Chapter 8
Chapter 8 - Koridor VIP, Akses Ditarik di Depan Waktu
Jam di dinding koridor VIP baru lewat 19.10 ketika petugas keamanan rumah sakit berdiri tepat di samping Arga, lengan kekar itu menutup jalur ke meja verifikasi seperti pintu yang sudah diputuskan untuk tidak lagi terbuka.
Di udara ada bau parfum mahal yang tertutup disinfektan tajam dan sesuatu yang lebih busuk: panik yang dipaksa rapi. Lampu putih di atas meja kaca membuat wajah-wajah di ruang rapat seberang koridor tampak terlalu terang, terlalu sadar bahwa satu tanda tangan bisa menjatuhkan banyak nama. Di layar status tender, garis merah audit masih menyala sejak penundaan kemarin.
"Atas perintah direktur dan kepala kepatuhan, akses Saudara Arga dinonaktifkan sementara," kata petugas itu datar, tanpa menatap lama. Di tangannya ada tablet dengan halaman verifikasi terbuka. "Mohon tinggalkan area proses."
Itu bukan sekadar larangan. Itu pengusiran yang dibungkus prosedur.
Arga tidak bergerak. Matanya jatuh ke pojok layar tablet, ke nomor lampiran yang sempat muncul lalu hilang saat halaman di-refresh. Ada jeda sepersekian detik—cukup untuk orang yang tahu apa yang dicari. Lampiran itu tidak dicabut; ia dipindah. Dua kali. Dan sistem menaruh bekasnya di bawah versi lama yang tidak seharusnya aktif.
Dari pintu kaca, Tara Wiratama muncul seperti keputusan yang sudah lama dilatih. Jasnya rapih, wajahnya tenang, terlalu tenang untuk orang yang baru saja gagal menutup tender. Di belakangnya, Dr. Raka Mahendra berdiri setengah langkah lebih jauh, memegang map tipis seolah map itu memberi dia wibawa. Nadine ada di sisi lain lorong, diam, tangan terlipat di depan tubuh, mata yang biasanya menolong orang lain kini justru membaca Arga seperti barang yang sedang dinilai.
Tara berhenti di depan petugas keamanan. "Dia tidak punya akses. Semua kredensialnya sudah dicabut dari sistem tender, arsip, dan ruang rapat." Suaranya tidak meninggi. Itu justru membuatnya lebih tajam. "Kalau dia masuk lagi, itu pelanggaran."
"Kalau saya pelanggaran, kenapa meja verifikasi masih buka untuk lampiran yang bukan ada di daftar umum?" Arga bertanya pelan.
Tara menoleh sedikit. Tatapannya tidak marah; lebih berbahaya dari itu, karena ia seperti sudah memilih korban. "Masih juga mau bermain kata-kata? Semua sudah ditunda untuk verifikasi ulang. Nama keluarga kami sudah masuk jalur audit karena ulahmu."
"Bukan ulah saya." Arga mengucapkannya tanpa naik nada. Ia mengangkat tablet petugas, tidak menyentuh orangnya, hanya menunjuk garis kecil di pojok metadata yang tadi sempat terlihat. "Lampiran ini dipindahkan dua kali. Satu kali dari verifikasi ke arsip sementara. Sekali lagi ke ruang rapat kaca. Yang memindahkan tahu file mana yang harus disembunyikan lebih dulu."
Raka mengencangkan rahangnya. Nadine menoleh cepat ke arahnya, lalu kembali ke Arga. Ada sesuatu di wajahnya yang menahan pertanyaan, sesuatu yang tidak mau menjadi pembelaan tapi juga tidak sanggup pura-pura tidak tahu.
Tara tersenyum tipis, seperti seseorang yang sudah menyiapkan serangan cadangan. Ia mengangkat ponsel dan menyalakan layar. Foto hitam-putih sebuah ledger tua memenuhi bidang cahaya. Halaman sobek, sudutnya lembap, dan di bagian atas ada cap gudang lama milik keluarga yang nyaris tak terbaca. "Kalau kamu ingin bicara soal file yang disembunyikan, mungkin kita perlu bicara soal buku lama ini dulu. Ada nama yang tidak seharusnya ada di belakang skema rumah sakit."
Udara di koridor menegang lebih keras dari sebelumnya. Itu bukan ancaman kosong. Arga melihatnya sekejap: nama yang disentuhkan Tara tidak berdiri sendiri. Di balik coretan biaya lama itu ada jejak yang bukan milik rumah sakit saja. Ada aliran uang yang melintas ke orang lain, ke seseorang yang tahu cara membuat kematian tampak seperti administrasi biasa.
Nadine akhirnya berbicara, suaranya rendah, nyaris hilang di balik dengung AC. "Arga... kalau ini lanjut, bukan cuma muka yang jatuh. Nama Wiratama bisa dibuka habis-habisan." Ia tidak memohon, juga tidak menyalahkan. Itu yang justru membuatnya terasa lebih berat.
Arga memandangnya sebentar, lalu kembali ke tablet. Di bawah nomor lampiran yang sempat ia lihat tadi, ada jejak akses terakhir: seorang analis dari unit penilaian yang pernah menaruh log waktu secara diam-diam. Mira. Satu fragment cukup untuk menghubungkan jalur dokumen dengan halaman belakang berkas yang bertanda tangan palsu.
Ia meraih layar sekali lagi, kali ini mengarah ke baris kecil yang nyaris tertutup banner pembaruan. Nomor lampiran itu masih hidup. Masih ada pintu masuknya.
Petugas keamanan bergerak hendak menutup tablet, tapi Arga sudah lebih dulu mengingat detailnya. Nomor itu bukan dari proses resmi. Itu jalur samping ke lembar penilaian lama—dan lembar itu, jika cocok dengan foto ledger Tara, bisa mengikat biaya, nama, dan kematian yang selama ini disembunyikan sebagai prosedur.
Di luar jendela koridor, hujan mulai menampar kaca.
Malam itu, dengan aksesnya ditarik di depan semua orang, Arga meninggalkan rumah sakit tanpa mengosongkan kepalanya. Ia menuju rumah lama Wiratama saat hujan makin rapat, sampai lorong sempit di depan pintu kayu basah dan bau debu tua menyambutnya seperti saksi yang tidak pernah pergi. Di dalam, di bawah kain penutup mesin jahit tua dan meteran kain yang menggulung di meja, ada lembaran ledger yang sobek. Satu catatan biaya di sana menyebut nama yang sama dengan foto Tara—lalu di sampingnya, satu catatan tambahan yang menghubungkannya langsung ke kematian lama yang dulu disembunyikan.
Arga menatap garis tinta yang sudah pudar itu, dan untuk pertama kalinya malam itu ia tahu: ia tidak hanya memegang celah. Ia memegang pintu menuju sumber yang paling mahal.
Chapter 8 - Nadine Tidak Lagi Netral
Malam turun lebih cepat, dan koridor VIP rumah sakit sudah berubah jadi jalur pembuangan yang rapi: lampu putih terlalu terang, lantai mengilap, layar antrean di dekat lift staf menampilkan nama-nama yang menunggu dengan sabar—kecuali nama Wiratama, yang baru saja terdorong ke jalur audit. Arga berdiri dengan map tipis di tangan kiri, napasnya terukur, sementara di belakang punggungnya terdengar langkah sepatu Nadine yang tak lagi sepenuhnya mantap.
“Tunggu,” kata Nadine pelan, tapi cukup tajam untuk menahan. Ia berhenti di sudut koridor yang lebih sepi, tepat di bawah layar antrean yang berkedip. Mata Nadine turun ke map itu, lalu naik lagi ke wajah Arga. “Kamu benar soal dokumen. Itu bukan sekadar salah kirim.”
Arga tidak langsung menjawab. Ia tahu satu kalimat Nadine bisa jadi jembatan atau jebakan. Di ujung koridor, Mira Sanjaya berdiri setengah menepi dari nurse station, memegang ponsel dengan layar redup. Wanita itu tidak ikut mendekat; cukup dekat untuk menyaksikan, cukup jauh untuk tetap aman.
“Akhirnya kamu lihat,” kata Arga datar.
Nadine mengencangkan rahangnya. “Jangan bikin seolah-olah aku telat paham. Yang aku lihat sekarang, nama keluarga ini ikut masuk pemeriksaan karena kamu berhenti di waktu yang salah.”
“Itu bukan karena aku berhenti.” Arga menggeser map sedikit, memperlihatkan lipatan formulir dan satu halaman salinan yang ujungnya sudah ditandai merah. “Karena ada yang sengaja memindahkan jalur dokumen dua kali. Ada tanda tangan belakang berkas penilaian yang bukan punya aku. Dan Mira punya log waktunya.”
Mira mengangkat mata sebentar, lalu menunduk lagi. Itu cukup. Di koridor seperti ini, bukti tidak perlu berteriak.
Nadine memejam singkat, seakan sedang menimbang harga dari satu pengakuan. “Tara bilang kamu memancing semua ini untuk balas dendam.”
“Kalau aku mau balas dendam, aku tidak akan berhenti di pengesahan tender.” Arga menahan nada suaranya tetap rata. “Aku akan biarkan kalian menandatangani dulu, lalu baru buka semua jalurnya di depan dewan.”
Kalimat itu membuat Nadine diam. Bukan karena dramatis; karena ia paham Arga sedang bicara seperti orang yang benar-benar tahu papan permainan. Itu yang lebih berbahaya.
Di layar antrean, nomor ruang konsultasi bergeser. Di dekat lift staf, seorang petugas lewat membawa map biru bertanda verifikasi ulang. Tanda yang sama telah mengubah posisi keluarga Wiratama dari penguasa menjadi pihak yang diperiksa. Tara sudah memperluas serangan ke reputasi keluarga; foto ledger tua itu sempat dikirim ke beberapa orang penting sebelum Arga memutus jejak utamanya. Sekarang semua orang di rumah sakit seperti sedang berdiri di atas lantai yang baru dicat dan belum kering.
Nadine akhirnya bertanya, lebih pelan dari sebelumnya, “Apa yang sebenarnya disembunyikan Tara di belakang semua ini?”
Arga menatapnya, lalu mengalihkan pandang ke jendela koridor yang memantulkan wajah mereka berdua. “Kalau kamu masih mau berdiri di tengah, jangan tanya setengah-setengah.”
Mira bergerak satu langkah maju, cukup untuk meletakkan map kecil di sisi meja tinggi dekat lift staf. Tanpa bicara, ia membuka satu lembar cetakan log waktu: nomor berkas, jam pindah arsip, dan kode penyimpanan yang mengarah ke file lama. Arga menangkapnya cepat. Ada alamat yang ditulis ulang dengan tangan, bukan sistem.
“Ini jalurnya,” kata Mira singkat. “Bukan cuma tender. Ada file lama yang dipindah malam hujan, jauh sebelum ini. Kalau kamu cari asal biaya, cari rumah lama keluarga.”
Nadine memucat, tapi tidak mundur. Itu yang pertama kali mengubah posisinya: ia tidak lagi menahan Arga, ia menahan dirinya sendiri.
Arga memasukkan lembar itu ke map. “Kalau kamu diam, kamu masih bisa bilang kamu tidak tahu.”
“Aku tidak bilang mau bicara,” jawab Nadine. “Aku cuma tidak akan menghentikanmu selama kamu tidak menyeretku langsung ke depan keluarga.”
Itu bukan dukungan. Tapi itu celah.
Arga mengangguk sekali, lalu berbalik ketika ponselnya bergetar. Pesan tanpa nama muncul singkat: rumah lama, sekarang. Lampirannya satu foto: halaman ledger tua yang sobek, basah di tepi, dengan satu catatan biaya yang terhubung ke nama yang selama ini disembunyikan dalam cerita resmi tentang kematian lama. Di bawah foto itu, pesan kedua masuk sebelum ia sempat mengunci layar.
Hendra Kusuma: selesai saja baik-baik. Aku tahu kamu sudah hampir sampai ke sumber yang paling mahal.
Arga menatap layar, lalu ke ujung koridor tempat Nadine masih berdiri dalam keputusan yang belum utuh. Hujan mulai mengetuk kaca luar rumah sakit. Malam ini tidak lagi soal tender. Malam ini soal rumah lama, ledger sobek, dan satu garis bukti yang bisa menjatuhkan nama orang-orang yang selama ini merasa aman.
Chapter 8 - Serangan Balik Tara: Aib Lama di Atas Meja
Di ruang rapat kaca rumah sakit, jam dinding menunjukkan 19:42, tiga belas menit sebelum verifikasi ulang tender ditutup. Arga berdiri di ujung meja tanpa kursi, karena namanya masih diblokir dari akses ruangan itu. Di layar besar, status board menampilkan jelas: WIRATAMA — MASUK JALUR AUDIT.
Itu seharusnya sudah cukup membuat Tara diam. Tapi Tara justru mendorong ponselnya ke tengah meja, membuka grup keluarga Wiratama, lalu menampilkan foto-foto yang baru diunggahnya: gambar berwarna kusam dari lembar ledger tua, beberapa halaman sobek, dan satu nama yang sengaja diburamkan di atasnya.
"Kalau mau bicara audit," kata Tara pelan, wajahnya tetap rapi, "kita bahas siapa yang biasa bermain dengan catatan lama."
Nadine menegang di kursinya. Dr. Raka Mahendra, yang sejak tadi mencoba terlihat seperti direktur yang mengendalikan semua hal, menatap layar ponsel itu lebih lama daripada wajah siapa pun. Arga tidak bergerak. Ia melihat lebih dulu detail yang lain: sudut foto, cap arsip yang samar, dan nomor tahun di pojok bawah halaman.
Bukan tahun yang cocok.
Itu yang membuat serangan Tara goyah sebelum sempat menancap.
Arga mengambil ponsel Taranya tanpa menyentuh tangan Tara. Gerakannya pendek, bersih, tidak memberi ruang untuk drama. Ia memperbesar foto kedua, lalu foto ketiga. Cap arsipnya terlihat setengah tertutup noda air, tetapi angka cetaknya masih terbaca. Tahun pada ledger itu melompat dua tahun lebih awal dari klaim Tara di grup keluarga. Dan di bagian pinggir, bukan nama Arga yang pertama kali mencuat, melainkan nama lain yang pernah ia lihat di berkas penilaian: inisial yang sama dengan nomor pengiriman internal rumah sakit.
"Ini bukan bukti yang kau kira," ucap Arga.
Tara tersenyum tipis, senyum orang yang sudah menyiapkan racun sejak pagi. "Kau mau bilang itu palsu juga?"
"Aku bilang kau salah membaca tahun. Atau sengaja membiarkannya salah." Arga menyerahkan ponsel kembali, lalu menoleh ke Dr. Raka. "Kalau ledger ini asli, maka arsip rumah sakit tidak berdiri sendiri. Ada jalur lama yang disambungkan ke dokumen tender sekarang."
Nama di ujung foto itu membuat ruangan menjadi lebih dingin daripada AC sentral.
Nadine ikut melihat. Matanya bergerak cepat, berhenti pada tanda tangan kecil di bawah kolom biaya. Bukan tanda tangan besar milik pejabat, melainkan paraf yang rapi dan terlalu biasa untuk jadi kebetulan. Ia mengenali pola itu—bukan dari keluarga, melainkan dari orang yang terbiasa memindahkan kebenaran lewat kertas.
"Mira," katanya pelan, nyaris tak terdengar.
Itu nama yang membuat Dr. Raka menoleh tajam.
Arga menangkap reaksi itu dan mengunci memori kecil tersebut. Mira Sanjaya memang sumber log yang tak tercatat; jika nama itu tersentak, berarti foto ini tidak sekadar aib keluarga. Ini titik sambung. Jalur dokumen yang diarahkan. Jalur uang. Dan sesuatu yang lebih tua dari tender.
Tara mengetuk layar ponselnya sekali, memanggil grup keluarga. Dalam hitungan detik, foto yang sama menyebar ke lima nomor. Beberapa pesan masuk hampir bersamaan: tanda tanya, sumpah singkat, dan satu kalimat dari paman yang meminta penjelasan. Tara sengaja menebarkan kabut agar Arga tampak seperti menantu yang mengobrak-abrik kubur keluarga.
Namun kabut itu gagal karena cap tahun di foto terlalu telanjang.
Arga menggeser satu halaman lagi. Di sana, catatan biaya untuk alat medis lama menaut ke nama rumah sakit yang kini sedang tender. Baris berikutnya, ada referensi ke rumah lama di ujung jalan hujan, alamat yang selama ini tidak muncul di dokumen resmi keluarga. Dan di bawahnya, satu catatan kecil: pengiriman dipindah dua kali sebelum masuk buku utama.
Itu bukan aib. Itu peta.
Nadine bangkit setengah langkah, wajahnya pucat tetapi matanya tajam. "Arga..."
Ia tidak menyelesaikan kalimatnya. Karena ia tahu, kalau catatan itu benar, kemenangan Arga di tender sebelumnya bukan akhir. Itu baru membuka lantai berikutnya: siapa yang mengalirkan uang, siapa yang menutup nama, siapa yang membiarkan kematian lama tampak seperti kecelakaan.
Tara melihat perubahan itu dan untuk pertama kalinya wajahnya kehilangan kelicinan. Ia baru saja menebar foto untuk menjatuhkan Arga, tapi yang muncul justru simpul baru—rumah lama, ledger sobek, nama di balik skema rumah sakit, dan bau kematian yang sengaja disembunyikan.
Arga menyimpan ponsel itu kembali ke meja, lalu mengambil map transparan dari tasnya. Di dalamnya ada salinan foto, catatan pengiriman, dan potongan halaman yang ia ambil dari ruang arsip. Ia menatap jam di dinding. 19:53.
Sembilan menit sebelum verifikasi ulang berakhir.
Ia berdiri. "Kalau kalian mau bermain kotor, aku akan baca seluruh buku itu."
Tidak ada teriakan. Tidak ada tepuk tangan. Hanya keheningan yang lebih mahal daripada makian.
Saat Arga melangkah keluar ruang rapat, hujan mulai turun deras di kaca luar gedung. Lima belas menit kemudian, ia sudah berada di rumah lama, menahan napas di depan meja kayu yang lembap dan bau debu tua. Di bawah lampu kuning, ia membuka lembaran ledger yang sobek itu sampai pada satu catatan biaya yang menghubungkan nama rumah sakit, nama yang diburamkan Tara, dan tanggal kematian yang dulu disembunyikan.
Di ponselnya, sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal: Hendra Kusuma.
"Kita bisa selesaikan ini rapi," bunyinya. "Tapi kalau kamu sudah sampai ke halaman itu, berarti kamu hampir menyentuh sumber yang paling mahal."
Chapter 8 - Rumah Lama, Lembaran Sobek, dan Nama yang Tak Seharusnya Ada
Arga baru sempat menutup pintu rumah lama itu ketika ponselnya bergetar lagi. Layar yang pecah di sudut menampilkan pesan dari nomor tak tersimpan: Jangan lama-lama. Kalau kamu sudah dekat ke nama itu, orang lain juga bisa mencium baunya. —HK
Di luar, hujan menghantam seng galeri belakang dan menetes lewat sela genteng tua. Di dalam, kamar dekat mesin jahit terasa lebih dingin daripada lorong rumah sakit yang tadi pagi masih menyisakan bau parfum mahal dan panic sweat. Mesin jahit antik milik almarhumah bibi Nadine berdiri seperti benda yang sengaja dibiarkan menyimpan rahasia. Di sampingnya, lemari arsip kayu dengan engsel berkarat setengah terbuka, seolah ada yang pernah memaksanya lalu buru-buru pergi.
Arga tidak menanggapi pesan itu. Ia menekan senter ponsel ke meja kecil, lalu membuka foto ledger yang dikirim Mira beberapa menit sebelumnya. Kertasnya sobek di pinggir, tinta pudar di beberapa baris, tapi angka-angka biaya itu masih cukup jelas untuk membuat perutnya mengencang.
“Biaya rawat inap kelas VIP… pemindahan alat… dana penyesuaian keluarga…”
Baris terakhir memuat nama yang tak seharusnya ada di belakang pengeluaran rumah sakit: R. Mahendra.
Arga menarik napas pelan. Nama itu bukan sekadar tanda tangan. Itu simpul.
Ia membandingkan foto itu dengan lembar penilaian yang tadi pagi hampir membuatnya dipaksa keluar dari tender. Dua jalur dokumen yang sempat ia lacak memang berpindah dua kali, persis seperti yang disadarinya di rumah sakit. Satu lewat arsip internal, satu lewat ruang verifikasi luar. Tapi ledger tua ini menunjukkan pola lama yang sama: biaya ditutup sebagai administrasi keluarga, lalu dialirkan lewat pihak rumah sakit dan orang ketiga.
Seseorang tidak hanya menutupi uang.
Mereka menutupi kematian.
Langkah sepatu terdengar di serambi depan. Arga langsung mematikan suara ponsel dan menahan tubuhnya di samping lemari. Sebuah bayangan melintas di kaca kusam, lalu hilang. Bukan pencuri; terlalu tenang. Bukan pula Tara—langkah wanita itu selalu punya ritme yang lebih keras, lebih sadar ingin didengar.
Pesan berikutnya masuk sebelum Arga sempat bergerak.
Tara sudah lempar nama lama itu ke grup keluarga. Katanya kamu cari-cari aib yang bukan urusanmu. Dia sedang dorong Nadine buat pilih sisi.
Arga membaca kalimat itu sekali. Cukup. Tara sudah pindah dari ruang tender ke ruang yang lebih berbahaya: muka keluarga. Kalau aib lama itu dipercaya orang rumah, Arga bukan hanya dianggap mengganggu bisnis; ia bisa dibuat tampak seperti menodai nama Wiratama dari dalam.
Pintu kamar belakang berderit. Nadine masuk tanpa suara berlebihan, mantel hujannya masih menetes. Wajahnya pucat, tapi mata itu tidak lagi semata-mata mengejar keselamatan. Ada sesuatu yang lebih keras di sana—pengertian yang datang terlambat.
“Kenapa nama dokter itu ada di ledger lama?” tanyanya.
Arga tidak langsung menjawab. Ia memutar layar ke arahnya.
Nadine membaca cepat. Rahangnya menegang.
“Ini bukan arsip keluarga biasa.” Suaranya rendah, kering. “Ini daftar biaya yang dulu dipakai untuk menutup laporan internal. Kalau ini keluar…”
“Yang keluar bukan cuma muka keluarga,” kata Arga. “Jalur uangnya ikut kebuka.”
Nadine menatapnya lama, lalu menoleh ke lemari arsip yang setengah terbuka. “Tara bilang kalau kamu terus dorong ini, semua orang akan lihat keluarga Wiratama sebagai sumber masalah. Dia minta aku menghentikanmu.”
“Dan kamu?”
Nadine tak menjawab cepat. Itu jawaban yang lebih jujur daripada pembelaan. Ia mengeluarkan amplop tipis dari tasnya dan meletakkannya di meja. “Aku ambil ini dari mobil Tara. Foto ledger lama. Di belakangnya ada nama lain lagi. Bukan nama dokter itu.”
Arga membuka amplop itu. Di bagian belakang foto, ada coretan pena tipis: Hendra Kusuma.
Satu nama yang lebih tinggi dari semua orang di ruangan ini.
Mereka belum sempat bicara lagi ketika ponsel Arga bergetar. Kali ini panggilan. Nomor asing.
“Arga Pratama?” suara laki-laki yang masuk terdengar rapi, dingin, dan terlalu tenang untuk orang yang menelepon di tengah malam hujan. “Saya Hendra Kusuma. Anda sudah sampai di bagian paling mahal dari cerita ini. Saran saya sederhana: tinggalkan rumah itu, serahkan lembar sobeknya, dan saya bisa membuat semuanya berhenti sebelum nama Anda ikut dibersihkan dari cara yang tidak enak.”
Arga memandang ledger sobek di tangannya. Di halaman yang basah oleh lembap, satu baris biaya lama terbaca paling jelas: pembayaran untuk transport malam, disahkan dua kali, lalu dicoret seperlunya.
Dan di bawahnya, hampir hilang, ada catatan kecil yang membuat tengkuknya dingin:
Pindah ruang. Pasien tidak bertahan sampai pagi.
Arga tidak menjawab telepon. Ia menutupnya perlahan, lalu menekan halaman ledger itu ke bawah cahaya senter. Nadine menahan napas di belakangnya. Di luar, hujan makin keras, seolah rumah tua itu sendiri sedang menunggu keputusan yang salah.
Baru saat itu Arga sadar: catatan biaya lama itu bukan sekadar arsip. Itu jejak ke malam ketika seseorang mati, dan seseorang lain mengubahnya menjadi biaya rumah sakit. Ia menggenggam lembar sobek itu lebih erat, sementara nama Hendra masih bergema di layar mati ponselnya.