonjakan energi yang kau picu. Itu satu-satunya tempat di mana protokol audit Kael tidak memiliki yurisdiksi penuh. Tapi, sistem Menara tidak memberikan akses gratis. Ia menuntut biaya masuk berupa setengah sisa umur kultivasimu."
Aris menatap gerbang lantai dua yang mulai berpendar di depannya. Ia baru saja merasakan kekuatan, namun sekarang ia harus memilih: menyerahkan masa depannya untuk bertahan hidup hari ini, atau mati di bawah tangan Kael.