Novel

Chapter 2: Jebakan di Map Biru

Aris berhasil memperoleh salinan asli valuasi tender yang belum dimanipulasi, sekaligus mengetahui bahwa Bram memecat staf dapur loyal sebagai tekanan dan menjual restoran ke pihak luar. Saat ia kembali ke ruang lelang, Bram membalas dengan tuduhan pencurian di depan investor dan memerintahkan satpam mengusirnya, tetapi Aris sudah membawa bukti yang cukup untuk membatalkan seluruh tender jika sempat mencapai podium.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Jebakan di Map Biru

Bau amis sisa ikan dan cairan pembersih lantai masih menggantung di ruang belakang Restoran Pusaka ketika Bram menutup pintu dapur dengan tumit sepatunya. Di meja stainless yang dingin, ia meletakkan amplop cokelat tebal seperti orang menaruh keputusan akhir di atas kuburan.

Aris tidak duduk. Ia berdiri di sisi meja, dengan map biru yang tadi sempat disentuh orang lain kini kembali masuk ke dalam genggamannya. Di luar, dari arah ruang lelang internal, samar terdengar suara kursi digeser dan batuk tertahan para pihak yang menunggu tender renovasi ditutup. Jamuan bisnis itu belum selesai. Tender belum jatuh. Dan di rumah yang dibangun dari nama besar keluarga itu, setiap menit telat bisa berarti aset berpindah tangan.

Bram menyandarkan bahu ke lemari piring, seakan dapur ini masih wilayah pribadinya. Setelannya terlalu rapi untuk ruang belakang yang lembap, jasnya tidak menempel sedikit pun pada bau minyak dan bawang. Ia mengangguk ke amplop di meja.

“Baca,” katanya.

Aris tidak bergerak.

Bram tersenyum tipis. “Atau aku bacakan di depan Maya dan ibumu. Surat cerai. Supaya jelas, malam ini kita selesaikan semuanya secara sopan.”

Di ujung meja, Maya membeku. Dari balik pintu kaca buram yang menghubungkan dapur dan koridor, wajahnya tampak pucat, riasannya masih rapi tetapi matanya sudah kehilangan ketegasan. Ia datang bersama Ratna dan beberapa staf ruang depan, lalu berhenti di ambang seolah langkah lebih jauh akan menjadikannya saksi resmi atas sesuatu yang tak bisa ditarik kembali.

Bram tahu itu. Karena itu ia sengaja bicara ke arah pintu.

“Selama ini aku diam karena menghormati keluarga,” lanjutnya. “Tapi kalau ada menantu yang menyusup ke ruang arsip, mengambil dokumen, lalu mengotori nama baik perusahaan, ya… keluarga juga punya batas.”

Aris menatapnya tanpa ekspresi. Tuduhan itu tidak baru. Yang baru hanya cara Bram memakainya: bukan sekadar untuk mengusir, tapi untuk menekan Maya di depan orang-orang yang penting. Jika Maya tunduk, surat cerai palsu itu akan jadi tali leher yang sah. Jika Maya menolak, reputasinya sendiri yang dibelah di depan investor.

Aris menggeser map biru ke sisi meja, cukup jauh dari tangan Bram. “Kau bicara soal batas, tapi yang kau lakukan barusan adalah memalsukan dokumen untuk menutup tender yang belum ditutup.”

Bram tertawa kecil, pendek dan tajam. “Kau masih main kata-kata? Kau kira orang-orang di luar itu peduli pada keluhan seorang suami numpang hidup?”

Ia mencondongkan tubuh sedikit. Suaranya turun, justru membuat ancamannya lebih mahal.

“Dengarkan baik-baik, Aris. Tanda tangan ini, keluar dari restoran, dan Maya masih punya sisa muka. Kalau tidak, aku akan baca surat cerai ini di depan semua orang, lalu bilang kau mencuri berkas tender. Aku juga akan minta satpam menggeledahmu. Di depan investor. Di depan Hendra. Di depan semua saksi yang kau pikir akan percaya padamu.”

Nama Hendra membuat Aris menoleh singkat. Jadi Bram memang sengaja mengunci ruang lelang bukan hanya untuk pamer, tapi untuk memastikan saksi yang tepat melihat versi ceritanya duluan.

Dari lorong, terdengar langkah cepat. Seorang staf administrasi menunduk dan menyelip masuk, wajahnya kusut seperti kertas yang diremas. Seno. Tangannya masih gemetar saat memegang map kosong.

Bram mengangkat dagu. “Kau terlambat.”

Seno menelan ludah. Ia tidak berani menatap Aris lama-lama.

Aris menangkap satu hal dari gerak tubuh itu: rasa takut yang bukan datang karena dirinya. Karena Bram. Seseorang yang terlalu takut biasanya tahu satu detail penting.

“Ke ruang admin,” kata Aris datar, lebih kepada Seno daripada Bram. “Sekarang. Jangan berdiri di sini kalau kau tidak mau ikut tenggelam.”

Seno ragu. Bram mengetukkan ujung jarinya ke meja, satu kali. Cukup.

Seno langsung pucat.

Aris melihatnya dan mengambil keputusan. Ia tidak akan mengalahkan Bram dengan emosi; Bram terlalu menikmati emosi orang lain. Yang dibutuhkan adalah jejak, bukan amarah.

“Beri aku salinan asli dokumen tender,” kata Aris pelan. “Yang belum disentuh.”

Seno tersentak. “Saya—”

“Kalau kau masih punya rasa aman, berarti kau masih punya akses.” Aris menatapnya tanpa mengancam. Itulah yang membuat Seno justru makin gelisah. “Aku tidak minta kau melawan Bram di depan semua orang. Aku minta satu salinan. Satu bukti bahwa angka 12 miliar itu bukan angka kerja, tapi angka buatan.”

Bram meluruskan punggung. Untuk pertama kalinya, senyumnya hilang sepenuhnya.

“Jadi ini rencanamu?” tanya Bram. “Menghasut staf kecil? Kau pikir map biru itu bisa menyelamatkanmu?”

Aris tidak menjawab. Ia memberi waktu dua detik pada Seno, cukup untuk memilih antara takut pada pekerjaan atau takut pada ledakan yang lebih besar jika tender itu lolos.

Seno akhirnya bergerak. Ia menyelinap ke meja administrasi kecil di pojok ruangan, membuka laci bawah dengan kunci cadangan yang disembunyikan di bawah tatakan gelas, lalu menarik satu amplop tipis berstempel merah. Tangannya bergetar ketika menyerahkannya pada Aris.

“Ini salinan register dan lembar valuasi yang keluar sebelum jam tutup,” bisiknya. “Setelah itu… Pak Bram suruh ganti. Dia bilang angka baru harus masuk ke map biru sebelum penawaran dibuka.”

Aris membuka amplop itu satu lapis saja. Di halaman depan, angka-angka yang tercetak rapi memantulkan lampu kantor yang dingin: nilai tanah, bangunan, peralatan, hak kelola. Semuanya dijumlahkan dengan cara yang terlalu bersih untuk pekerjaan yang benar. 12 miliar.

Terlalu murah. Terlalu tepat untuk jadi jebakan.

Di bawah tabel, ada tanda coretan kecil di margin kiri—catatan tangan penilai asli yang memperingatkan bahwa satu kali pemotongan pada komponen lahan bisa menggugurkan keseluruhan valuasi. Aris mengenali itu. Bukan karena ia sekadar pernah membaca laporan. Dulu, sebelum menjadi menantu yang dipanggil kalau perlu angkat kursi, ia pernah duduk di sisi lain meja lelang, menghitung angka sampai subuh, memeriksa cap, urutan lampiran, dan celah yang bisa dipakai orang curang untuk menelan aset keluarga yang sedang lemah.

Seno menatapnya takut-takut. “Saya tidak bisa lama.”

“Cukup.” Aris melipat kertas itu rapi dan memasukkannya ke balik map biru.

Di belakangnya, Bram meledak kecil. “Kau ambil dokumen kantor lalu pura-pura jadi ahli? Kamu pikir itu milikmu?”

Aris menoleh. “Kalau itu milikmu, kenapa kau panik saat aku baca angka aslinya?”

Bram melangkah maju. Tapi ia belum menyentuh Aris; ia tidak bodoh. Tangannya justru bergerak ke pintu. Dua satpam yang berjaga di lorong belakang sudah disiapkan sejak awal, seperti peralatan yang tinggal dipakai.

“Keluar dari ruang admin,” kata Bram. “Sekarang. Dan serahkan map itu sebelum aku anggap kau benar-benar mencuri.”

Seno mundur setengah langkah. Dari koridor, suara Maya terdengar sekali, nyaris tak jelas: “Bram, cukup—”

Namun kalimat itu putus sebelum selesai. Ada sesuatu dalam nada Maya yang tidak marah, melainkan takut. Aris menangkapnya. Jadi Maya memang tahu. Bukan semuanya, mungkin, tapi cukup untuk paham ada permainan yang lebih busuk dari sekadar rebutan kursi keluarga. Ia diam karena sedang dihimpit rasa malu dan ancaman yang sangat konkret: orang tua, nama keluarga, dan restoran leluhur yang sudah lama menjadi sumber wajah mereka di kota ini.

Itu justru membuat Bram lebih berbahaya. Ia tidak bekerja sendirian.

Aris melipat map biru dan menaruhnya di bawah lengan. “Kau menyebut aku pencuri, padahal yang kau lakukan adalah menjual restoran ini ke luar.”

Ruangan mendadak senyap.

Bram mengerjap sekali, cepat. Lalu bibirnya menegang. “Omong kosong.”

“Bukan.” Aris tetap tenang. “Aku sudah lihat nama perantara di belakang draft yang kau ubah. Orang luar. Bukan keluarga. Bukan orang dapur. Kau bukan hanya menurunkan nilai aset. Kau sedang menyiapkan penyerahan tanah di belakang tender ini.”

Seno memucat lebih dalam. Itu cukup. Aris tahu ia berada di jalur yang benar.

Bram mendekat setengah langkah lagi, suara dibuat lunak justru karena sedang menahan amarah. “Kau belum punya hak bicara soal itu. Keluar, atau aku panggil satpam.”

Aris tidak membalas. Ia sudah dapat yang dicari. Bukti cukup untuk memukul tender, tetapi belum cukup untuk mematahkan seluruh permainan. Masalahnya, Bram sudah mengubah medan. Dari ancaman surat cerai, ia naik ke tuduhan pencurian. Dari ruang belakang, ia bersiap membawa seretannya ke depan investor.

Aris menyimpan salinan itu di bagian dalam jaket. Saat ia melangkah keluar, dua staf dapur yang selama ini masih menyapanya dengan hormat berpapasan di lorong sempit. Salah satunya sempat menunduk, lalu langsung berhenti. Wajah mereka tidak lagi marah—mereka sudah dipotong dari daftar kerja.

Seorang di antara mereka berbisik, “Kami dipecat.”

Aris berhenti sepersekian detik. Cukup untuk menyalakan rasa bersalah, tapi tidak cukup lama untuk mengubah arah.

“Bram yang melakukannya?”

Mereka mengangguk. Tak perlu banyak kata. Dua pemecatan di tengah tender seperti ancaman yang sengaja dipakukan agar semua orang paham: siapa pun yang membantu Aris, nasibnya akan sama.

Aris menatap mereka dan mengerti biaya pertama dari bukti yang baru saja ia ambil. Ia akan punya leverage, tetapi orang-orang kecil yang diam-diam membantunya akan jadi tumbal.

Di ujung koridor depan, suara ruang lelang mulai terdengar lebih jelas. Palu kayu diketuk satu kali untuk memanggil perhatian. Jam penutupan tender masih belum lewat. Itu berarti Bram masih punya waktu untuk menanam tuduhan di depan investor sebelum dokumen Aris sempat dibaca.

Aris mempercepat langkah.

Ketika ia kembali ke lorong depan, panggung baru sudah berdiri.

Dua satpam berjaga di mulut pintu ruang lelang, menutup akses seperti pagar hidup. Investor duduk berjajar di kursi kulit gelap, beberapa menunduk ke ponsel, beberapa menatap meja panjang dengan ekspresi orang yang berharap urusan ini cepat selesai. Hendra ada di ujung kanan, kacamata tipisnya memantulkan lampu gantung. Di kursi keluarga, Ratna duduk kaku dengan bibir tipis. Maya berada di sisi lain meja, tangan terkepal di pangkuan, seolah mencoba menahan tubuhnya agar tidak berlari.

Bram berdiri di depan mereka, persis seperti orang yang merasa semua sudah selesai.

Begitu melihat Aris, ia mengangkat suara tanpa perlu berteriak. “Itu dia. Tahan dia.”

Satu satpam menoleh. Yang lain langsung maju.

“Dia mengambil dokumen tender dari ruang admin,” Bram berkata kepada ruangan. “Saya minta keamanan menggeledahnya. Kalau ada yang hilang dari map biru, kalian tahu kenapa.”

Mata investor bergerak cepat. Tuduhan itu terlalu spesifik untuk diabaikan, terlalu rapi untuk dianggap salah paham. Dan itulah yang Bram andalkan: bukan bukti, melainkan tempo. Jika ia bisa membuat Aris tampak seperti penyusup sebelum map itu dibuka, maka semua orang akan sibuk dengan etikanya, bukan dengan angka di dalamnya.

Aris berhenti di ambang pintu. Ia tidak mundur. Ia justru mengangkat map biru setinggi dada.

“Kalau aku mencuri,” katanya tenang, “kenapa salah satu salinan ini justru punya catatan asli penilai dan urutan lampiran yang tidak ada di draft kalian?”

Bram memotong, “Itu map kantor. Dia menyelundupkannya keluar!”

Aris memandang Hendra. “Pak Hendra, Anda yang menerima dokumen tender. Tolong lihat stempel dan nomor arsipnya. Ada satu halaman yang sengaja diganti setelah jam tutup.”

Hendra belum menjawab. Ia mencondongkan tubuh sedikit, matanya tidak lepas dari map itu. Bukan tatapan orang awam. Tatapan orang yang menangkap kejanggalan sebelum orang lain sadar ada yang bengkok.

Satu investor di tengah meja mengernyit. “Apa maksudnya diganti?”

Bram langsung memotong sebelum pertanyaan itu tumbuh. “Dia berusaha mengacaukan proses. Dia menuduh kita curang karena ketahuan melanggar prosedur rumah tangga.”

Maya tersentak mendengar kata itu. Ia menatap Bram, lalu Aris, dan pada detik yang sama Aris melihatnya: Maya tahu lebih dari yang dikatakan wajahnya. Bukan hanya soal surat cerai palsu. Bukan hanya soal tekanan pada dapur. Ia tahu ada orang luar yang terlibat dalam rencana menjual tanah restoran. Dan ia takut, karena jika bicara, ia bukan hanya melawan Bram—ia akan memutus sisa perlindungan keluarganya sendiri.

Aris menahan napas pendek, lalu membuka map biru itu satu halaman.

Belum sempat ia melangkah lebih jauh, Bram memotong jalannya dengan tubuh satpam. “Cukup. Tangkap dia.”

Perintah itu keluar tajam, dingin, dan sangat final.

“Dia mencuri dokumen kantor,” kata Bram, sambil menunjuk lurus ke Aris. “Usir dia sekarang.”

Dua satpam bergerak serentak.

Aris memindahkan map ke tangan kiri, menahan langkah, dan mengangkat lembar valuasi yang ditandai dengan jari kanan. Di atas podium lelang, palu kayu belum jatuh. Di depan investor, Bram masih merasa menang. Tetapi Aris sudah melihat celah yang cukup besar untuk membalik seluruh tender jika ia bisa mencapai podium itu satu menit lagi.

Satu langkah.

Dua satpam itu sudah dekat.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced