Bayang-bayang di Balik Layar
Ruang kerja Pak Surya di kediaman keluarga kini terasa seperti makam bagi reputasi yang ia bangun selama puluhan tahun. Wangi kayu cendana yang biasanya menenangkan, kini justru terasa menyesakkan. Aris berdiri di tengah ruangan, tidak lagi menunduk seperti menantu yang menunggu perintah kopi, melainkan tegak dengan tangan terlipat di depan dada. Pak Surya duduk di kursi eksekutifnya, wajahnya yang biasanya angkuh kini tampak pucat pasi. Tangannya gemetar saat ia menyodorkan selembar cek kosong di atas meja mahoni yang mengkilap.
"Ambil ini, Aris. Berapa pun yang kau tulis, aku akan membayarnya. Asalkan kau serahkan salinan asli bukti notaris itu dan tutup mulutmu di depan dewan direksi besok pagi," suara Pak Surya parau, kehilangan wibawa yang dulu sering ia gunakan untuk membungkam Aris.
Aris tidak menoleh pada cek itu. Ia justru menatap lukisan abstrak di dinding, seolah tidak mendengar tawaran yang bisa mengubah hidup seorang pria biasa dalam semalam. "Anda masih belum mengerti, Pak Surya. Masalahnya bukan soal uang lagi. Anda menganggap saya sebagai pion yang bisa dibuang, dan sekarang, pion itu memegang kunci yang bisa meruntuhkan seluruh gedung perusahaan Anda."
Pak Surya berdiri dengan kasar, kursinya berderit tajam di lantai kayu. "Aku bisa menghancurkan hidupmu dalam satu perintah! Kau pikir siapa yang memberimu atap untuk berteduh?"
"Atap itu milik keluarga, dan keluarga itu sekarang sedang menatap jurang karena keserakahan Anda," potong Aris dingin. "Simpan cek itu. Jika esok pagi saya tidak melihat perubahan sikap yang drastis di dewan direksi, bukti ini akan sampai ke tangan pihak berwenang, bukan lagi sekadar ancaman di rumah ini."
Aris berbalik dan melangkah keluar, meninggalkan Pak Surya yang terengah-engah dalam keheningan ruang kerjanya. Di ruang tamu, Maya sudah menunggu. Wajahnya yang biasanya tenang kini terlihat gelisah. Ia memegang tas kerjanya dengan erat, matanya menatap Aris dengan campuran rasa marah dan bingung.
"Ayah terlihat hancur, Aris. Apa yang sebenarnya terjadi? Semua orang di perusahaan membicarakan pembatalan tender itu. Mereka bilang ada bukti vendor fiktif..." Maya terdiam, menatap Aris yang kini berdiri di depannya dengan ketenangan yang tidak biasa.
Aris tidak menjawab langsung. Ia mengeluarkan amplop cokelat tipis dari saku jasnya dan meletakkannya di atas meja kopi marmer di antara mereka. "Buka itu, Maya. Lihat sendiri apa yang selama ini dibiayai oleh perusahaan ayahmu."
Maya ragu, namun tangannya bergerak dengan gemetar. Saat ia membaca dokumen notaris yang merinci aliran dana ke vendor fiktif tersebut, wajahnya memucat. Fondasi kehidupannya yang selama ini tampak kokoh tiba-tiba retak. "Ini... ini tidak mungkin. Ayah tidak mungkin melakukan ini."
"Kebenaran tidak peduli pada loyalitasmu, Maya," ujar Aris pelan. "Tender pesisir itu hanyalah puncak gunung es. Ayahmu telah mempertaruhkan masa depan perusahaan untuk keuntungan pribadi. Aku tidak menghancurkan keluarga ini; aku hanya menyingkap kebusukan yang sudah ada sebelum aku menjadi bagian dari rumah ini."
Maya terdiam, menatap dokumen itu dengan tatapan kosong, sementara Aris meninggalkan ruangan. Ia tahu ini baru permulaan. Di luar, di sebuah kafe modern tepi pantai, Aris menerima paket misterius. Tidak ada nama pengirim, hanya logo Grup Wijaya Land. Di dalamnya, sebuah kartu nama tebal berwarna krem dengan tulisan emas: Darmawan Wijaya – Direktur Utama.
Di balik kartu itu, sebuah pesan tertulis: "Selamat atas palu lelang hari ini. Kita perlu bicara. Besok pukul 10 pagi, di sini juga. Jangan bawa siapa-siapa. – DW."
Aris memutar kartu nama itu di antara jemarinya. Darmawan Wijaya adalah predator kelas atas yang selama ini menjadi musuh bebuyutan keluarga Surya. Kemenangannya di dewan direksi rupanya telah memicu perhatian yang jauh lebih besar daripada yang ia duga. Aris menatap cakrawala pesisir, menyadari bahwa ia bukan lagi sekadar menantu yang sedang membalas dendam—ia telah melangkah ke dalam perang kelas yang jauh lebih luas, dan tidak ada jalan untuk mundur.