Novel

Chapter 9: Chapter 9

Arga ditolak resmi dari ruang verifikasi di koridor VIP rumah sakit, tetapi ia membongkar ketidaksesuaian cap arsip, metadata pengiriman, dan jejak Mira yang menunjukkan serangan Tara dipalsukan. Nadine memberinya petunjuk bahwa Hendra Kusuma ada di balik skema, lalu Hendra mengirim pesan penyelesaian yang terlalu rapi. Scene berakhir dengan audit internal mulai aktif dan Arga sadar ia sudah dekat dengan sumber uang yang lebih besar dari Tara. Arga pulang ke rumah lama keluarga untuk mengejar berkas yang tak pernah disimpan di rumah sakit, dengan waktu yang terus menipis menuju audit internal. Di bawah bunyi mesin jahit tua dan kain ukur yang tergantung kaku di gudang, ia menemukan lembar ledger yang disobek rapi di bagian tengah—tepat di halaman yang memuat biaya pemindahan pasien, nama pengantar dokumen, dan satu entri yang disamarkan seolah tidak penting. Potongan angka itu membuka pola yang lebih gelap: biaya perawatan yang tidak masuk akal, pengiriman malam, dan satu nomor kamar yang mengarah ke kematian lama yang tidak cocok dengan berita resmi. Mira muncul lewat pesan pendek, bukan untuk ceramah, tetapi untuk mengonfirmasi bahwa jalur itu pernah dia lihat di log valuer internal sebelum ia disingkirkan. Arga tidak mendapat seluruh file, hanya pecahan yang cukup untuk membuktikan ada orang yang sengaja memotong sejarah. Saat ia mencoba menyusun halaman sobek itu, Nadine menelepon dan terdengar lebih sunyi dari biasanya; ia mengaku Tara baru saja mengumbar foto ledger di ruang rapat kaca untuk mematahkan Arga lewat malu keluarga, tapi yang membuatnya goyah adalah satu nama yang tampak di balik skema, sebuah nama yang belum sempat ia ucapkan dengan lantang. Arga menerobos masuk ke ruang rapat kaca rumah sakit dengan bukti yang mematahkan bantahan Dr. Raka: jalur dokumen dipindah dua kali, tanda tangan di belakang berkas penilaian palsu, dan log waktu Mira mengaitkan semuanya ke skema yang disengaja. Nadine melihat jelas bahwa kemenangan Arga sudah menyeret nama Wiratama ke audit penuh dan memilih diam yang jujur daripada loyalitas buta. Tara menyerang lewat ledger tua, tetapi Arga membongkar bahwa foto itu justru mengarah ke jalur uang dan kematian yang disembunyikan. Di akhir, Hendra Kusuma menghubungi Arga dengan tawaran penyelesaian yang terlalu rapi, menandakan lawan yang lebih tinggi sudah turun tangan tepat saat audit internal membuka nama yang tak bisa diputar balik tanpa menjatuhkan orang di atas Tara. Arga keluar dari ruang rapat kaca dengan bukti yang masih tidak utuh, lalu menerima pesan dari Mira dan foto ledger tua dari Nadine yang menghubungkan catatan biaya lama ke kematian yang disembunyikan. Tara sudah menghapus akses resmi Arga dan menyeret keluarga Wiratama ke jalur audit, tetapi serangan reputasi justru membuka jejak ke rumah lama dan sumber uang. Saat Arga menelusuri ledger sobek di mobil, Hendra Kusuma menelepon dengan tawaran penyelesaian yang terlalu rapi, menandakan lawannya sudah naik kelas dan tahu Arga hampir mencapai sumber paling mahal.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Chapter 9

Koridor VIP yang Menekan

Lampu koridor VIP itu terlalu putih untuk menyembunyikan apa pun. Arga berdiri tepat di luar ruang verifikasi dengan kartu akses yang sudah mati di tangan, sementara di layar kecil panel pintu, namanya turun dari daftar tamu ke status abu-abu: dicabut resmi. Di dalam, suara sepatu Tara berputar di atas lantai marmer, lalu pintu kaca ruang rapat ditutup rapat di depan wajahnya—bukan dibanting, justru ditutup pelan, seperti menutup rekening.

Aroma ruang itu campuran parfum mahal, disinfektan, dan panic kering yang hanya muncul saat orang-orang berduit mulai takut audit. Seorang staf verifikasi berseragam krem menatap Arga tanpa berani lama-lama. "Pak, saya minta maaf. Sistem sudah sinkron. Bapak tidak punya otorisasi masuk ke ruang rapat maupun arsip." Suaranya kecil, tapi kalimatnya resmi. Kalimat yang bisa mengubah orang jadi pengganggu dalam satu napas.

Arga tidak bergerak. Di tangannya, map tipis berisi foto halaman belakang berkas penilaian, salinan metadata pengiriman, dan satu lembar log waktu dari Mira yang baru saja ia cocokkan. Fokusnya bukan pada wajah-wajah di depan kaca, melainkan pada detail yang salah: cap arsip di foto Tara terlihat tanggalnya dua hari lebih tua daripada metadata lampiran. Jalur dokumen itu tidak mungkin berasal dari ruang rapat ini. Seseorang memindahkannya dua kali.

Pintu ruang rapat dibuka kembali. Tara Wiratama keluar dengan tenang yang dipelajari, wajahnya rapi, suara langkahnya tidak tergesa. Di belakangnya, layar proyektor kaca menampilkan foto besar ledger tua—halaman yang ia sebarkan ke para petinggi rumah sakit seperti senjata yang sudah lama disimpan. Nama tua di halaman itu cukup untuk membuat beberapa orang di balik kaca saling melirik. Bukan karena dramanya, melainkan karena kaitannya ke skema rumah sakit yang tak seharusnya ada di tangan keluarga.

"Masih mau berdiri di sana, Arga?" Tara tidak meninggikan suara. Ia tidak perlu. "Kamu sudah dicoret dari akses tender, arsip, dan ruang rapat. Sekarang tinggal tunggu hasil audit. Kalau kamu mau menyelamatkan sedikit muka Nadine, mundur saja."

Nadine berdiri setengah langkah di belakang Tara. Tangannya memegang ponsel, tetapi ia tidak menekan apa pun. Wajahnya tegang, bukan karena takut pada Arga, melainkan karena sadar bahwa apa pun yang diselamatkan hari ini akan menyeret nama Wiratama ke meja pemeriksaan. Arga melihat itu sekilas dan mengerti: Nadine tidak lagi netral. Ia hanya belum memilih suara.

Tara mengangkat foto ledger itu sedikit lebih tinggi, membiarkan para staf melihat nama lama yang tertulis di balik skema. "Kalau kamu pikir catatan penilaianmu bisa menutupi ini, kamu salah kamar."

Arga melangkah mendekat satu langkah. Tidak agresif. Cukup dekat untuk membuat Tara menahan napas sepersekian detik. "Kamu salah baca tahun," katanya datar. Ia menunjuk foto di layar, lalu jari telunjuknya turun ke cap arsip yang diperbesar. "Cap ini dari minggu lalu, tapi ledger yang kamu pamerkan sudah dipindah sebelum revisi nomor tiga. Dan ini—" ia mengangkat salinan metadata—"diunggah dari terminal yang cuma dipakai ruang verifikasi internal, bukan ruang rapat kaca."

Staf verifikasi menatap layar, lalu menatap Tara. Satu orang di ujung koridor buru-buru menurunkan ponselnya. Tidak ada sorakan, tidak ada keributan. Hanya perubahan kecil yang jauh lebih berbahaya: orang-orang mulai menghitung siapa yang berbohong.

Arga membuka satu halaman lagi. Di sana ada jejak akses Mira Sanjaya, jam masuk file, dan notasi valuer internal yang sengaja dipotong dari salinan resmi. "Kalau foto ini dipakai untuk menekan saya, kamu harusnya pastikan jalurnya bersih. Tapi cap arsipnya disinkronkan belakangan. Seseorang menambal bukti setelah dokumen bergerak."

Tara menatapnya, dan untuk pertama kalinya garis rahangnya mengeras. Ia tahu Arga sudah menemukan celah yang lebih mahal daripada sekadar aib keluarga. Celah itu mengarah ke sumber uang, ke jalur dokumen, ke sesuatu yang tidak bisa lagi ditutup dengan wajah dingin di koridor rumah sakit.

Nadine akhirnya bergerak. Ia mendekat setengah langkah, cukup untuk menyelipkan sebuah foto ke tangan Arga tanpa menantang Tara secara terbuka. Di sudut gambar itu, samar tapi jelas, ada nama Hendra Kusuma tercetak di belakang skema—bukan sebagai nama besar di depan, melainkan sebagai cap kecil pada rantai distribusi biaya. "Aku tidak bisa bicara lebih jauh di sini," bisiknya, nyaris tak terdengar. "Tapi Tara tidak main sendiri."

Baru Arga sempat menutup jari di atas foto itu, ponselnya bergetar. Satu pesan masuk, nomor tak dikenal. Hanya satu baris:

Hendra Kusuma turun tangan. Penyelesaiannya bisa dibuat rapi malam ini. Jangan paksa aku menunggu sampai kamu pegang sumber yang paling mahal.

Arga menatap layar, lalu ke foto ledger sobek di tangannya. Ia sudah tahu sekarang: ini bukan arsip biasa. Ini jejak biaya yang menempel pada kematian yang disembunyikan. Dan jika Hendra sudah bicara, berarti seseorang di atas Tara sudah mengendus bahwa Arga tinggal selangkah dari sumber uang yang bisa menjatuhkan lebih dari satu nama.

Di balik kaca, alarm audit internal mulai menyala di panel status. Satu nama di lembar penilaian itu segera bisa membalik semua.

Dan untuk pertama kalinya malam ini, koridor VIP yang semula hendak mengusir Arga justru terasa seperti tempat di mana orang lain bisa kehilangan kursinya.

Rumah Lama, Halaman Sobek

Arga mendorong pintu rumah lama Wiratama dengan bahu, napasnya masih pecah oleh hujan. “Berkas itu harus ada di sini,” gumamnya, langsung menuju lemari kayu ruang kerja yang sudah lama tak dibuka. Di belakangnya, ponsel bergetar bertubi-tubi: nama Tara.

Telepon itu ia abaikan. Ia merobek map kusam di laci bawah, lalu jari-jarinya membeku saat menemukan sehelai halaman ledger yang sobek tepat di tengah angka biaya. Ada catatan biaya rumah sakit yang disamarkan, lalu satu baris nama yang sengaja dipotong—nama yang membuat dadanya jatuh.

“Bukan arsip biasa,” bisiknya.

Di layar, pesan dari Nadine masuk: jangan pulang ke kantor dulu. Seseorang sudah melihatmu di sana.

Arga mengangkat kertas itu ke lampu, menyadari potongan halaman ini mengarah ke sumber bukti yang jauh lebih mahal daripada sekadar tender. Dan di luar rumah, suara mobil berhenti. Tara datang. Nadine mulai tidak netral.

Arga segera menyelipkan lembar sobek itu ke balik dompet, lalu menggeser kursi dan mematikan lampu ruang kerja. Dalam gelap, ia mendengar langkah sepatu perempuan dari teras, tegas dan tanpa ragu.

Pintu depan terbuka sebelum ia sempat beranjak.

Tara masuk dengan senyum tipis yang tak sampai ke mata. “Masih main kejar-kejaran berkas, Arga? Atau kali ini kamu cari siapa yang bakal disalahkan?”

Arga menahan napas, pandangannya cepat ke arah ruang tamu. Tidak ada Nadine. Bagus. Buruk juga.

“Tutup pintunya,” katanya pelan.

Tara tak bergerak. “Tidak usah pura-pura berkuasa di rumah ini. Namamu sudah cukup membuat orang bicara.”

Arga meremas kertas di sakunya. Potongan ledger itu bukan sekadar catatan—itu jejak yang bisa membuka harga sebuah kematian, dan siapa yang membayar untuk menutup mulut. Di layar ponselnya, pesan Nadine muncul lagi: Aku di jalan. Jangan percaya siapa pun di rumah.

Arga melangkah ke meja tua, membuka map lusuh yang baru saja ia temukan di laci bawah. Jarinya berhenti saat melihat satu halaman sobek terselip di belakang kuitansi lama. Bukan nomor tender, bukan daftar biasa—ada kode biaya, tanda tangan dokter, dan satu nama yang dicoret paksa: orang yang dulu “resmi” dinyatakan meninggal.

Tara menyipit. “Itu dari siapa?”

“Dari rumah ini,” jawab Arga pendek.

Ia menyusun potongan ledger di atas meja. Dua sobekan saling mengunci, lalu angka-angka yang hilang mulai terbaca: biaya kamar, transfer bayangan, dan jalur pembayaran ke yayasan lama keluarga Wiratama. Lebih mahal dari proyek, lebih rapi dari suap.

Pintu depan berderit. Nadine masuk, napasnya cepat, wajahnya tegang saat melihat halaman itu. “Arga… jangan sentuh nama itu.”

Arga menoleh. Kini ia paham: halaman sobek ini bukan arsip biasa, melainkan jejak menuju bukti yang jauh lebih mahal dari sekadar tender—dan untuk pertama kalinya, Nadine tampak tidak netral sama sekali.

Arga menahan lembar itu lebih rapat di telapak tangan. “Kenapa?”

Nadine melangkah mendekat, matanya menyapu sobekan kecil di pinggir halaman, lalu langsung ke wajah Arga. “Karena kalau itu keluar, bukan cuma nama yang jatuh.”

Dari ruang dalam, terdengar suara langkah cepat—Tara.

“Masih di sini?” suara Tara tajam dari ambang pintu, telepon di tangan. “Bagus. Aku sudah kirim orang lama untuk cek rumah sakit, dan satu hal lagi—keluarga kita tidak akan membiarkan Arga main gali kubur.”

Arga berdiri. Tangannya gemetar, tapi bukan karena takut. Di halaman sobek itu, satu nama yang sengaja disamarkan kini terasa seperti kunci ke sesuatu yang jauh lebih besar dari tender, lebih mahal dari uang. Dan ketika Nadine menutup setengah tubuhnya di depan meja, Arga tahu: ia sudah menemukan bukti, dan mereka berdua mulai memilih kubu.

Arga meraih sisa lembar itu, menyisir tepi sobekan dengan mata tajam. Nomor-nomor biaya yang dipelintir itu bukan catatan proyek; itu jalur dana yang dipaksa masuk ke pos lama, pos yang namanya berulang di berkas kematian lima tahun lalu. “Ini bukan arsip biasa,” gumamnya.

Tara tertawa pendek dari telepon speaker. “Kau pikir kalau dapat selembar kertas, kau bisa sentuh keluarga Wiratama?”

Nadine menoleh cepat. Wajahnya pucat, lalu mengeras. Ia menutup telepon tanpa menunggu jawaban Tara. “Arga, jangan lanjut,” katanya pelan, tapi kali ini nadanya tidak netral.

Arga mengangkat halaman sobek itu. “Ini bukan soal tender.”

Matanya jatuh ke satu cap basah di sudut belakang—stempel rumah sakit lama, tersamarkan rapi. Dan dari jejak itu, Arga paham: sumber bukti yang ia cari jauh lebih mahal, jauh lebih berbahaya, daripada sekadar proyek.

Pintu Kaca yang Mulai Retak

Pukul 10.17, saat papan audit di lobi eksekutif berubah merah untuk kedua kalinya, Arga sudah berdiri di depan ruang rapat kaca rumah sakit dengan map tipis yang basah oleh hujan dan jari yang tidak gemetar. Dua staf keamanan memotong jalannya tanpa menyentuhnya, cukup dengan tubuh, cukup dengan tatapan yang mengatakan ia masih orang yang sama seperti kemarin: menantu yang dipindahkan dari meja ke koridor.

“Maaf, Pak. Nama Anda sudah dicabut dari akses rapat, arsip, dan tender,” kata salah satu staf, datar seperti membaca resep.

Arga mengangkat kartu visitor sekali pakai yang baru saja diselipkan Mira ke tangannya lewat bagian farmasi. Kartu itu bukan izin besar. Cuma celah. Cukup untuk satu pintu, satu menit, satu kesalahan pihak dalam.

“Kalau akses saya dicabut,” ujar Arga, suaranya rendah, “bagus. Berarti yang di dalam sekarang sedang takut pada kertas.”

Staf itu ragu sepersekian detik. Arga tidak menunggu. Ia menyelip melewati celah ketika pintu kaca terbuka otomatis untuk Dr. Raka Mahendra yang keluar dengan wajah tertutup ketegangan mahal—rapi, bersih, tapi ada noda panik di sudut matanya.

Raka menahan pintu dengan satu tangan. “Kalau Anda datang untuk mengacau lagi, saya punya alasan memanggil satpam.”

“Tidak perlu.” Arga mengangkat map tipis itu. “Saya datang untuk menghemat waktu Anda. Audit internal mulai jam sebelas. Dan sebelum itu, Anda masih sempat memilih apakah mau menutup ini sendiri atau saya buka di ruang rapat.”

Raka melirik map itu. Bukan dengan percaya diri, melainkan seperti dokter yang melihat hasil lab yang seharusnya tak ada.

Mereka masuk bersama—bukan sebagai tamu dan tuan rumah, melainkan dua orang yang sama-sama sadar satu kursi sudah mulai retak. Ruang rapat kaca itu menghadap koridor VIP; dari luar, bayangan staf bergerak cepat, papan tender berkedip, dan nama Wiratama masih bertahan di daftar verifikasi sementara.

Nadine sudah ada di ujung meja. Wajahnya tenang, terlalu tenang. Di depannya tergeletak satu lembar foto yang baru dicetak dari ponsel Tara: ledger tua, kulit sampulnya sobek, halaman di dalamnya menguning, dan satu nama asing diberi lingkaran hitam tebal di belakang skema rumah sakit.

Tara belum muncul, tapi tangannya terasa di ruangan itu. Cara ia selalu begitu: masuk tanpa tubuh, meninggalkan tekanan.

“Ini?” Raka mencoba tersenyum. Gagal. “Foto lama. Tidak relevan dengan tender.”

Arga membuka map dan menaruh tiga lembar di atas meja, tidak tergesa. Satu log waktu dari Mira. Satu catatan valuer internal. Satu salinan halaman belakang berkas penilaian dengan tanda tangan palsu atas namanya.

“Yang tidak relevan,” kata Arga, “biasanya tidak punya cap arsip rumah sakit di dua tempat berbeda.”

Ia menekan jari di titik pertama. “Lampiran dipindah dua kali. Bukan sekali. Jadi ada tangan yang sengaja memisahkan jalur dokumen dari isi penilaian.” Jari kedua ke tanda tangan. “Ini bukan tangan saya. Bahkan huruf ‘g’-nya dipotong. Orang yang membuat ini tahu saya tidak akan memakai gaya tanda tangan itu.” Jari ketiga ke log waktu. “Dan ini bukan kebetulan. Mira masuk ke sistem dua menit sebelum revisi nomor tiga diunggah. Artinya dokumen dipaksa ke jalur yang sudah disiapkan.”

Raka menelan ludah. “Anda menuduh tanpa dasar.”

“Dasarnya ada di meja Anda.”

Nadine akhirnya bergerak. Tangannya meraih foto ledger itu, lalu berhenti setengah jalan, seperti takut sidik jarinya ikut bicara. “Tara bilang nama di belakang skema itu bukan orang rumah sakit.”

“Dia benar,” Arga berkata. “Orangnya bukan rumah sakit. Orangnya pemodal. Dan pemodal itu sudah masuk ke jalur uang lebih lama dari tender ini.”

Raka menegakkan punggung, mencoba kembali ke bahasa prosedur yang biasa menyelamatkan orang seperti dia. “Kalau Anda tetap memaksa, saya bisa minta verifikasi ulang total. Semua berkas ditahan.”

“Sudah terlambat,” jawab Arga. “Tendernya sudah ditunda. Status board sudah berubah. Nama Wiratama sudah masuk audit. Anda bukan menahan berkas. Anda sedang menahan diri supaya tidak ada yang membuka hubungan antara biaya lama dan kematian yang Anda sembunyikan.”

Ruangan itu diam. Nadine memejam sebentar, lalu membuka mata. Dalam diamnya, Arga menangkap sesuatu yang lebih berbahaya daripada pembelaan: ia tidak lagi netral. Ia sedang menghitung siapa yang akan jatuh bila ia bicara.

Ponsel Arga bergetar. Satu pesan masuk, nomor tak tersimpan.

Hendra Kusuma: Kita bisa selesaikan ini rapi. Serahkan salinan ledger, hentikan audit, dan saya pastikan nama Anda tidak ikut terbakar.

Di bawah pesan itu, ada lampiran foto lain: satu lembar penilaian yang sudutnya sudah dibuka, memperlihatkan nama yang belum sempat Arga cocokkan—nama yang terlalu tinggi untuk dijatuhkan tanpa menyeret Tara, Raka, dan lebih banyak orang ke bawah bersamanya.

Arga menatap layar, lalu ke foto ledger di meja. Ia tahu sekarang: ini bukan arsip biasa. Ini jejak biaya, jejak kematian, dan jejak orang yang sudah menunggu dari atas papan.

Di luar ruang rapat, papan audit berbunyi lagi. Satu nama muncul, lalu menepi. Lembar penilaian di tangannya menjadi jauh lebih berat daripada tadi.

Dan saat audit internal resmi dimulai, satu nama di berkas itu membuat seluruh skema tak lagi bisa diputar balik tanpa menjatuhkan orang yang lebih tinggi dari Tara.

Chapter 9 - Telepon dari Papan yang Lebih Tinggi

Arga baru menjejakkan kaki di luar ruang rapat kaca ketika layar ponselnya menyala lagi. Di belakangnya, pintu otomatis menutup pelan, memantulkan lorong VIP rumah sakit yang harum mahal—disinfektan, parfum staf, dan sisa ketegangan orang-orang yang takut nama mereka terseret audit. Di tangan kirinya masih ada berkas penilaian yang sobek di sudut, cukup untuk membuat siapa pun di dalam ruangan tadi diam, tapi belum cukup untuk menutup semua lubang.

Di dalam ruangan, Tara baru saja mengumumkan bahwa akses Arga dicabut dari sistem tender, arsip, dan daftar hadir rapat. Itu bukan sekadar penghinaan. Itu pemutusan hak bicara di depan mata orang-orang yang tadi pura-pura netral. Sekarang status board di ujung koridor benar-benar menunjukkan penundaan verifikasi ulang, dan nama Wiratama bergeser ke jalur audit. Arga melihat itu sekilas sebelum layar ponselnya bergetar lagi: panggilan dari nomor tak dikenal.

Ia menahan langkah. Nadine muncul dari balik kaca, wajahnya tipis dan tegang seperti kertas yang nyaris sobek. Ia tidak mendekat, tidak membela siapa pun; justru itu yang membuatnya lebih berbahaya. Di tangannya ada ponsel lain, layar menyala pada foto lama: sebuah lembar ledger tua, pinggirannya menguning, dengan cap arsip yang tahun stempelnya tidak cocok. Di sisi kanan foto itu, nama yang samar tapi masih terbaca: Hendra Kusuma.

“Kalau ini lanjut, semua orang lihat bukan cuma tender yang kotor,” kata Nadine pelan. Suaranya tidak memohon. “Nama keluarga kita ikut dibuka.”

Arga menatap foto itu sebentar, lalu ke wajah istrinya. Ia tidak mencari ampun di sana; yang ada hanya keputusan yang belum selesai. “Kau baru sadar?”

Nadine mengatupkan rahang. Ia menggeser foto kedua—lebih tajam, hasil jepretan dekat dari kertas sobek yang ia ambil diam-diam dari rumah lama. Di sana ada catatan biaya lama, jumlah yang disamarkan sebagai ongkos perawatan, namun selaras dengan tanggal kematian yang selama ini tak pernah cocok dengan cerita resmi. Arga langsung menangkap pola itu: satu jalur uang, satu catatan biaya, satu nama pasien yang seharusnya sudah selesai dikubur bersama versi resmi.

Sebelum ia sempat bertanya lebih jauh, ponselnya berhenti bergetar dan masuk notifikasi dari Mira Sanjaya: satu log waktu baru. Singkat, tanpa basa-basi. Ada perpindahan dokumen dua kali dari ruang valuer ke ruang administratif, lalu kembali lagi. Jejaknya mengarah ke rumah lama Wiratama, bukan ke rumah sakit. Arga memasukkan ponsel ke saku dan berjalan turun tangga VIP menuju pintu keluar samping, karena sekarang arah bukti lebih penting daripada rasa panas di dada.

Di mobil, ia membuka berkas sobek itu di bawah lampu dashboard. Kertasnya rapuh, tapi cukup untuk membaca: biaya, tanggal, dan satu baris yang dipotong setengah, seolah seseorang sengaja ingin menghapus hubungan antara kematian lama dan aliran dana rumah sakit. Lalu layar ponselnya menyala lagi. Kali ini nomor yang sama kembali, dan Arga mengangkat.

Suara Hendra Kusuma tenang, nyaris sopan. “Pak Arga. Saya dengar Anda orang yang teliti. Sayang kalau ketelitian itu dipakai untuk sampai ke tempat yang tidak perlu Anda buka.”

Arga tidak menjawab.

Hendra melanjutkan dengan nada yang terlalu rapi untuk dipercaya. Ia menawarkan penyelesaian: pencabutan audit, nama Arga dipulihkan dari sistem, konflik tender dihentikan, dan keluarganya “dibiarkan tenang” — jika Arga menyerahkan berkas yang ia pegang malam ini juga. Tidak ada ancaman kasar. Justru itulah ancamannya. Nada itu datang seperti seseorang yang sudah tahu tepat berapa dekat Arga ke sumber uang paling mahal.

Arga menatap lembar sobek di tangannya. Di bawah catatan biaya itu, ada coretan pena yang baru terlihat setelah sudut kertas terlipat: kode arsip yang cocok dengan jalur dokumen rumah sakit, dan satu nama di pinggir halaman yang membuat semuanya tak bisa diputar balik tanpa menjatuhkan orang yang lebih tinggi dari Tara. Ia merasakan dingin yang berbeda dari ruang VIP tadi—dingin papan yang lebih tinggi, tempat orang-orang seperti Hendra berdiri sambil tersenyum.

Di ujung telepon, Hendra masih menunggu jawaban.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced