Novel

Chapter 10: Chapter 10

Arga dipermalukan dengan penghapusan akses resmi di koridor VIP rumah sakit, tetapi ia membaca celah dari log penguncian ganda, pesan Mira, dan pengakuan Nadine bahwa jalur dokumen memang diarahkan. Tara mengubah penghinaan prosedural menjadi tekanan keluarga, namun nama Wiratama ikut terdorong ke audit penuh. Arga kembali ke rumah lama Wiratama dan menemukan ledger sobek yang menghubungkan biaya perawatan malam, pengiriman dokumen, dan kematian lama yang tak cocok dengan cerita resmi. Mira mengonfirmasi jalur itu lewat log valuer internal, sementara Nadine mengirim foto ledger dari ruang rapat kaca dan mengakui Tara sedang melindungi orang yang lebih tinggi. Saat Hendra Kusuma menelepon dengan ancaman yang terlalu rapi, Arga menyadari skema itu sudah menyentuh lapisan elit di atas Tara, dan audit internal yang akan dimulai bisa menjatuhkan nama yang jauh lebih besar daripada yang ia sangka.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Chapter 10

Lampu koridor VIP rumah sakit itu terlalu putih untuk dianggap ramah. Jam digital di atas ruang audit internal baru saja bergeser ke 18:42 ketika nama Arga di layar antrean layanan dicabut untuk ketiga kalinya, lalu dikunci abu-abu oleh sistem. Di depan pintu kaca, Tara Wiratama berdiri dengan tablet di tangan, rapi, dingin, dan sengaja cukup keras saat bicara.

“Secara prosedur, Anda bukan lagi pihak yang berwenang.” Suaranya tidak tinggi, justru itu yang membuatnya lebih tajam. Dua perawat menoleh. Seorang satpam di ujung koridor pura-pura memeriksa radio. “Akses tender, arsip, dan ruang rapat sudah ditutup. Jangan bikin keributan di koridor rumah sakit.”

Arga tidak langsung membalas. Ia menatap layar yang memutih di dinding, lalu gelang akses di pergelangan tangannya yang kini terasa seperti besi hiasan murahan. Penghapusan itu bukan sekadar menutup pintu; Tara sedang memamerkan bahwa keberadaannya bisa dihapus dengan satu sentuhan, di depan staf, di depan sisa keluarga yang lewat, di depan siapa pun yang masih mau berpura-pura buta.

Namun Arga membaca detail yang Tara tidak maksudkan untuk terlihat. Sistem mengunci aksesnya dua kali dalam rentang delapan belas detik. Satu lewat akun admin. Satu lagi lewat jalur cadangan yang hanya dipakai audit internal.

Itu berarti ada celah. Bukan kebetulan, bukan kekacauan. Ada tangan yang tergesa menutup sesuatu.

Nadine muncul dari sisi lift kaca, wajahnya pucat, map kulit dijepit terlalu erat di dada. Ia berhenti setengah langkah ketika melihat Tara, lalu memaksa dirinya berjalan sampai sejajar dengan Arga. Tatapannya sempat turun ke tablet di tangan kakaknya, kemudian naik lagi ke wajah Arga.

“Kamu benar,” katanya pelan.

Tara mengangkat alis, dingin. “Benar soal apa?”

Nadine menelan napas. “Soal jalur pengiriman dokumen. Bukan acak.”

Koridor itu menjadi lebih sempit tanpa ada yang bergerak. Arga menahan reaksi yang terlalu cepat. Dalam permainan seperti ini, kemenangan kecil yang diumumkan terlalu dini justru memberi lawan alasan untuk menutup lebih rapat.

Tara tersenyum tipis. “Kamu datang ke sini untuk membela dia?”

“Aku datang karena audit dimulai dalam dua jam delapan belas menit,” jawab Nadine. Kali ini suaranya tidak goyah. “Dan kamu sudah menghapus akses orang yang justru memegang bukti paling rapi.”

Tara menutup tablet dengan satu gerakan pendek. “Bukti rapi bisa diproduksi. Itu yang dilakukan orang tertentu dari awal.” Matanya menyapu Arga, lalu berhenti di map Nadine. “Kalau kamu mau tetap aman, jangan ikut-ikutan menyerahkan diri ke masalah yang bukan milikmu.”

Arga akhirnya bicara. “Kalau ini bukan masalahku, kenapa nama saya dicetak di belakang berkas penilaian?”

Tara tidak menjawab. Hanya rahangnya yang bergerak sebentar.

Itu cukup. Arga melihatnya. Bukan kaget, bukan bingung. Respon itu milik orang yang terlalu tahu di mana letak lubangnya.

Dari ujung koridor, suara roda troli lewat. Seorang staf administrasi menunduk ketika melewati mereka. Di layar antrean, status tender rumah sakit bergeser lagi: verifikasi ulang aktif. Nama Wiratama ikut terdorong ke jalur audit. Arga menangkap kilatan itu tanpa perlu mendekat.

Tara ikut melihatnya. Wajahnya tetap terjaga, tetapi penghinaan prosedural yang tadi ia panggungkan kini punya harga baru. Bukan hanya Arga yang dihapus; nama keluarga ikut diseret ke bawah lampu.

“Masih ada waktu untuk berhenti,” kata Tara. “Kalau kamu mau memelihara sisa kehormatan rumah ini, pergilah sebelum audit mengunyah semuanya.”

Arga hampir tertawa, tapi ia menahan. Kehormatan bukan milik siapa pun di keluarga itu; yang ada hanya siapa yang paling cepat mengunci pintu saat yang lain jatuh.

Ia memandang Nadine. “Kamu punya salinan log?”

Nadine mengangguk sekali. “Tidak lengkap. Tapi cukup untuk lihat pola.”

“Bagus.” Arga menurunkan suaranya. “Kirim ke Mira. Jam pengiriman malam, log valuer internal, dan halaman yang dipisah dari berkas utama. Cek ulang semua nama pengantar.”

Nadine sempat tampak ragu, lalu mengeluarkan ponselnya. Tara langsung menatapnya tajam.

“Kamu benar-benar mau membantu dia?”

Nadine tidak menoleh. “Aku membantu keluarga yang masih bisa diselamatkan.”

Kalimat itu menggantung lebih keras daripada bentakan. Tara menatap adiknya beberapa detik, seolah baru sadar ada retakan yang tak bisa ditutup dengan prosedur.

Arga tidak menunggu Tarа meluncurkan serangan berikutnya. Ia berbalik dan berjalan cepat menyusuri koridor, melewati panel kaca ruang audit internal yang masih tertutup, melewati staf yang sengaja pura-pura sibuk, melewati wajah-wajah yang lima menit lalu mungkin ikut menganggapnya beban. Di belakang, Tara tidak mengejarnya. Itu justru lebih berbahaya.

Karena orang seperti Tara tidak mengejar saat masih bisa mengunci semua pintu dari depan.

---

Arga tiba di rumah lama keluarga Wiratama saat jam ponselnya menunjukkan 18:58. Audit internal mulai aktif dua jam kemudian. Angka itu bergerak di kepalanya seperti hitungan mundur yang tidak memberi ruang untuk ragu.

Rumah tua itu tidak berubah sejak terakhir kali ia masuk tanpa disambut. Bau kayu lembap, benang, minyak mesin jahit, dan debu yang menempel di sudut-sudut lemari masih sama. Di belakang, gudang jahit berdiri seperti ruang yang dilupakan orang yang dulu menguasainya.

Pintu kayunya macet setengah inci sebelum akhirnya terbuka dengan suara serak. Di dalam, mesin jahit tua masih berdiri di meja rendah, kain ukur menggantung kaku di paku, dan lampu kuning di langit-langit membuat segala sesuatu tampak lebih rapuh dari semestinya.

Arga langsung berlutut di lantai semen. Ia tidak membuang waktu untuk nostalgia. Dua kotak benang digeser, papan tipis di bawah meja potong diangkat, lalu sebuah bungkus plastik berdebu muncul dari celah yang sempit.

Di dalamnya ada lembar ledger.

Bukan yang utuh. Halaman tengahnya disobek rapi, seolah seseorang mengangkat bagian paling penting lalu sengaja menyisakan kulitnya untuk menipu orang yang datang terlambat.

Arga membentangkan lembar itu di atas meja. Mata dan tangannya bergerak bersamaan. Biaya pemindahan pasien. Jam keluar malam. Nama pengantar dokumen. Nomor kamar. Satu kolom angka yang dipaksa tampak biasa, padahal berulang dengan jarak yang terlalu teratur untuk disebut kebetulan.

Ia berhenti pada satu baris.

Biaya perawatan malam tidak cocok dengan kelas kamar yang tercatat. Pengiriman dokumen terjadi di jam yang sama dengan perpindahan pasien. Dan satu nomor kamar—yang dicatat seolah tidak penting—muncul lagi di baris berbeda, di dekat anotasi singkat yang membuat dada Arga terasa lebih dingin.

Itu bukan pengeluaran biasa.

Itu pemindahan sejarah.

Arga menelusuri angka demi angka. Polanya mengarah ke kematian lama yang selama ini diceritakan keluarga dengan bahasa rapi, terlalu rapi, seolah detail yang ganjil harus ditutup dengan doa dan sopan santun. Tanggalnya tidak pas. Jamnya tidak pas. Pengantar dokumennya muncul lagi di malam lain, di jalur yang sama, ke unit yang sama.

Seseorang memindahkan berkas bersama tubuh. Lalu memindahkan cerita agar cocok dengan uang.

Ponselnya bergetar.

Mira Sanjaya.

Pesannya pendek, tanpa basa-basi.

Log valuer internal cocok. Jalur itu sengaja diarahkan. Ada halaman yang disisihkan dari paket utama. Aku lihat namanya sekali di jam pengiriman malam. Lalu dihapus dari tampilan publik.

Arga menatap kalimat itu cukup lama. Bukan karena terkejut, melainkan karena konfirmasi dari orang yang pernah dibungkam jauh lebih berharga daripada kecurigaan yang ia susun sendiri. Mira tidak mengirim ceramah. Hanya satu garis yang mengunci fakta.

Ia membalas singkat: Simpan salinan. Jangan kirim lewat jalur rumah sakit.

Hampir bersamaan, notifikasi masuk lagi. Kali ini dari Nadine.

Satu foto.

Bukan foto yang rapi. Citra itu diambil tergesa di ruang rapat kaca, dari sudut yang tidak ideal. Di atas meja, terlihat ledger tua yang sama, terbuka pada halaman yang disobek. Di belakangnya, refleksi wajah Tara tampak kaku, sedang berbicara pada seseorang yang berada di luar bingkai.

Arga memperbesar gambar. Di sisi lembar yang tertangkap kamera, ada noda pena dan bekas lipatan. Tapi yang membuatnya menahan napas justru tulisan kecil di tepi bawah, setengah tertutup bayangan.

Satu nama. Bukan Tara.

Bukan Dr. Raka.

Nama itu berada di balik skema, seperti tangan yang tidak mau terlihat tapi tetap menuntut hasil.

Nadine menelepon.

Arga mengangkat tanpa bicara.

Suara Nadine datang lebih sunyi dari biasanya, nyaris tanpa napas. “Tara baru saja memamerkan foto ledger itu di ruang rapat kaca. Dia bilang kalau kamu mau main kotor, keluarga juga bisa buka aib lama.”

Arga memandang halaman sobek di depannya. “Kamu ikut di ruangan?”

“Sebentar.” Suaranya berhenti, lalu lanjut. “Aku tidak duduk. Aku tidak mau berpura-pura tidak lihat.”

Itu lebih penting daripada ia katakan.

“Siapa yang ada di balik nama itu?” tanya Arga, menunjuk layar ponsel tanpa perlu menyebut nama.

Nadine diam beberapa detik. Ketika bicara lagi, nadanya berubah, lebih hati-hati. “Aku belum berani ucapkan. Tapi kalau itu benar, Tara bukan lagi cuma menutup aib keluarga. Dia sedang menjaga orang di atasnya.”

Arga menatap baris angka yang tersisa di ledger. Jalur uang itu mengalir ke rumah sakit, lalu balik ke keluarga, lalu kembali lagi ke satu titik yang lebih tinggi. Polanya terlalu bersih untuk orang yang panik. Ini kerja orang yang tahu persis siapa yang harus dilindungi.

“Dr. Raka tahu?”

“Dia terlalu tenang.” Nadine menahan suara. “Terlalu tenang untuk orang yang baru dipaksa audit penuh.”

Arga menutup mata sebentar. Jadi itu jawabannya. Tara bergerak di depan. Raka menahan pintu. Dan di atas mereka, ada nama yang membuat semuanya harus dirapikan sebelum audit membaca lapisan terakhir.

Ia membuka kembali berkas penilaian yang sempat ia rebut dari ruang verifikasi. Di belakang halaman, tanda tangan palsu atas namanya tetap menempel seperti ejekan yang dipelihara baik-baik. Arga menggeser ponsel Nadine ke sisi lembar. Foto itu, ledger sobek, log waktu Mira, dan tanda tangan palsu yang ditaruh di atas namanya mulai menyatu dalam satu garis yang tidak bisa dijelaskan sebagai salah paham.

Pintu gudang mengeluarkan bunyi kecil.

Arga mengangkat kepala. Hening. Hanya angin malam yang menyerempet sela papan. Ia menunggu tiga detik, lalu lima. Tidak ada langkah masuk. Tetapi sesuatu di rumah lama itu terasa berubah, seolah ada orang lain yang baru saja memeriksa apakah ia masih sendirian.

Ponselnya berdering lagi.

Nomor tak dikenal.

Arga tidak langsung mengangkat. Notifikasi di layar muncul lebih dulu: Hendra Kusuma.

Ia menatap nama itu cukup lama sebelum menerima panggilan.

Suara di seberang bersih, tenang, terlalu rapi untuk disebut sopan. “Anda menemukan halaman yang seharusnya tidak pernah sampai ke tangan Anda.”

Arga tidak menjawab.

“Kalau Anda ingin menyelamatkan apa pun yang tersisa,” lanjut Hendra, “saya sarankan berhenti di sini. Ada orang yang lebih tinggi dari Tara yang tidak suka namanya disentuh sebelum waktunya.”

Arga menggeser lembar ledger hingga nomor kamar yang mencurigakan itu berada tepat di bawah cahaya lampu kuning. Bukan sekali ini ia diperingatkan. Bedanya, kali ini peringatan itu terdengar seperti pengakuan.

Di ruang rapat kaca, di koridor VIP, dan sekarang di gudang tua yang berdebu, pola yang sama muncul berulang: akses ditutup, berkas dipindah, nama disembunyikan. Dan setiap kali Arga menarik satu lapisan, lapisan di atasnya justru menjadi lebih mahal.

Di luar, suara mobil lewat di jalan sempit depan rumah. Di dalam, ponsel Arga tetap menempel di telinga. Hendra tidak menutup telepon. Seolah menunggu jawaban yang salah.

Arga memandang foto Nadine, halaman ledger, dan tanda tangan palsu itu satu per satu. Lalu ia membaca ulang baris nama yang baru saja membuat suhu ruangan turun satu tingkat.

Saat audit internal dimulai, satu nama di lembar penilaian membuat seluruh skema tak lagi bisa diputar balik tanpa menjatuhkan orang yang lebih tinggi dari Tara.

Dan untuk pertama kalinya malam itu, Arga sadar: yang paling berbahaya bukan lagi penghapusan akses atau serangan reputasi.

Yang berbahaya adalah bahwa Nadine kini sudah melihat siapa yang selama ini benar-benar menjaga keluarga, dan keputusan yang ia ambil setelah ini akan menentukan siapa yang punya akses ke bukti terakhir sebelum tender ditutup.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced