Novel

Chapter 6: Chapter 6

Arga yang sudah dicoret dari akses resmi tetap memaksa rumah sakit memverifikasi ulang dokumen lewat lembar pengiriman internal dan revisi nomor tiga. Nadine sadar kemenangan Arga menyeret nama Wiratama ke audit, sementara Mira muncul membawa bukti tak tercatat tetapi belum berani menyerahkannya. Scene berakhir saat agenda lelang harus dihentikan sementara, dan Tara menyiapkan balasan dengan membuka aib lama keluarga. Arga memaksa Nadine keluar dari posisi netral dengan bukti tanda tangan palsu, jalur dokumen yang diarahkan, dan salinan tak tercatat dari Mira. Nadine tidak langsung berpihak, tetapi berhenti membela Tara, menandai retaknya posisi keluarga. Arga lalu mengajukan dokumen prosedural tepat waktu sehingga agenda tender rumah sakit terpaksa berhenti, menegaskan bahwa kompetensinya kini mengubah papan status. Scene ditutup dengan tanda balasan Tara dan Dr. Raka yang mulai bergerak, sekaligus menyiapkan konflik aib lama dan nama besar lain di belakang skema. Mira menyerahkan bukti tak tercatat kepada Arga di sudut servis rumah sakit: log waktu, catatan valuer internal, dan petunjuk jalur dokumen yang diarahkan, termasuk tanda tangan palsu. Arga mengubah bukti itu menjadi ancaman prosedural lewat jalur lelang resmi, memaksa proses tender berhenti tepat waktu dan menutup agenda rumah sakit untuk pertama kalinya. Tara merespons dengan tekanan formal, sementara Nadine mulai melihat bahwa netralitas berarti ikut menenggelamkan keluarga Wiratama. Scene berakhir dengan status Arga naik satu tingkat, dan ancaman balasan Tara yang mengarah ke aib lama keluarga serta nama yang lebih besar di balik skema. Di ruang rapat kaca yang sebelumnya dipakai untuk menekan Arga, ia masuk dengan map pengajuan yang disusun ulang dari lembar pengiriman internal, revisi nomor tiga, dan lampiran Mira yang tidak pernah dicatat sistem. Dr. Raka datang dengan senyum tipis yang dipaksakan, mencoba menunda pembahasan sambil memerintahkan staf untuk tetap menjalankan agenda. Tapi Arga sudah menghitung urutannya: satu dokumen salah ditempatkan, satu tanda tangan palsu dibuka, dan satu notifikasi audit dijatuhkan ke meja pada menit yang paling merusak. Untuk pertama kalinya, para staf berhenti menatap Tara dan mulai menatap jam. Nadine menyaksikan jelas bagaimana nama Wiratama tidak lagi sekadar dipermalukan, melainkan bisa ikut ditahan proses pemeriksaan jika agenda dipaksakan lanjut. Tara mencoba menutup rapat dengan mengangkat aib lama keluarga sebagai tameng, tetapi itu justru mengundang pertanyaan baru dari pihak luar yang tidak ia kendalikan. Arga tidak berdebat panjang; ia menyerahkan dokumen tepat waktu sehingga rumah sakit harus menghentikan agenda mereka dan menunda keputusan tender. Kemenangan itu kecil di atas kertas, tetapi cukup besar untuk mengubah siapa yang berdiri di depan ruangan dan siapa yang dipaksa menunggu.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Chapter 6

Chapter 6 - Koridor VIP, Dokumen di Tangan, Pintu di Wajahnya

Pagi itu baru bergeser ke menit-menit terakhir sebelum tenggat, dan di koridor VIP rumah sakit yang mengilap itu udara tetap terasa seperti campuran uang, antiseptik, dan panik yang ditahan rapi. Arga berdiri di depan meja administrasi dengan map tipis di tangan, sementara seorang staf wanita berkacamata menatap layar lalu menatapnya seperti sedang membaca nama yang sengaja dihapus dari daftar hidup.

“Nama akses Anda sudah dicoret, Pak Arga,” katanya datar. “Perintah langsung dari Bu Tara. Ruang arsip, ruang rapat, dan akses tender semua ditutup. Silakan tunggu di luar sistem.”

Kalimat itu memang ditujukan untuk menjatuhkan, tapi Arga hanya menatap balik dengan wajah tenang. Di belakang meja, lampu indikator lift kaca menyala naik-turun, memantulkan bayangan orang-orang yang buru-buru lewat tanpa benar-benar mau terlibat. Di tangan Arga, lembar pengiriman internal yang sudah ia lipat rapi terasa ringan, tapi isinya cukup berat untuk memaksa seluruh lantai ini berhenti bergerak.

Tara muncul dari ujung koridor bersama Dr. Raka. Jasnya masih rapi, suaranya lebih rapi lagi. “Masih di sini?” ia bertanya, seolah Arga ini gangguan kecil yang terlambat disapu. “Kalau sudah dicoret, jangan paksa masuk. Rumah sakit ini bukan tempat orang yang tak punya otorisasi memaksakan diri.”

Arga tidak menjawab cepat. Ia membuka mapnya, mengeluarkan satu salinan revisi nomor tiga, lalu menaruhnya di atas meja administrasi tanpa hentakan, tanpa drama. Di bawahnya, ia sisipkan lembar pengiriman internal yang menunjukkan dokumen penilaian dipindah dua kali—dari ruang arsip ke unit kelima, lalu ke meja verifikasi sebelum sampai ke ruang rapat kaca. Jalurnya terlalu rapi untuk disebut kacau. Jalurnya sengaja diarahkan.

“Kalau saya tak punya otorisasi,” ujar Arga pelan, “kenapa revisi nomor tiga masih tercatat lewat jalur yang diminta rumah sakit sendiri? Dan kenapa tanda tangan di belakang berkas penilaian itu bukan saya yang buat?”

Staf administrasi itu berhenti mengetik. Tangannya sempat melayang di atas keyboard, lalu turun lagi. Nama revisi itu punya bobot. Ada tenggat lelang pengadaan layanan yang sedang menunggu konfirmasi di sistem. Satu dokumen salah kirim, satu verifikasi macet, dan seluruh agenda siang ini bisa bergeser.

Tara memiringkan kepala. “Kau masih mau main prosedur?”

Arga menoleh ke layar, bukan ke Tara. “Bukan main. Saya mengajukan dokumen tepat waktu. Kalau sistem kalian menutup akses saya, itu masalah kalian. Bukan masalah tenggat.”

Nadine datang dari arah lift, wajahnya tertahan di tengah dua tekanan. Ia melihat map di tangan Arga, lalu melihat Tara, lalu kembali ke Arga. Ada sesuatu di wajahnya yang belum jadi keputusan, hanya kegelisahan yang dipaksa berdiri tegak. “Arga,” katanya rendah, nyaris seperti peringatan, “kalau kamu dorong ini terlalu jauh, nama keluarga ikut masuk audit.”

“Itu sudah masuk,” jawab Arga tanpa mengangkat suara. “Sejak aksesku dicabut resmi, semuanya jadi catatan.”

Nadine menegang. Ia tahu arti kalimat itu: diam bukan netral, diam ikut menenggelamkan. Dan untuk pertama kalinya ia melihat kemenangan Arga bukan sebagai serangan ke Tara, melainkan sebagai pintu yang membuka risiko ke seluruh nama Wiratama. Tidak ada tempat aman di antara keduanya.

Tara menyilangkan tangan. “Audit? Kalau benar ada yang keliru, biar berjalan. Kau tidak punya kursi di sini.”

“Justru karena itu,” kata Arga. “Saya tidak perlu kursi. Saya perlu verifikasi.”

Sebelum Tara sempat memotong lagi, seseorang dari lorong belakang melangkah keluar: Mira Sanjaya. Wajahnya pucat, map cokelat di dada, matanya seperti orang yang sudah dihukum bahkan sebelum berbicara. Ia berhenti dua langkah dari meja, tidak berani terlalu dekat pada Tara, tidak berani terlalu jauh dari Arga.

“Saya punya salinan yang tidak tercatat,” katanya lirih. “Bukti alur dokumen dan catatan penilaian yang dipindah paksa. Kalau ini masuk, nama yang ditutup-tutupi akan keluar.”

Dr. Raka menyipit. Tara menatap Mira seperti menakar apakah perempuan itu bisa dibeli atau harus dihancurkan. Mira menggeser map cokelat itu setengah inci, tapi belum menyerahkannya. Terlalu banyak yang ia taruhkan; satu tanda tangan resmi bisa menutup kariernya sendiri.

Arga melihat itu, lalu menurunkan nada suaranya. “Kalau kamu beri sekarang, mereka akan menekanmu habis. Kalau kamu tahan, dokumen ini tetap hidup.”

Mira menelan ludah. Rasa takutnya nyata, tapi lebih nyata lagi bahwa ia sudah terlalu jauh untuk mundur tanpa hancur. Ia tidak menyerahkan mapnya, namun ia juga tidak menariknya lagi. Itu cukup untuk mengubah udara di koridor.

Staf administrasi menatap layar, lalu menatap dokumen Arga, lalu menelan napas. Jari-jarinya bergerak cepat, memanggil verifikasi ulang dan menandai status agenda siang sebagai tertahan sementara. Di sisi lift kaca, dua petugas keamanan yang tadi berdiri santai kini diminta menunggu. Mereka tidak masuk, tapi mereka juga tidak bisa terus berjalan.

“Mohon tunggu,” kata staf itu, kali ini suaranya tak lagi sekadar sopan. “Dokumen Pak Arga harus diverifikasi ulang. Agenda lelang belum bisa dilanjutkan sebelum palu ketua panitia jatuh. Kalau data ini valid, jadwal hari ini harus dihentikan.”

Untuk sesaat, Tara tidak bicara. Itu lebih buruk dari teriakannya. Wajahnya masih tenang, tapi di mata itu mulai terlihat hitungan balasan. Nadine merasakan udara koridor berubah: bukan lagi soal Arga diusir, melainkan siapa yang punya hak menahan seluruh ruangan bergerak.

Arga menutup mapnya perlahan. Ia sudah menang satu langkah—cukup untuk memaksa rumah sakit berhenti, cukup untuk membuat semua orang di koridor itu mengerti bahwa pencabutan akses tidak berarti pencabutan pengaruh. Tara menatapnya seperti menyimpan nama baru untuk dibalas nanti.

Dan saat staf administrasi mengulangi permintaan verifikasi, telepon Tara bergetar. Ia melirik layar, lalu memandang Arga dengan senyum tipis yang tidak menyimpan hangat apa pun. “Kalau begitu,” katanya, “kita buka aib lama keluarga.”

Chapter 6 - Nadine Dipaksa Memilih, Bukan Menonton

Pukul lelang bergeser empat menit lebih cepat dari jadwal, dan perubahan kecil itu terasa seperti ancaman. Di lorong samping rumah sakit yang sempit, dekat pintu servis dan kursi tunggu staf, Arga berdiri dengan map cokelat yang ujungnya sudah lecek, sementara Nadine menahan langkahnya di depan akses kartu yang baru saja dinonaktifkan atas nama suaminya.

Kartu itu masih tergantung di leher Arga, tapi lampu merah di pembaca sistem sudah mati. Di atas kepala mereka, layar pengumuman internal menampilkan agenda tender ruang operasi dan daftar peserta yang telah dikunci. Nama Arga tidak ada. Nama Wiratama ada. Itu yang membuat wajah Nadine menegang lebih dari sekadar marah.

“Kalau kamu datang untuk minta aku pilih sisi,” kata Nadine pelan, suara yang biasa dipakai saat ia masih mencoba menjaga rumah tetap utuh, “kamu salah cara.”

Arga tidak membantah. Ia membuka map itu, memperlihatkan halaman belakang berkas penilaian dengan tanda tangan yang dipalsukan, lalu lembar pengiriman internal yang menunjukkan jalur dokumen dipindah dua kali sebelum masuk ruang rapat kaca. Tangannya tenang. Tidak ada getar pamer, hanya bukti yang disusun rapi.

“Netral itu bukan aman,” kata Arga. “Netral itu tinggal tunggu tenggelam lebih dulu.”

Nadine menatap tanda tangan itu lama. Di belakangnya, pintu servis sesekali terbuka, memperlihatkan staf yang lalu-lalang membawa berkas, botol infus, dan troli steril. Rumah sakit itu berkilat, mahal, dan panik di tempat yang sama. Bau disinfektan bercampur aroma kopi mahal dari lounge staf. Seolah uang sendiri ikut berkeringat.

“Aku belum mau percaya Tara melakukan ini tanpa alasan,” ujar Nadine, tapi kalimatnya terdengar lebih seperti kebiasaan keluarga ketimbang pembelaan.

“Alasannya ada di bawah tanda tangan.” Arga menggeser satu lembar lagi. Di situ ada catatan distribusi nomor revisi yang cocok dengan salinan yang membuat keputusan tender runtuh di ruang rapat kaca. “Berkas ini tidak salah kirim. Diarahkan. Nama aku dipakai untuk menutup aliran uang. Dan kalau kamu masih diam, nama keluarga kalian ikut dibawa audit.”

Nadine menelan napas. Itu bukan ancaman kosong; tadi ia sudah melihat sendiri staf keuangan mulai menutup pintu ruangan mereka, dan dua nama di papan disposisi digaris merah. Satu untuk unit tender. Satu untuk arsip lama.

Sebelum Nadine sempat menjawab, sepatu hak rendah berhenti di ujung lorong.

Mira Sanjaya muncul dengan map abu-abu tipis yang dijepit kuat di dada, matanya cekung karena semalam tak tidur. Ia melirik kartu akses Arga yang padam, lalu ke Nadine, lalu ke halaman belakang berkas di tangan Arga.

“Aku tidak datang untuk menambah keributan,” katanya. Suaranya rendah, tapi ada sesuatu yang sudah pecah di dalamnya. Ia membuka map abu-abu itu dan mengeluarkan satu salinan catatan yang tak tercatat di sistem. Di atasnya ada kode transfer dokumen, jam perpindahan, dan paraf petugas arsip yang seharusnya tidak ada di jalur tender. “Ini salinan yang mereka sembunyikan. Nomor revisi tiga dipakai sebagai pengunci. Jalurnya diset dari dalam. Bukan kacau. Bukan salah kirim.”

Nadine memejam sekilas. Ia tahu, sekarang, bahwa diam bukan tengah-tengah. Diam adalah ikut menutup.

Mira tidak menyerahkan map itu langsung. Jarinya menegang di tepi kertas. “Kalau ini keluar, karierku selesai.”

“Kalau ini tidak keluar,” kata Arga, “orang lain yang diselesaikan.”

Kalimat itu tidak keras, tapi Nadine melihat dampaknya. Punggung Mira sedikit turun, seperti orang yang baru sadar ia sudah berdiri terlalu dekat dengan jurang terlalu lama. Ia akhirnya meletakkan map abu-abu itu di atas map cokelat Arga, menambah satu lapis bukti di atas lapis kebohongan.

Di ujung lorong, notifikasi di panel dinding berbunyi: agenda tender menunggu verifikasi akhir. Tersisa sebelas menit.

Arga memasukkan halaman-halaman itu satu per satu ke susunan berkas yang lebih rapi. Tidak ada gerakan sia-sia. Ia menandai formulir keberatan prosedural, menyertakan salinan lembar pengiriman, lalu menulis nomor revisi yang membuat sistem rumah sakit harus berhenti, bukan melanjutkan. Nadine menyaksikan tangannya bekerja seperti mesin yang tahu betul bagian mana dari bangunan yang harus diputus agar seluruh papan status bergeser.

“Kalau aku ikut diam,” suara Nadine akhirnya keluar, kering dan kecil, “aku tetap salah di mata siapa pun yang nanti dihitung.”

Arga mengangkat pandangannya sebentar. Bukan lembut, bukan menang. Hanya jernih. “Kali ini, pilihannya kelihatan.”

Saat Mira mundur setengah langkah, Arga membawa map itu ke meja verifikasi mobile di ujung lorong dan menyerahkannya tepat sebelum sistem menutup agenda. Petugas yang menerima berkas itu berhenti membaca, lalu memanggil atasannya. Dua staf lain ikut mendekat. Ekspresi mereka berubah bukan karena drama, melainkan karena prosedur yang tak bisa diputar balik lagi.

Untuk pertama kalinya sejak pencabutan akses, rumah sakit benar-benar menghentikan agenda mereka karena satu dokumen yang diajukan tepat waktu.

Nadine tidak mengatakan apa-apa. Tapi ia juga tidak lagi menyebut nama Tara untuk membela. Diamnya berubah bentuk; dari payung keluarga menjadi retakan yang bisa dilihat semua orang yang berdiri di lorong itu.

Dan dari ruang rapat kaca di seberang koridor, suara Dr. Raka yang dipanggil untuk klarifikasi mulai terdengar memotong udara—tanda bahwa balasan sudah bergerak. Arga menatap pintu itu, lalu berkas di tangannya, sadar bahwa kemenangan kecil ini baru membuka serangan yang lebih kotor. Jika Tara memilih membalas, ia hampir pasti akan membongkar aib lama keluarga. Dan dari aib itu, Arga tahu, ada nama lain yang lebih besar menunggu di belakang skema rumah sakit.

Bukti Tak Tercatat, Harga yang Hampir Tidak Dibayar

Pukul 09.47. Di jalur servis rumah sakit yang sempit, aroma parfum mahal dari koridor VIP masih menempel di udara, bercampur desinfektan dan keringat dingin. Arga berdiri setengah langkah di belakang troli linen, kartu aksesnya sudah mati, namanya sudah dicoret dari sistem. Di layar ponsel staf keamanan yang lewat, statusnya bahkan tak lagi muncul sebagai tamu—hanya sebagai akses ditolak. Di saat yang sama, di ujung lorong kaca, timer tender besar di ruang rapat masih berjalan: 12 menit sebelum penutupan penawaran akhir.

Mira Sanjaya menyelip keluar dari pintu samping, jaket kerjanya kusut, wajahnya pucat tapi matanya tajam seperti orang yang sudah kalah sekali dan tidak mau kalah lagi. Ia menoleh cepat ke kamera, lalu menarik Arga dan Nadine ke sudut servis yang tertutup rak obat cadangan.

“Kalau kamu mau ini hidup, jangan paksa aku berdiri di depan kamera utama,” bisiknya.

Nadine menahan napas. Di tangan Mira ada amplop cokelat yang sudutnya sudah lembek karena keringat. Arga tidak langsung mengambilnya. Ia menatap amplop itu, lalu ke tangan Mira yang bergetar kecil. Orang itu tidak datang membawa keberanian; ia datang membawa sisa nyali.

“Buka,” kata Arga pendek.

Mira merobek sisi amplop dengan kuku. Dari dalamnya jatuh tiga lembar yang dilaminasi tipis: catatan valuer internal, log waktu masuk dokumen, dan satu print-out alur pengiriman. Ada stempel jam 08.13, lalu 08.29, lalu 08.41. Dokumen yang sama berpindah dua kali sebelum masuk ruang rapat kaca. Di lembar valuer, satu baris angka ditebalkan dengan tinta merah: penyesuaian nilai aset diturunkan di bawah ambang wajar. Di halaman belakang ada tanda tangan yang menyerupai nama Arga—canggung, dibentuk oleh tangan yang terlalu percaya diri dan tidak pernah melihat tanda tangannya dari dekat.

Nadine menatap kertas itu seolah kertas itu baru saja mengubah bentuk keluarga mereka.

Mira menggeser satu lembar lagi. “Catatan waktu ini bukan dari sistem utama. Ini dari terminal penilaian internal. Ada orang yang sengaja menahan file di jalur belakang, lalu memindahkannya dua kali supaya jejaknya putus.”

Arga membaca cepat. Tidak ada emosi di wajahnya, tapi rahangnya mengeras satu kali saat ia menangkap nama file yang sama dengan berkas penilaian yang tadi dibacakan di ruang rapat kaca. Ini bukan salah input. Ini rute. Ini desain.

“Mengapa kamu bawa ke sini?” tanya Nadine pelan.

Mira tertawa tanpa suara. “Karena kalau saya kasih ke direktur, saya habis. Kalau saya diam, kalian habis. Saya pernah dicatat sebagai pengganggu karena bicara jujur satu kali. Mereka tidak memaafkan orang seperti saya.”

Arga menutup amplop itu kembali, lalu mengamati arah pintu kaca. Di luar, siluet Tara bergerak cepat di balik dinding transparan. Dr. Raka berdiri di sampingnya, telepon di telinga, wajahnya tetap tenang seperti orang yang sudah menyiapkan versi resmi sebelum kejadian selesai. Dari celah pintu, suara rapat terdengar putus-putus: agenda final, penandatanganan, pengesahan.

Tara masuk setengah langkah ke koridor servis tanpa mengangkat suara. Itu justru lebih tajam.

“Arga. Cukup.” Matanya menempel pada amplop di tangan Mira. “Kamu bukan lagi bagian proses ini. Aksesmu dicabut. Arsip dikunci. Ruang rapat ditutup untukmu. Kalau kamu masih memaksa, kamu menyeret keluarga Wiratama ke audit yang belum tentu bisa kita kendalikan.”

Nadine memejam sekali. Kalimat itu bukan ancaman kosong. Itu pengakuan bahwa nama keluarga sudah jadi beban di papan yang lebih besar.

Arga tidak bereaksi pada nada Tara. Ia membuka lembar pengiriman internal dan menunjukkannya ke Nadine, bukan untuk pamer, tapi agar ia melihat urutannya sendiri. “Dua kali dipindah. Satu kali dari arsip, satu kali dari ruang penilaian. Lalu masuk ke ruang rapat saat semua orang yakin file asli sudah aman.”

Nadine mengikuti garis itu, dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, keraguan di wajahnya bergeser menjadi sesuatu yang lebih berbahaya: pengertian.

Di kejauhan, notifikasi di layar petugas administrasi berbunyi keras. Satu staf memanggil nama Dr. Raka. Proses tender resmi telah masuk fase penutupan. Tak ada ruang untuk pengulangan.

Arga menatap Mira. “Catatan ini cukup untuk menghentikan prosedur kalau diajukan lewat jalur lelang resmi.”

Mira menegang. “Kalau kamu salah langkah, mereka habiskan saya dulu.”

“Aku tahu.”

Tidak ada janji besar. Hanya itu. Dan justru karena itu Mira menyerahkan satu salinan lagi, yang dilipat rapat di dalam map tipis transparan. Tangan mereka bersentuhan singkat—cukup untuk mengerti risiko, tidak cukup untuk mengubahnya.

Tara melangkah maju, kali ini lebih dingin. “Kamu pikir satu kertas bisa menyelamatkanmu?”

Arga memasukkan amplop ke saku dalam jas pinjaman yang masih belum pas di bahunya. Lalu ia menatap jam dinding koridor servis: 09.56.

“Bukan menyelamatkan aku,” katanya. “Menghentikan kalian.”

Ia bergerak ke meja administrasi sementara Tara dan Dr. Raka sempat kehilangan ritme. Di loket kecil itu, di bawah lampu putih yang membuat semuanya tampak lebih telanjang, Arga menekan formulir keberatan tender yang belum sempat dicabut status pengajuannya. Stempel, lampiran, catatan waktu, dan berkas tak tercatat dari Mira disusun ulang di depan mata staf yang mendadak tak berani pura-pura tidak melihat.

Petugas itu memandang layar, lalu memandang Arga, lalu menelan ludah. “Ini… harus kami tahan dulu.”

Di ruang rapat kaca, pintu benar-benar terbuka setengah. Agenda berhenti. Beberapa kepala menoleh. Nama Wiratama yang tadi masih dipakai sebagai tameng kini justru menjadi alasan penghentian formal.

Arga tidak tersenyum. Ia hanya berdiri lurus saat prosedur lelang resmi dipaksa ulang tepat sebelum batas waktu. Untuk pertama kalinya sejak aksesnya dicabut, rumah sakit yang mewah itu harus menghentikan agenda mereka karena satu dokumen yang ia ajukan tepat waktu.

Di balik kaca, Tara sudah menatapnya seperti orang yang baru menemukan perang yang lebih mahal dari yang ia siapkan. Dan Arga tahu: serangan balasan berikutnya tidak akan datang lewat pintu arsip, melainkan lewat aib lama keluarga—dan dari sana, mungkin, nama yang lebih besar di belakang skema rumah sakit.

Prosedur Lelang yang Memaksa Rumah Sakit Berhenti

“Rapat ditutup sekarang,” kata Dr. Raka cepat, tangannya sudah mengarah ke map tender di meja kaca.

Tara langsung berdiri. “Benar. Ini urusan internal keluarga Wiratama.”

Arga Pratama melangkah masuk tanpa ragu, map krem di tangan. “Belum. Saya ajukan dokumen final lewat sekretariat, nomor registrasi lengkap.”

Ruangan mendadak senyap.

Nadine, yang sejak tadi duduk kaku di ujung meja, menoleh. “Arga… itu berkas apa?”

“Lembar pengiriman, daftar penawaran, dan bukti serah terima,” jawab Arga datar, lalu meletakkan map itu di depan panel rapat. “Kalau prosedur mau jalan, harus dibaca.”

Tara menahan napas, lalu mendesis, “Kau berani sekali masuk ke sini.”

“Bukan berani,” kata Arga. “Sah.”

Petugas administrasi di belakang pintu sudah melihat nomor agenda di layar. Beberapa staf mulai saling pandang. Dr. Raka meraih ponsel, tapi sistem notifikasi lebih dulu berbunyi: agenda tender rumah sakit otomatis tertahan.

Tara kehilangan warna wajahnya. “Siapa yang mengubah jalur masuk dokumen ini?”

Arga menatapnya. “Nama yang kau sebut tadi malam.” Ia membuka halaman terakhir.

Dan aib keluarga yang Tara lemparkan ke Arga justru mulai memunculkan nama lain yang jauh lebih besar.

Nama itu terpampang di layar notifikasi internal: Wiratama Holdings.

Ruang rapat mendadak sunyi. Dr. Raka membeku, jarinya masih menggantung di atas ponsel. Tara menoleh cepat ke staf, lalu ke Arga, seolah berharap semuanya salah baca. Tapi Arga sudah menyerahkan map itu ke meja, tenang, rapi, seperti orang yang baru saja meletakkan bukti di tempat yang semestinya.

“Dokumen final masuk lewat jalur compliance,” katanya datar. “Kalau rapat dilanjutkan, prosedur harus menunggu verifikasi.”

Salah satu staf menelan ludah. Chairperson di ujung meja menutup tablet pelan, wajahnya berubah kaku.

Tara berdiri terlalu cepat, kursinya terseret keras. “Kamu sengaja?”

Arga mengangkat mata. “Aku mengikuti aturan yang kau pakai untuk menekanku.”

Kalimat itu menghantam lebih keras daripada teriakan. Di balik kaca, beberapa kepala staf sudah menunduk, pura-pura membaca berkas. Nama Wiratama menggantung di udara, bukan lagi aib kecil, melainkan pintu ke masalah yang lebih besar—dan kali ini, Tara yang tampak kehilangan pijakan.

Arga menaruh map itu di atas meja, tepat di depan panel tender. “Berita acara penerimaan, nomor registrasi, tanda tangan petugas loket, dan cap waktu. Lengkap.”

Dr. Raka menatap cepat, wajahnya mendadak kaku. “Ini—”

“Masuk jalur resmi,” potong Arga. Suaranya datar, tapi cukup keras untuk didengar semua orang. “Kalau rapat ditutup sekarang, berarti ada yang sengaja menahan dokumen sah.”

Tara berdiri setengah bangkit. “Kau berani menuduh—”

“Bukan menuduh. Meminta dicatat,” kata Arga.

Seorang staf hukum langsung meraih map itu. Yang lain saling pandang. Tak ada yang bergerak untuk menutup rapat lagi; ruangan justru membeku oleh prosedur yang tak bisa dipatahkan.

Tara menoleh tajam ke sisi meja. “Siapa yang mengizinkan ini?”

Tidak ada jawaban.

Di dalam diam yang memanjang itu, nama Wiratama terasa makin berat—dan dari celah yang terbuka, nama lain mulai muncul di ujung bisik staf, jauh lebih besar dari skandal keluarga yang tadi ingin dijadikan tameng.

Arga tidak menyela. Ia hanya menggeser map itu ke tengah meja, tepat di bawah logo RS Wiratama. “Ini jalur pengajuan resmi, Bu Tara. Tanda terima, nomor agenda, dan lampiran revisi kontrak.”

Dr. Raka meraih lembar teratas, lalu wajahnya mengeras. Stempel sekretariat pengadaan benar-benar ada di sana.

Tara berdiri terlalu cepat, kursinya bergeser nyaring. “Hentikan rapat ini. Sekarang.”

“Tidak bisa,” jawab sekretaris dengan suara kecil. “Kalau dokumen sudah masuk sistem, agenda tender harus tertahan sampai verifikasi selesai.”

Beberapa staf saling pandang. Ponsel mulai turun dari telinga ke pangkuan; semua orang mendengar.

Arga akhirnya mengangkat mata ke Tara. Tenang, tapi tajam. “Kalau ada yang ingin disembunyikan, bukan saya yang terlambat.”

Wajah Tara memucat karena amarah. Di ujung meja, seorang staf menyebut nama vendor lama dengan lirih—lalu nama itu disambung nama direktur keuangan. Ruangan langsung hening lagi, lebih dingin dari sebelumnya.

Arga mengeluarkan lembar pengiriman berstempel merah, lalu meletakkannya tepat di tengah meja. “Ini jalur resmi. Kalau agenda tender mau dilanjutkan, semua dokumen harus dibacakan sesuai urutan.”

Dr. Raka menatap jam, lalu beralih ke Tara. “Kita tidak bisa menutup rapat di tengah pengajuan legal.”

“Tutup sekarang,” desis Tara, suaranya pecah. “Siapa yang memberi dia akses?”

Tak ada yang menjawab. Nadine, yang sejak tadi diam, justru menegakkan punggung. Arga membuka halaman terakhir.

“Di sini ada tanda tangan penerima internal. Bukan cuma vendor lama.” Matanya bergerak pelan ke deret staf. “Ada nama dari keuangan rumah sakit.”

Tara tersentak. Kursinya bergeser keras. “Berhenti!”

Terlambat. Salah satu staf sudah membaca keras-keras nama itu, dan seluruh ruangan berubah.

Agenda tender rumah sakit resmi tertahan. Tara kehilangan kendali di depan staf, sementara aib keluarga yang ia lemparkan justru membuka nama lain yang lebih besar.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced