Novel

Chapter 5: Negosiasi di Atas Puing

Aris mengonsolidasikan kekuasaannya dengan memaksa Pak Surya menyerahkan kendali operasional di bawah ancaman bukti audit forensik. Maya mulai berpihak pada Aris setelah menyadari skala korupsi ayahnya, sementara Pak Surya mulai merencanakan serangan balik melalui suap kepada kolega Aris.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Negosiasi di Atas Puing

Aris tidak mengetuk. Ia membuka pintu ruang kerja Pak Surya dengan dorongan mantap, suara engsel pintu yang berderit menjadi satu-satunya interupsi di ruangan yang biasanya hening oleh otoritas. Pak Surya duduk di balik meja mahoni, tangannya membeku di atas cek kosong yang baru saja ia tandatangani—sebuah upaya putus asa untuk menyuap Notaris Hartono yang kini telah membelot.

Aris menarik kursi kayu jati, duduk tanpa diminta. Ia meletakkan map biru tipis di atas tumpukan dokumen tender yang kini tak lagi memiliki nilai hukum.

"Tender reklamasi pesisir sudah dibatalkan, Pak," ujar Aris. Suaranya datar, dingin, dan tidak menyisakan ruang untuk negosiasi. "Dewan direksi telah menerima surat pembatalan resmi pagi ini. Mereka tahu tentang vendor fiktif itu. Mereka tahu Anda menggunakan dana perusahaan untuk menutupi utang pribadi di kasino luar negeri."

Pak Surya tersentak, wajahnya yang biasanya merah padam karena amarah kini memucat seperti kertas. "Kau... kau pikir siapa dirimu? Beraninya kau masuk ke sini dan bicara seperti itu?"

"Saya adalah orang yang memegang bukti audit forensik yang dilegalisir," Aris menatap mata mertuanya. "Pilihannya sederhana: Anda mundur dari posisi direktur operasional dan menyerahkan kendali penuh kepada saya, atau saya akan mengirimkan map ini ke kantor polisi dan dewan pengawas dalam satu jam ke depan."

Pak Surya gemetar. Ia mencoba meraih map itu, namun Aris menariknya kembali dengan gerakan yang lebih cepat dan presisi. Tidak ada lagi menantu yang menunduk. Tidak ada lagi Aris yang menyajikan kopi dengan tangan gemetar. Di depannya kini adalah seorang pria yang telah memetakan kejatuhannya dengan detail yang mematikan.

Di ruang makan malam itu, suasana berubah menjadi mencekam. Aris duduk di kursi kepala meja—posisi yang selama tiga tahun menjadi singgasana mutlak Pak Surya. Anggota keluarga besar yang biasanya lantang menghina, kini hanya menunduk, sibuk dengan piring masing-masing. Mereka merasakan pergeseran gravitasi kekuasaan di rumah ini.

Maya duduk di seberang Aris, memegang bukti fisik yang ditinggalkan suaminya di meja kerja. Tanda tangan Notaris Hartono di dokumen itu adalah surat kematian bagi reputasi ayahnya.

"Ayah, ini bukan manipulasi," bisik Maya saat mereka berada di ruang tamu, suaranya bergetar. "Ini audit forensik. Apakah benar Ayah menggunakan dana reklamasi untuk menutupi utang?"

Pak Surya mencoba meraih dokumen itu, namun Maya menariknya menjauh. "Jangan sentuh ini!" seru Maya, matanya berkaca-kaca karena pengkhianatan. Ia tidak lagi membela ayahnya. Ia menatap Aris yang berdiri di ambang pintu, menanti keputusan akhirnya.

Di kamar tidur, Aris menatap ponselnya. Undangan dari Darmawan Wijaya untuk pertemuan besok pukul sepuluh pagi sudah menanti. Maya berdiri di jendela, memandangi lampu proyek yang padam di kejauhan.

"Ayah meneleponku tiga kali," bisik Maya. "Dia bilang kau melakukan kesalahan besar dan memintaku menghentikanmu membawa dokumen itu ke rapat direksi besok."

Aris mendekat, suaranya rendah dan tajam. "Dia tidak sedang membereskan masalah, Maya. Dia sedang mencoba membeli waktu. Dia sudah menghubungi kolega-kolegaku, mencoba menyuap mereka untuk menjebakku dalam skandal fiktif. Dia tidak akan berhenti sampai dia menghancurkanku."

Maya menatap suaminya, menyadari bahwa pria di depannya ini bukanlah menantu lemah yang ia kenal, melainkan seseorang yang jauh lebih berbahaya. Namun, di balik pintu kamar, Pak Surya sedang menekan tombol panggil di ponselnya. Ia tidak akan menyerah; ia akan menghancurkan Aris sebelum fajar menyingsing.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced