Novel

Chapter 1: Audit Terakhir di Lantai Nol

Aris, seorang penghuni lantai bawah yang terancam eliminasi dalam 24 jam, menemukan teknik terlarang untuk mengubah tekanan sistem menjadi energi kultivasi. Setelah konfrontasi dengan Penilai Kael, ia berhasil mengaktifkan teknik tersebut tepat sebelum audit dimulai, memicu alarm yang mengguncang Menara.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Audit Terakhir di Lantai Nol

Layar terminal di pergelangan tangan Aris berkedip merah, memancarkan cahaya dingin yang menyiksa mata di tengah remangnya bengkel pasar loak. Angka itu berdetak mundur tanpa ampun: 23:59:42. Status: Eliminasi. Penyebab: Defisit Peringkat Kumulatif. Batas Audit: 24 Jam.

Aris tidak perlu membaca dua kali untuk tahu apa artinya. Di Kota Menara, di mana setiap lantai adalah investasi dan setiap tahun adalah mata uang, kegagalan mencapai kuota peringkat berarti dibuang ke dataran tandus di luar gerbang. Dia bukan sekadar pengangguran; dia adalah aset yang dianggap kadaluwarsa.

“Jangan menatapnya seolah itu akan berubah menjadi emas, Aris,” suara serak itu datang dari balik tumpukan artefak rusak. Itu Kael, Penilai Sektor Bawah yang selalu mencium bau keputusasaan lebih tajam daripada bau oli mesin. Kael berdiri di ambang pintu bengkel, bayangannya memanjang, menelan meja kerja Aris.

Aris menarik napas panjang, meredam getar di tangannya. Ia tidak menjawab. Fokusnya beralih pada tumpukan barang rongsokan di depannya—sebuah mesin jahit tua yang pernah digunakan mendiang ayahnya untuk menyambung hidup. Di bawah pedal yang berkarat, terselip sebuah catatan kuno dengan sampul kulit yang sudah mengelupas. Saat Aris menyentuh bagian yang robek, sensasi dingin menjalar ke sarafnya. Teknik terlarang: Konversi Tekanan Pasar. Buku itu menjanjikan sesuatu yang mustahil: mengubah tekanan eliminasi—energi negatif dari sistem yang menekan peringkat—menjadi energi kultivasi murni.

Beberapa jam kemudian, bau apek kertas tua dan debu logam memenuhi ruangan kantor Audit Sektor Bawah. Aris berdiri diam, jemarinya terkunci di balik punggung, merasakan denyut nadi yang kian cepat. Di depannya, Kael duduk dengan angkuh, membolak-balik lembaran data digital dengan gerakan yang disengaja agar terlihat lambat.

“Aris,” Kael memulai tanpa mendongak. “Tingkat kultivasimu masih di titik nol. Kau sudah menghuni lantai ini selama tiga tahun, namun progresmu? Kosong. Secara teknis, kau adalah beban bagi neraca energi Menara. Sekte menuntut pelunasan hutang nyawa yang ditinggalkan ayahmu. Kau pikir dengan bersembunyi di balik mesin jahit tua dan memperbaiki artefak sampah, kau bisa melunasi hutang itu?”

Aris merasakan panas menjalar di dadanya. Ia teringat kembali pada ledger atau buku besar dengan halaman yang robek—petunjuk yang ditinggalkan ayahnya sebelum menghilang. Ia tahu Kael terlibat dalam skema penggelapan energi yang seharusnya disalurkan ke sektor bawah. Aris menatap lurus ke mata Kael. “Hutang itu tidak akan pernah lunas selama kau terus menyedot jatah energi yang seharusnya sampai ke bengkel, Kael. Aku tahu ke mana aliran energi itu pergi.”

Kael tertegun sejenak sebelum seringai tipis muncul di bibirnya. “Kau berani? Baiklah. Jika dalam dua belas jam kau tidak menunjukkan kenaikan peringkat yang sah, aku sendiri yang akan menyeretmu ke gerbang luar.”

Kembali ke ruang bawah tanah yang lembap, Aris membetulkan posisi duduknya di atas lantai beton yang dingin. Sisa waktu: 14 menit. Ia menyentuh fragmen logam berkarat yang ia temukan—kunci aktivasi teknik terlarang tersebut. Sesuai instruksi, ia memejamkan mata, membiarkan pikirannya terhubung dengan dinding-dinding Menara yang bergetar oleh ribuan ambisi penghuninya.

Sakit. Sensasi itu seperti ribuan jarum menembus meridiannya. Energi yang ia serap bukan energi murni dari alam, melainkan sisa-sisa frustrasi dan ketakutan dari lantai-lantai di atasnya. Teknik itu memaksa tubuhnya menjadi wadah bagi tekanan yang seharusnya menghancurkan orang lemah. Aris mengerang, tangannya mencengkeram tepi meja hingga buku-buku jarinya memutih.

Sistem terminalnya mulai menjerit, memproses lonjakan energi yang tidak terdaftar. Aris berhasil mengaktifkan teknik terlarang tepat detik sebelum audit Kael dimulai, memicu alarm di lantai atas yang mengguncang fondasi Menara hingga ke akar-akarnya.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced