Sisa Nasi di Piring Mertua
Bau rempah aromatik yang seharusnya menjadi kebanggaan Restoran Pusaka kini terasa menyesakkan bagi Aris. Ia berdiri di sudut ruang VIP, memegang lap kain dengan jemari yang stabil—bukan karena tunduk, melainkan karena menahan amarah yang terukur. Di meja bundar kayu jati itu, Nyonya Ratna, mertuanya, tengah tertawa renyah, memamerkan proposal tender renovasi restoran kepada calon investor. Di sampingnya, Bram duduk dengan setelan jas yang harganya setara dengan biaya operasional dapur selama sebulan, memancarkan aura pemenang yang angkuh.
“Aris, jangan bengong saja. Bersihkan tumpahan kuah itu sebelum noda tersebut merusak pemandangan klien kami,” perintah Nyonya Ratna tanpa menoleh. Suaranya dingin, seolah Aris hanyalah perabot yang baru saja bergeser posisi.
Bram tertawa kecil, melirik Aris dengan tatapan meremehkan. “Biarkan saja, Bu. Menantu kesayangan kita ini memang lebih ahli memegang lap daripada memegang aset bisnis. Lagipula, tugasnya di keluarga ini memang hanya untuk memastikan meja tetap bersih, bukan untuk ikut memikirkan angka-angka di tender besar.”
Maya, yang duduk di ujung meja, hanya menunduk. Ia meremas ujung gaunnya, tidak berani melirik suaminya. Aris tetap tenang. Ia mendekat, menyeka tumpahan kuah dengan gerakan presisi yang tidak meninggalkan bekas. Saat ia berjongkok, matanya tertuju pada map biru yang terbuka di samping piring Bram. Dokumen itu adalah draf valuasi aset restoran yang selama ini dirahasiakan.
Di balik gemerincing sendok perak, Aris memanfaatkan setiap detik saat Bram berdiri untuk menyambut tamu lain di meja seberang. Bram meninggalkan map biru itu terbuka di atas kursi kosong. Aris bergerak cepat—bukan sebagai pelayan yang kikuk, melainkan sebagai seorang profesional yang sedang melakukan audit kilat. Matanya menangkap baris angka di halaman ketiga. Valuasi aset: 12 miliar.
Otak Aris bekerja cepat. Ia tahu nilai pasar properti di kawasan ini, dan angka 12 miliar adalah manipulasi kasar. Restoran itu seharusnya bernilai tiga kali lipat. Jika angka ini yang diajukan dalam tender, berarti ada skema pengalihan aset ilegal yang sedang berjalan. Kehancuran restoran leluhur bukan sekadar risiko, melainkan tujuan utama dari tender yang dipimpin Bram.
Aris baru saja menutup map biru itu ketika suara kursi diseret keras. Bram kembali dengan senyum tipis yang terlalu rapi. Jasnya tetap mulus, tapi matanya langsung tajam ke arah tangan Aris.
“Kenapa dokumen tender ada di tanganmu?”
Pertanyaan itu dijatuhkan cukup keras agar terdengar oleh Hendra, investor yang masih berdiri di dekat pintu ruang jamuan, oleh Maya yang menegang di kursi, dan oleh dua satpam restoran yang menoleh serempak dari ambang dapur.
Aris tidak buru-buru menjawab. Jemarinya menekan tepi map, menahan satu lembar yang sudah ia tandai dengan ujung kuku—bukti valuasi palsu yang akan menjadi senjata pamungkasnya nanti.
Nyonya Ratna memandangnya dengan tatapan jijik. “Lihat,” katanya dingin. “Sudah kubilang. Kalau dibiarkan duduk di sini, nanti dia mengira meja keluarga ini miliknya.”
Bram mendekat setengah langkah, cukup dekat untuk mengunci ruang gerak, cukup jauh untuk tetap tampak sopan. “Aris, kalau kamu ingin cari kerja, jangan ambil berkas dari meja orang lain. Di restoran ini kami tidak butuh pencuri yang menyamar jadi menantu.”
Itu tuduhan yang sengaja dipilih untuk menjatuhkannya di depan publik. Namun, saat satpam melangkah mendekat dan tuduhan pencurian mengudara, Aris justru menegakkan punggungnya. Ia tidak lagi melihat Bram sebagai ancaman, melainkan sebagai orang bodoh yang baru saja memegang bom waktu. Aris tahu, satu lembar kertas di tangannya bukan hanya bukti manipulasi, tapi kunci untuk meruntuhkan seluruh dominasi keluarga yang selama ini menginjak-injak harga dirinya.