Novel

Chapter 3: Palu Lelang Pertama

Aris berhasil membongkar kecurangan tender Pak Surya di depan dewan direksi dengan bukti legal yang tak terbantahkan, membatalkan tender dan menghancurkan otoritas mertuanya. Kemenangan ini menarik perhatian konglomerat pesaing yang kini mengincar Aris.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Palu Lelang Pertama

Lantai marmer lobi Surya Group terasa dingin di bawah sepatu Aris. Pukul 08.45. Lima belas menit sebelum tender proyek reklamasi pesisir ditutup secara resmi. Di tangan Aris, map biru berisi dokumen legal dari Notaris Hartono terasa lebih berat dari sekadar kertas; itu adalah surat kematian bagi karier Pak Surya.

Aris melangkah melewati resepsionis yang biasanya mengabaikannya. Hari ini, tatapan mereka tertuju pada kemeja putihnya yang disetrika tajam. Ia tidak mencari pengakuan; ia mencari eksekusi.

Pak Surya muncul dari lift eksekutif, dikawal dua pria berbadan tegap. Wajah patriark itu memerah, urat di pelipisnya menonjol. "Sudah kubilang, Aris, jangan pernah menampakkan wajahmu di sini lagi. Kau hanya sampah yang mengotori pemandangan," desisnya, suaranya rendah namun penuh racun. Ia memberi isyarat pada pengawalnya. "Seret dia keluar. Pastikan dia tidak sampai ke ruang rapat."

Kedua pengawal itu bergerak, tangan mereka mencengkeram lengan Aris. Aris tidak melawan. Ia hanya berhenti, membiarkan cengkeraman itu mengencang, lalu menatap mata Pak Surya dengan dingin. "Sentuh aku sekali lagi, dan dokumen ini akan sampai ke tangan auditor independen sebelum palu lelang diketuk. Anda yakin ingin mempertaruhkan seluruh proyek ini hanya untuk membuang menantu yang Anda anggap tidak berguna?"

Pak Surya tertegun. Napasnya tertahan. Ia tahu Aris tidak sedang menggertak; ia melihat keyakinan yang tidak pernah ada sebelumnya di mata pria itu. Pak Surya memberi isyarat agar pengawalnya melepaskan Aris.

Aris berjalan menuju ruang rapat, pintu kaca besar itu terbuka dengan dentuman yang terasa seperti vonis. Di dalam, suasana kental dengan aroma kesepakatan yang sudah diatur. Pak Surya berdiri di ujung meja, tangannya menekan dokumen tender. Maya, istrinya, duduk di sampingnya, memegang pena dengan jari yang gemetar. Saat Aris masuk, para direksi menoleh dengan tatapan jijik yang terencana.

"Aris? Apa yang kau lakukan di sini?" suara Maya bergetar, penuh ketakutan akan kemarahan ayahnya.

Aris tidak menjawab. Ia meletakkan map biru itu di tengah meja marmer. Dentumannya memecah keheningan. "Ada yang perlu dikoreksi sebelum tender ini disahkan, Pak Surya. Vendor yang Anda tunjuk adalah perusahaan cangkang yang tidak memiliki aset nyata. Ini adalah pencucian uang, bukan pembangunan."

Pak Surya tertawa sumbang, meski keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. "Kau gila. Keamanan!"

"Silakan," potong Aris, suaranya tenang dan tajam. "Tapi jika saya keluar dari pintu ini, salinan dokumen legal ini akan sampai ke meja penyidik korupsi dalam lima menit. Anda ingin melihat polisi masuk ke ruangan ini sekarang?"

Keheningan mencekam menyelimuti ruangan. Aris membuka map itu, memamerkan bukti transaksi fiktif yang telah dilegalisir. Para direktur mulai berbisik, wajah mereka berubah dari jijik menjadi panik. Pak Surya terduduk lesu, otoritasnya runtuh di hadapan bukti hukum yang tak terbantahkan. Tender dibatalkan seketika.

Aris melangkah keluar dari ruang rapat, statusnya telah berubah dari menantu yang dibuang menjadi pemegang kendali. Namun, saat ia mencapai koridor, seorang pria berjas rapi menghadangnya. Pria itu menyodorkan kartu nama emas dengan logo konglomerat pesaing. "Permainan yang bagus, Aris. Kami telah mengawasi Anda sejak lama. Mari bicara tentang masa depan yang lebih besar."

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced