Chapter 7
Pukulannya belum jatuh, tapi di ruang rapat kaca itu semua orang sudah tahu siapa yang sedang didorong ke luar. Jam digital di dinding merah menyala: lima menit sebelum tenggat tender ditutup. Di depan meja panjang, Dr. Raka Mahendra masih mempertahankan senyum yang terlalu rapi untuk situasi yang mulai bocor. Di sisi lain, Tara Wiratama duduk tegak seperti pemilik ruangan, map merahnya terbuka, dan di layar besar nama Arga Pratama masih tercoret tebal dari daftar akses resmi.
Arga berdiri di ambang pintu tanpa kursi, tanpa kartu akses, tanpa wajah ramah dari panitia. Kemejanya masih menyimpan jejak hujan dari koridor servis, tapi map di tangannya kering, disusun ulang dengan disiplin yang membuat isi di dalamnya lebih berbahaya daripada keberadaan dirinya di ruangan itu. Tidak ada yang menawarinya bicara. Itu justru yang ia tunggu.
Raka menoleh ke satpam. “Kalau dia tidak punya akses, keluarkan.”
Arga tidak bergerak. Suaranya datar, tidak meninggi sedikit pun. “Kalau saya keluar sekarang, tender ini yang tidak akan sampai selesai.”
Tara menyipit. “Kamu masih mau memainkan ancaman setelah namamu dicoret resmi dari sistem?”
Arga menatap layar, lalu menyapu ujung meja dengan sekali pandang. “Saya tidak mengancam. Saya menunjuk prosedur yang kalian paksa melanggar.”
Salah satu staf panitia merapatkan tablet di dadanya. Di layar, tombol pengesahan final sudah aktif, tapi status dokumen penilaian masih berwarna kuning. Arga tahu itu akan membuat orang-orang di ruangan itu gelisah lebih cepat daripada teriakan mana pun.
Ia melangkah masuk satu langkah saja, cukup dekat agar semua mata ikut bergerak, lalu meletakkan map itu di meja samping bawah lampu baca. Bukan gaya menang. Lebih seperti orang yang menaruh benda bedah di atas kain steril.
“Revisi nomor tiga yang dibacakan tadi,” kata Arga, “tidak bisa dijadikan dasar pengesahan. Lampiran valuasi yang menjadi sumbernya belum pernah tercatat sah di sistem. Jalur dokumennya dipindah dua kali sebelum masuk ke ruang rapat. Itu bukan keterlambatan. Itu pengaturan.”
Ruangan mengeras. Tidak ada suara besar. Justru karena itu, perubahan kecil di wajah para staf jadi terlihat jelas: mata turun ke tablet, jari berhenti di atas layar, napas tertahan.
Dr. Raka mengangkat dagu sedikit. “Kamu membawa tuduhan lama dengan gaya baru.”
Arga membuka mapnya tanpa tergesa. Di atas dokumen pertama ada lembar pengiriman internal, diberi tanda merah di dua titik. Di bawahnya revisi nomor tiga. Di bawah itu lagi salinan notulen yang baru saja ia dapatkan dari luar sistem. Semua rapi, urut, dan tanpa hiasan.
“Ada tanda tangan di belakang berkas penilaian,” kata Arga. “Nama saya. Bukan tangan saya.”
Tara menatapnya tajam. “Bukti orang yang sedang panik selalu merasa paling rapi.”
Arga tidak menoleh ke Tara. Ia menggeser satu lembar ke tengah meja. Lembar itu memuat pola pengiriman yang sudah ia petakan: nomor berkas berpindah dari arsip verifikasi ke meja administrasi lantai tiga, lalu kembali ke ruang dokumen internal sebelum akhirnya muncul di ruang rapat. Pindah dua kali. Sengaja. Tidak ada kebetulan di dalamnya.
“Kalau agenda dipaksakan lanjut,” lanjut Arga, “rumah sakit mengesahkan berkas yang asalnya sudah diarahkan. Dan karena ada tanda tangan palsu atas nama saya, proses ini bukan cuma cacat. Ini bisa masuk audit.”
Raka menghela napas lewat hidung, senyumnya menegang di ujung. “Audit?”
Arga mengeluarkan satu amplop tipis dari bagian belakang map. “Laporan waktu. Dari log akses yang Mira Sanjaya catat di luar sistem. Belum tercatat resmi karena dia tahu siapa yang lebih dulu akan menutup mulutnya. Tapi isinya cukup untuk menahan penutupan tender ini sampai verifikasi ulang selesai.”
Nama Mira membuat dua orang di ujung meja saling pandang. Tara sempat bergerak, hanya sedikit, seperti ingin memotong jalur bicara sebelum kata-kata Arga menjalar ke luar ruangan. Namun Arga sudah menaruh amplop itu tepat di antara notulen dan lembar revisi.
“Dia mengaku?” tanya Nadine dari belakang, suara pelan tapi tajam.
Semua orang menoleh ke arahnya. Nadine berdiri setengah langkah di belakang Tara sejak awal, seperti seseorang yang ingin tetap berada di sisi keluarga tanpa ikut kotor oleh urusan mereka. Kini wajahnya tidak berubah, tetapi matanya tidak lagi netral.
Arga menatapnya sekali. “Dia mengakui alurnya diarahkan. Bukan acak. Dan tanda tangan di belakang berkas itu bukan milik saya.”
Nadine mengalihkan pandang ke meja. Tidak membantah. Tidak juga membela Tara.
Itu lebih buruk bagi Tara daripada teriakan.
“Cukup,” kata Tara, suaranya tetap tenang, tapi ujungnya mulai retak. “Kamu datang ke sini karena butuh panggung. Setelah dicoret dari akses resmi, kamu pikir kamu bisa memaksa rumah sakit tunduk dengan selembar kertas.”
Arga akhirnya menatapnya. Tatapannya tidak panas. Justru bersih, dan itu yang membuat Tara harus menahan rahang.
“Bukan selembar kertas,” katanya. “Ini jalur uang. Ini jalur berkas. Ini nama yang disisipkan untuk menjebak saya. Dan kalau kalian lanjut, rumah sakit yang harus menjelaskan kenapa tender disahkan di atas dokumen yang diputar dua kali dan ditandatangani palsu.”
Raka bergerak kecil, tangannya merapikan kancing jas. Tanda kebiasaan orang yang sedang mencari celah untuk menyelamatkan wajah. “Kamu bicara seolah-olah kamu masih punya hak atas ruangan ini.”
Arga menggeser tablet panitia ke arah mereka. Status final masih menunggu, dan di pojok kanan bawah notifikasi audit sudah muncul seperti peringatan yang tidak bisa dihapus cepat. “Hak saya satu-satunya di sini adalah memastikan kalian tidak bisa menutup ini sambil pura-pura bersih.”
Seorang staf administrasi menyahut lirih, lebih ke panitia daripada ke siapa pun. “Pak, kalau ada indikasi dokumen dipindah dua kali, kami memang harus verifikasi ulang.”
Raka memandang staf itu. Hanya satu detik, tapi cukup untuk membuat orang itu diam.
Arga tidak memberi mereka waktu. Ia membuka halaman terakhir mapnya—lampiran dari Mira, tanpa kop resmi, tapi dengan jam masuk-keluar, kode rak, dan catatan valuer internal yang cocok dengan pola pengiriman yang ia temukan. Di bagian bawah ada satu baris kecil yang ditandai tangan: tanda tangan di belakang berkas penilaian tidak sesuai dengan sampel Arga yang tercatat di arsip rumah sakit.
Di ruangan itu, itu bukan sekadar bukti. Itu pintu.
“Setelah ini,” kata Arga, “panitia tidak bisa bilang tidak tahu. Kalau pengesahan tetap dilakukan, saya serahkan semuanya ke audit independen. Bukan ke keluarga. Bukan ke lobi internal.”
Kata-kata itu tidak keras, tapi hasilnya nyata. Lampu indikator di tablet panitia berubah dari kuning ke merah ketika salah satu staf menekan tombol tunda verifikasi. Suara klik kecil itu terdengar lebih tajam daripada bentakan.
Raka menatap layar. “Siapa yang memberi kamu keberanian sebesar ini?”
Arga membiarkan pertanyaan itu lewat. “Bukti yang kalian kira sudah hilang.”
Tara bangkit setengah, kursinya bergeser pelan di lantai kaca. “Kamu pikir ini menang?”
Arga mengunci map itu kembali. “Ini bukan menang. Ini menghentikan kalian dari menutup pintu sebelum semua orang melihat isi ruangan.”
Untuk pertama kalinya sejak ia masuk, beberapa staf tidak lagi melihat Tara. Pandangan mereka pindah ke jam, ke notifikasi audit, ke dokumen di meja. Status di papan itu berubah bukan karena teriakan Arga, tetapi karena proses yang ia paksa hidup kembali.
Panitia ketua membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Akhirnya ia berkata, hati-hati, “Agenda tender ditunda. Verifikasi ulang wajib dilakukan sebelum keputusan final.”
Ruangan tidak meledak. Justru diamnya yang memalukan. Keputusan yang hampir disahkan runtuh tanpa suara besar, dan semua orang tahu siapa yang membuatnya jatuh.
Nadine menatap layar yang kini menampilkan status tertunda. Di wajahnya lewat sesuatu yang lebih rumit daripada setuju atau tidak. Ia paham satu hal sekarang: kemenangan Arga menyeret nama Wiratama ke jalur audit, dan itu berarti keluarga tidak bisa lagi pura-pura hanya menjadi penonton.
Tara menyelipkan napas pelan. “Kamu baru buka satu pintu.”
Arga sudah tahu itu. Ia mengambil map, lalu berdiri sedikit lebih tegak daripada saat ia masuk. “Kalau pintu itu berisi kebohongan, saya tidak perlu banyak lagi.”
Tara menatapnya lama, lalu menggeser kursi dan mengeluarkan ponselnya. Jari-jarinya bergerak cepat, tidak panik, justru terlalu teratur. Arga melihat notifikasi yang sempat menyala di sudut layar panitia: undangan darurat dari unit komunikasi rumah sakit, lalu satu pesan yang masuk ke grup internal keluarga Wiratama.
Tara tidak bicara dulu. Ia memilih jalan yang lebih tua, lebih kotor, dan lebih aman baginya: reputasi keluarga.
“Aku tidak akan biarkan kamu memakai ruang ini untuk mempermalukan nama Wiratama,” katanya akhirnya. “Kalau kamu mau audit, kita buka juga aib yang selama ini ditutup rapat.”
Nadine menoleh cepat. “Tara—”
“Diam dulu,” potong Tara. “Kalau dia mau bermain nama, kita lihat siapa yang paling banyak menyimpan noda.”
Arga menangkap perubahan nada itu. Bukan ancaman kosong. Itu keputusan untuk membakar sesuatu yang lebih lama dari tender, supaya asapnya menutup luka yang baru saja terbuka.
Raka, yang sejak tadi menjaga wajahnya tetap tenang, kini menggeser map cokelat di bawah lengannya. Ada seseorang di belakangnya yang memanggil dari luar ruangan. Satu asisten rumah sakit masuk sebentar, berbisik, lalu menyerahkan kertas berkop merah. Raka membacanya sekilas. Wajahnya tetap tenang, tapi matanya turun sedikit, seperti orang yang baru menyadari lantai di bawahnya sudah retak.
Arga melihatnya dan langsung tahu: balasan mulai bergerak.
Tara menutup telepon, lalu kembali menatap Arga. “Kamu bisa tahan tender hari ini,” katanya pelan, “tapi kamu tidak tahu apa yang kamu bangunkan.”
Arga mengangkat satu sisi mapnya. “Kalau itu terkait dokumen palsu, jalur uang, dan nama yang dipakai untuk menjebak saya, saya justru ingin tahu.”
Tara tersenyum tipis, kali ini tanpa hangat sama sekali. “Bagus. Karena keluarga lama kami menyimpan satu cerita yang jauh lebih jelek daripada yang kamu kira.”
Kata-kata itu jatuh di ruang rapat kaca seperti pecahan kecil yang cukup untuk melukai kaki. Nadine mengerut. Raka mengalihkan pandang ke arah pintu, seolah mempertimbangkan apakah ruangan ini masih aman dipakai. Tapi Tara sudah tidak peduli pada kenyamanan siapa pun.
Ia membuka folder lama dari ponselnya dan menampilkan satu foto buram di layar rapat: halaman depan ledger tua, sudutnya robek, dengan catatan biaya yang sebagian sudah pudar. Di bawahnya, ada nama keluarga yang Arga kenal, dan satu nama lain yang belum pernah ia lihat di dokumen tender mana pun.
Nadine memucat sedikit. Arga tidak. Ia menatap layar itu lebih lama, lalu membaca sekali lagi nama kedua yang tertera di samping catatan biaya lama.
Nama itu bukan nama Wiratama.
Bukan nama rumah sakit juga.
Dan justru karena itulah, tekanan di dadanya terasa berubah arah. Bukan lagi soal tender hari ini. Bukan sekadar soal Tara atau Raka. Ada seseorang di atas papan yang memakai skema rumah sakit ini sebagai selimut, dan catatan biaya itu—yang seharusnya sudah mati bertahun-tahun lalu—tiba-tiba terasa seperti ujung tali ke sesuatu yang jauh lebih gelap.
Di luar kaca, langit mulai menghitam. Awan hujan menekan atap rumah sakit, dan lampu koridor memantul di lantai seperti air yang belum jatuh.
Arga menutup mapnya perlahan. Dalam kepalanya, satu nama baru menempel bersama satu kemungkinan lama: kalau ledger itu benar, maka kematian yang dulu disembunyikan mungkin tidak pernah lepas dari sistem ini.
Dan sekarang Tara baru saja memberinya alasan untuk mencarinya.