Pembalikan di Ruang Lelang
Lobi marmer itu dingin, namun keringat dingin yang membasahi pelipis satpam di hadapan Aris terasa nyata. Dua pria berseragam itu memblokir akses, tangan mereka menekan dada Aris, menuntut map biru yang ia pegang sebagai bukti pencurian. Di balik pintu kaca, suara presentasi Bram terdengar tenang, penuh tipu daya: "Nilai aset Restoran Pusaka sudah final. Dua belas miliar. Efisien. Realistis."
Aris tidak bergeming. Ia tidak membalas dengan teriakan, melainkan dengan ketenangan yang membuat satpam itu justru merasa terintimidasi. "Kalian dibayar untuk menjaga keamanan, bukan untuk menjadi anjing penjaga penipuan," ucap Aris datar.
Dari arah samping, Maya muncul. Wajahnya pucat pasi saat melihat suaminya dikepung. Ia ingin mendekat, namun kakinya seolah terpaku oleh rasa takut akan penghakiman keluarga besarnya. Nyonya Ratna menyusul di belakang, langkahnya mantap, wajahnya sedingin es. "Bawa dia keluar. Jangan biarkan sampah ini mengotori tender keluarga," perintahnya tanpa melirik Aris.
Aris mengeluarkan kartu akses tamu dari saku. Ia tidak mengibaskannya, hanya membiarkan cahaya lobi memantul di permukaannya. "Kartu ini diberikan oleh Hendra. Masih aktif. Masih sah."
Nyonya Ratna menyipitkan mata. "Hendra tidak punya wewenang—"
"Maka tanyakan padanya kenapa akses ini masih terbuka," potong Aris. Ia menempelkan kartu ke pemindai. Bip. Lampu hijau menyala. Satpam itu mundur selangkah, bingung. Aris melangkah masuk, meninggalkan Nyonya Ratna yang kini harus menelan amarahnya di depan staf.
Di dalam ruang lelang, suasana terasa sesak. Bram berdiri di podium, senyum kemenangannya melebar saat melihat Aris masuk. "Ah, tamu tak diundang datang untuk mempermalukan dirinya sendiri? Keamanan, keluarkan dia!"
Dua petugas keamanan mendekat. Maya menahan napas. Namun, Aris tidak berhenti. Ia berjalan lurus menuju podium, mengabaikan petugas yang ragu karena melihat ketenangan Aris. Ia berhenti tepat di depan Bram.
"Kalau saya pencuri, Bram, kenapa Hendra membiarkan saya masuk?" Aris membuka map biru. Ia meletakkan lembar valuasi asli di atas podium, tepat di samping dokumen palsu Bram. "Ini angka dua belas miliar yang kau banggakan. Dan ini, catatan penilai asli yang kau coba sembunyikan."
Bram tertawa, meski suaranya sedikit bergetar. "Fotokopi? Kau pikir ini bisa membatalkan tender?"
"Lampiran tiga," balas Aris tenang. "Di dokumenmu, itu berisi penyesuaian nilai tanah. Di dokumen asli, itu adalah catatan survei lapangan yang membuktikan tanah ini bernilai tiga kali lipat. Kau menjual aset keluarga ke pihak luar, Bram. Dan kau melakukannya dengan tanda tangan palsu."
Ruangan mendadak sunyi. Investor utama, pria paruh baya dengan kacamata tipis, berdiri. Ia mendekati podium, matanya memicing ke arah dokumen yang disodorkan Aris. Hendra, yang berdiri di sisi registrasi, mengangguk pelan. "Saya mengenali pola lampiran ini. Versi yang Bram ajukan memang tidak cocok dengan arsip asli."
Bram pucat pasi. "Ini fitnah!"
"Bukan fitnah jika ada audit," sahut Aris. Ia menatap investor utama. "Jika tender ini dilanjutkan dengan valuasi palsu, seluruh struktur keluarga akan terseret dalam investigasi hukum. Apakah Anda siap menanggung risikonya?"
Investor utama menoleh ke arah Bram, lalu ke arah Nyonya Ratna yang berdiri di pintu dengan tangan gemetar. "Tunda penandatanganan. Saya ingin pemeriksaan ulang lengkap. Sekarang juga."
Bram terhuyung mundur. Kemenangan yang ia bangun selama berbulan-bulan runtuh dalam hitungan detik. Aris berdiri tegak, menatap podium yang kini menjadi miliknya. Ia tidak lagi menjadi menantu yang bisa dibuang; ia adalah pusat gravitasi baru yang memaksa semua orang untuk menatapnya.
"Sekarang," Aris menatap Bram dengan dingin, "jelaskan pada mereka kenapa tanda tangan penilai di dokumenmu berbeda dengan aslinya."