Novel

Chapter 5: Chapter 5

Di koridor VIP rumah sakit, Tara resmi mencabut akses Arga dari sistem, tetapi Arga membalik pengusiran menjadi ancaman audit dengan lembar pengiriman internal dan berkas bertanda tangan palsu. Nadine melihat nama Wiratama ikut terseret. Saat Tara mencoba menutup semua pintu, Mira Sanjaya muncul membawa bukti tak tercatat yang bisa menjatuhkan lebih jauh, tetapi risikonya menghancurkan kariernya sendiri. Di koridor VIP rumah sakit, Arga menekan Nadine dengan bukti jalur dokumen yang diarahkan dan tanda tangan palsu atas namanya, sementara Tara dan Dr. Raka kehilangan pijakan saat audit mulai menyeret nama Wiratama. Nadine sadar netralitas berarti ikut menenggelamkan keluarga, lalu Mira Sanjaya muncul membawa bukti tak tercatat yang bisa menjatuhkan lebih jauh tetapi mengorbankan kariernya. Scene berakhir dengan Arga siap memakai bukti itu untuk memaksa prosedur lelang berhenti tepat waktu. Arga menahan pencabutan akses resmi Tara dengan bukti jalur dokumen yang diarahkan dan tanda tangan palsu, lalu memaksa tekanan bergeser ke audit yang mulai mengancam nama Wiratama. Di lorong belakang, Mira muncul membawa amplop bukti tak tercatat, tetapi ia belum berani menyerahkannya karena taruhannya adalah kariernya sendiri. Arga tidak memperlakukannya sebagai alat; ia memberi ruang dan menyiapkan langkah lewat prosedur lelang, menutup scene dengan ancaman bahwa rumah sakit mungkin harus menghentikan agenda mereka tepat waktu. Arga menghentikan agenda tender rumah sakit dengan bukti jalur dokumen, tanda tangan palsu, dan notifikasi audit yang menyeret nama Wiratama. Tara kehilangan kendali penuh di depan staf, Nadine sadar netralitas berarti ikut tenggelam, dan Mira muncul membawa bukti tak tercatat yang bisa menjatuhkan semuanya tetapi menghancurkan kariernya sendiri.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Chapter 5

Chapter 5 - Koridor VIP yang Mengunci Nama

Pukul 07.12, sebelum papan antrean di koridor VIP sempat berganti angka, seorang staf administrasi sudah berdiri di depan Arga dengan map kuning setengah terbuka dan nada yang terlalu sopan untuk menjadi ramah.

"Nama Bapak sudah dicabut dari akses internal. Silakan tunggu di luar area administrasi."

Di belakang staf itu, layar antrean memantulkan wajah-wajah yang pura-pura sibuk. Rumah sakit ini selalu berbau dana besar: disinfektan mahal, kopi kantor yang baru diseduh, dan ketakutan yang dipoles dengan marmer. Arga berdiri tegak tanpa menggeser rahangnya. Di tangan kirinya ada lembar pengiriman internal yang sudah dilipat dua kali, dan di baliknya bersembunyi berkas penilaian yang semalam hampir dibakar oleh Tara.

Tara Wiratama tidak menunggu siapa pun. Ia berada di sisi meja admin seperti pemilik ruangan, satu tangan menekan map akses, satu tangan lain menunjuk layar.

"Cabut juga akses arsip dan ruang rapat," katanya datar. "Kalau perlu, buat catatan bahwa yang bersangkutan tidak berwenang menerima salinan apa pun."

Dr. Raka Mahendra, berdiri sedikit di belakang dengan jas yang masih rapi, tidak membantah. Ia hanya menatap Arga seperti menatap noda yang belum sempat dibersihkan.

Nadine ada di sisi lorong, diam, wajahnya tertahan oleh sesuatu yang tidak ingin ia akui. Ia melihat nama Arga memang sudah ditarik dari sistem—tapi di saat yang sama, notifikasi audit kecil berkedip di monitor admin karena revisi nomor tiga yang kemarin dibacakan keras-keras masih menempel di riwayat perubahan. Nama Wiratama ikut terseret, bukan hanya Arga.

Arga tidak memberi Tara kepuasan berupa emosi. Ia membuka lembar pengiriman internal itu di atas meja admin, tepat di bawah kamera.

"Silakan cek tanggal," katanya. "Lalu cek perpindahan dua kali. Dari ruang arsip ke pos perawat, lalu dipindah lagi ke ruang rapat. Bukan salah kirim. Diarahkan."

Staf administrasi menelan ludah dan menoleh ke layar. Tara mengeraskan rahang.

"Itu bisa saja manipulasi internal," ucapnya.

"Kalau manipulasi, kenapa ada paraf penerima di jam yang tidak cocok dengan shift?" Arga menggeser satu halaman lagi. Ujung jarinya menekan bagian belakang berkas penilaian. "Dan ini. Tanda tangan di sini bukan milik saya."

Dr. Raka melangkah maju setengah tapak. "Kau menuduh tanpa otorisasi."

Arga akhirnya memandangnya. Tatapannya tidak naik, tidak meledak—hanya menutup jalan mundur.

"Saya tidak menuduh. Saya menunjukkan." Ia mengetuk lembar itu sekali. "Kalau rumah sakit mau menghapus nama saya, silakan. Tapi audit sudah membaca jalurnya. Dan begitu mereka mulai membaca ulang aliran dokumen, mereka tidak berhenti di saya."

Kalimat itu membuat udara di koridor berubah. Bukan karena suara keras, tetapi karena beberapa staf admin langsung berhenti mengetik. Nadine melihat layar kecil di meja depan: status akses Arga memang merah. Status nama Wiratama di log audit justru baru menyala kuning.

Tara menangkapnya juga. Itu yang membuat wajahnya mengeras lebih dalam.

"Kau pikir satu lembar pengiriman bisa mengubah posisi tawarmu?" tanyanya.

"Tidak," jawab Arga. "Tapi cukup untuk membuat kalian tidak bisa mengusir saya tanpa meninggalkan jejak."

Itu baru terasa sebagai ancaman. Bukan kata-kata, melainkan konsekuensi.

Tara menggeser map akses ke staf administrasi. "Jalankan prosedur. Sekarang."

Staf itu mulai menekan tombol, dan untuk sekejap Arga benar-benar tampak akan ditutup dari semua pintu. Lalu satu suara perempuan memotong lorong sebelum penolakan itu selesai dibekukan.

"Jangan."

Mira Sanjaya muncul dari ujung koridor, napasnya belum stabil, tangan kanannya mencengkeram amplop tipis yang tidak berlabel. Ia tidak memakai seragam rumah sakit; ia tampak seperti orang yang datang karena dipaksa oleh rasa bersalah yang terlalu lama ditahan.

Semua mata beralih padanya.

Mira berhenti di depan meja admin, menatap langsung ke monitor, lalu ke Arga. Suaranya pelan, tetapi cukup untuk terdengar.

"Ada satu potong bukti yang tidak masuk sistem," katanya. "Kalau saya serahkan, nama saya habis. Karier saya selesai."

Nadine menahan napas. Tara tidak bergerak, tapi matanya tajam seperti pisau yang baru diasah.

Arga tidak mendekat. Ia hanya menunggu, membiarkan keputusan itu terasa milik Mira sepenuhnya.

Di koridor VIP yang mengunci nama, status board sudah bergeser: Arga belum diakui, tetapi Tara kini tak lagi punya kemewahan untuk mengusirnya tanpa risiko audit. Dan jika Mira benar-benar menyerahkan amplop itu, permainan ini akan naik satu tingkat—bukan lagi soal rasa malu, melainkan siapa yang lebih dulu dihancurkan oleh prosedur lelang yang akan datang tepat waktu.

Nadine Melihat Harga Sebuah Netralitas

Pukul 10.17, satu menit setelah Tara mencabut akses Arga dari sistem tender, koridor VIP rumah sakit masih menyimpan bau logam mahal dan panik. Di ujung jendela yang menghadap parkiran ambulans, Arga berdiri dengan map cokelat di tangan kiri; di kanan, lembar pengiriman internal yang sudah ia lipat berkali-kali sampai tepinya tajam seperti kartu bukti.

Nadine menarik lengannya ke sisi jendela, jauh dari meja admin yang kini ramai bukan oleh orang, melainkan oleh suara mesin cetak yang memuntahkan salinan revisi nomor tiga. “Jangan paksa ini jadi perang keluarga sekarang,” katanya lirih, tapi matanya tidak lepas dari map di tangan Arga. “Kalau nama Wiratama masuk audit penuh, yang hancur bukan cuma Tara.”

Arga tidak menoleh. “Nama itu sudah masuk sejak dokumen dipindah dua kali,” jawabnya datar. “Yang kita debatkan sekarang cuma siapa yang akan terlihat paling lama pura-pura tidak tahu.”

Di balik kaca, Dr. Raka berhenti di depan staf administrasi dengan wajah yang terlalu rapi untuk situasi yang sudah bocor. Tara berdiri setengah langkah di depannya, rahang kaku, seolah papan nama keluarga di dadanya bisa menahan arus. Ia baru saja mencoret Arga resmi dari akses tender, arsip, dan ruang rapat; kini salinan itu sudah menyebar ke meja panitia, dan konsekuensinya mulai mengunci pintu-pintu kecil yang biasa dipakai orang besar untuk kabur.

Nadine merasakan pertanyaan yang paling buruk: kalau Arga benar, berarti selama ini keluarganya tidak hanya menutup mata—mereka membantu mengatur arah pandang. “Tunjukkan jalurnya,” katanya akhirnya, lebih tajam dari yang ia inginkan.

Arga membuka lembar pengiriman. Jarinya berhenti di dua stempel waktu yang sengaja tak dipotong. “Masuk dari ruang penyimpanan pukul delapan dua belas. Keluar ke bagian verifikasi pukul delapan dua puluh satu. Dipindah lagi ke meja revisi pukul delapan tiga puluh empat. Bukan hilang. Diarahkan.” Ia menekan halaman belakang berkas penilaian. Tanda tangan palsu yang meniru namanya tampak jelas, seperti coretan yang dipaksa jadi bukti hidup. “Kalau nama ini dipakai untuk menutup pergerakan uang, berarti ada orang di dalam rumah sakit yang tahu siapa yang harus dijatuhkan dulu.”

Nadine menatap garis-garis itu lebih lama dari yang nyaman. Ia mengenali bahasa papan skor yang sesungguhnya: bukan kemenangan, melainkan siapa yang dipilih untuk menanggungnya. Dan hari ini, nama Wiratama sedang ditarik ke lampu audit, bukan diselamatkan. Netralitas tiba-tiba terasa seperti tanda tangan di bawah tenggelamnya kapal.

Tara menangkap arah percakapan mereka dan melangkah mendekat, suaranya rendah tapi keras di ruang sempit itu. “Kau masih mau melindungi dia, Nadine? Setelah dia merusak nama kita di depan staf?”

“Nama kalian,” Arga memotong tanpa meninggikan suara, “retak karena kalian sendiri yang menutup jalur bukti.”

Dr. Raka mengangkat tangan, mencoba mengembalikan wibawa yang sudah terlanjur berlubang. “Kalau ada bukti tambahan, serahkan ke jalur resmi. Jangan di koridor.”

Seolah menjawab tantangan itu, seorang perempuan muncul dari lift servis dengan map tipis di dada, langkahnya tertahan sejenak sebelum masuk ke cahaya koridor. Mira Sanjaya. Wajahnya pucat, tetapi tatapannya lurus pada Arga. Ia tidak datang seperti pemenang; ia datang seperti orang yang sudah menghitung harga dirinya dan tetap kalah.

“Ini tidak tercatat di sistem,” katanya pelan. Ia menahan map itu seolah kertas di dalamnya bisa membakar telapak tangan. “Satu potong bukti tambahan. Kalau saya serahkan, nama saya selesai di balai lelang dan rumah sakit. Karier saya—habis.”

Koridor mendadak sangat hening. Arga menatap map itu, lalu menatap jam dinding di atas meja admin. Deadline tender masih berjalan. Di belakang Mira, layar status menampilkan peringatan merah kecil: unggahan dokumen berikutnya akan menutup jendela revisi.

Untuk pertama kalinya sejak Tara mencabut aksesnya, Arga tidak bergerak marah. Ia justru menggeser map cokelatnya ke bawah lengan, menimbang satu detik, lalu berkata, “Serahkan ke saya. Setelah itu, mereka harus berhenti dulu.”

Mira belum mengulurkan tangan. Tapi Nadine sudah paham: kalau bukti itu keluar, keluarga Wiratama tidak lagi bisa bersembunyi di balik netralitas. Dan kalau tidak keluar, mereka semua ikut menandatangani tenggelamnya nama itu.

Chapter 5 - Mira Muncul Tanpa Tercatat

Tepat pukul 15.47, tiga menit sebelum ruang rapat kaca ditutup untuk penguncian agenda tender, sistem akses rumah sakit berbunyi sekali lagi di tangan Tara. Nama Arga masih tercoret merah di layar admin, sementara di ujung lorong belakang yang sempit—dekat ruang arsip dan pintu staf—ia berdiri dengan map cokelat tipis yang sudah mulai lecek di sudutnya.

Di sekeliling mereka, koridor mewah itu memantulkan dingin lampu LED dan bau antiseptik mahal yang bercampur parfum tamu VIP. Orang-orang berseragam lewat tanpa berani menatap lama. Semua tahu, jika tiket ruang rapat sudah dipindah ke server pusat, siapa pun tanpa akses resmi dianggap udara.

Tara tidak berbicara pelan. Ia mengangkat teleponnya, menatap Arga seperti menatap noda di lantai. “Aksesmu selesai. Tender selesai. Arsip selesai. Jangan berdiri di sini seolah masih punya tempat.”

Arga tidak bergerak. Matanya turun sebentar ke layar ponsel Nadine yang menyala di sampingnya—notifikasi audit internal baru masuk, menandai nama Wiratama sebagai titik telaah lanjutan. Itu cukup untuk membuat rahang Nadine mengencang, tapi ia masih belum memihak terang-terangan. Seperti biasa, ia menunggu siapa yang paling aman untuk diikuti.

Dr. Raka muncul dari pintu ruang rapat kaca dengan jas putih yang terlalu rapi untuk orang yang baru saja kalah di forum resmi. Wajahnya tetap tenang, tetapi kertas di tangannya bergetar tipis. “Kita lanjut sesuai jadwal. Laporan revisi nomor tiga sudah dibacakan. Tidak ada alasan menahan agenda.”

“Kalau begitu, baca ini,” kata Arga.

Ia mengeluarkan lembar pengiriman internal yang sudah dilipat dua kali, lalu berkas penilaian dengan halaman belakang terbuka. Di bawah lampu koridor, cap distribusi terlihat jelas: jalur dokumen itu dipindah dua kali sebelum masuk ke ruang rapat. Bukan salah kirim. Bukan admin lalai. Sengaja.

Tara menyambar map itu setengah langkah, tapi Arga menahan ujungnya tanpa drama. Cukup kuat untuk membuat map tetap di tangannya, cukup tenang untuk membuat Tara sadar penolakan itu hanya akan terlihat seperti panik.

“Nama saya dipakai di tanda tangan belakang,” kata Arga, suaranya datar. “Dan alurnya diarahkan. Kalau rumah sakit mau menutup mata, audit nanti yang membuka.”

Raka memandang halaman itu, lalu ke layar admin yang kini menampilkan jejak akses dan perubahan rute dokumen. Ia tidak suka fakta yang bisa dibaca orang lain. Itu terlihat dari caranya menelan ludah.

Nadine akhirnya mengambil satu langkah maju. “Tara,” katanya, lebih dingin dari biasanya, “kalau ini dipaksa hilang, yang hilang bukan Arga saja.” Ia menatap notifikasi audit di ponselnya sendiri. “Nama keluarga ikut ditarik.”

Kalimat itu lebih tajam daripada teriakan. Tara mendengarnya. Dan Arga tahu ia mendengarnya, karena untuk pertama kalinya, mata kakak iparnya tidak langsung mencari panggung.

Namun Tara belum habis. Ia menggeser tubuhnya, memberi isyarat ke dua staf keamanan. “Kalau perlu, bawa dia keluar. Semua aksesnya sudah dicabut resmi.”

“Sudah terlambat,” kata Arga.

Ia mengetuk halaman paling belakang berkas itu. Di sana, tanda tangan palsu yang menyerupai namanya berdiri di atas jalur biaya yang berputar ke entah siapa. Ada angka yang tidak cocok dengan laporan sebelumnya. Ada uang yang tidak pernah masuk ke pos resmi. Ada jejak yang, bila ditarik, bisa menyeret nama lama yang belum pernah dijelaskan dari kematian yang disebut wajar.

Di ujung koridor, suara sepatu kecil dan cepat berhenti. Mira Sanjaya berdiri setengah tersembunyi di balik troli berkas, seragam analisnya masih rapi, tetapi wajahnya pucat. Di tangan kanannya ada satu amplop abu-abu tanpa stempel sistem. Tidak terdaftar. Tidak masuk log. Tidak mungkin aman.

Tara melihatnya lebih dulu. “Jangan,” katanya singkat.

Mira tidak maju. Namun suaranya keluar, rendah dan pecah di ujung kalimat. “Kalau amplop ini saya serahkan, nama saya mati di sistem. Saya tidak akan dapat kerja lagi di mana pun yang tahu rumah sakit ini.”

Koridor mendadak hening. Bahkan staf admin berhenti mengetik.

Arga tidak meraih amplop itu. Ia hanya menoleh, memberi Mira ruang yang tidak diberikan siapa pun di rumah sakit itu. “Kalau isinya palsu, jangan keluar dari lorong itu,” katanya. “Kalau isinya asli, saya yang pasang di meja sebelum mereka menutup rapat.”

Mira menatapnya lama. Bukan karena percaya sepenuhnya—karena untuk pertama kali, ada orang yang tidak memperlakukannya sebagai alat habis pakai.

Tangan Mira tetap menggenggam amplop itu, tapi bahunya turun sedikit. Di hadapannya, Arga tidak menjanjikan perlindungan kosong. Ia menempatkan bukti itu ke dalam rangka yang lebih besar: prosedur, waktu, dan forum yang masih bisa dipaksa berhenti.

Tepat ketika Dr. Raka hendak memberi isyarat mematikan layar ruang rapat, Arga mengangkat map cokelatnya sedikit. “Kalau agenda itu jalan sekarang, saya ajukan dokumen lelang yang belum kalian potong waktunya.”

Tara menatapnya, curiga yang berubah jadi marah tertahan.

Arga sudah bergerak ke arah pintu ruang rapat kaca. Tenang. Terukur. Dengan satu bukti yang belum diserahkan, satu saksi yang masih ragu, dan satu detik sebelum sistem menutup semua jalan, ia siap menyerang balik lewat prosedur yang mereka kira sudah mati.

Dan untuk pertama kalinya sore itu, rumah sakit harus memilih: menutup agenda, atau menghentikannya.

Chapter 5 — Agenda Lelang Harus Berhenti

{"scene":"Begitu jam dinding ruang administrasi tender bergeser ke 15.18, Arga tahu mereka sengaja menekan sampai detik terakhir. Di balik pintu kaca ruang rapat, agenda lelang medis itu sudah dibuka setengah halaman; Dr. Raka berdiri dengan senyum profesional yang terlalu rapat, sementara Tara menahan map akses di dada seperti surat kematian. Di sisi lain, Nadine menyaksikan nama suaminya dihapus dari layar sistem, satu baris merah, resmi, tanpa suara. \n\n‘Nama saya boleh dicoret dari sistem,’ kata Arga datar, menaruh lembar pengiriman internal di atas meja administrasi. Kertas itu tidak dramatis, justru itulah yang membuatnya terasa lebih berbahaya. ‘Tapi jalur dokumennya tidak bisa kalian hapus. Dipindah dua kali dari ruang arsip ke ruang rapat. Revisi nomor tiga dibacakan keras-keras. Dan tanda tangan belakang berkas penilaian ini bukan milik saya.’\n\nSeorang staf administrasi menelan ludah. Dr. Raka memandang kertas itu sebentar terlalu lama, lalu menggeser tubuhnya seolah menutup pandangan orang lain. Tara justru melangkah maju, suaranya tajam tapi tertahan agar tetap terdengar seperti otoritas, bukan kepanikan. ‘Kamu sudah dicabut aksesnya, Arga. Jangan paksa rumah sakit menertawakan keluargamu sendiri.’\n\nArga tidak mengangkat nada. Itu yang membuat wajah Tara mengeras lebih cepat. ‘Kalau akses saya benar dicabut, kenapa sistem butuh dua kali pengalihan berkas untuk menutupi jejak? Kenapa revisi nomor tiga muncul setelah pengiriman awal ditahan? Dan kenapa nama keluarga Wiratama ikut ditarik audit?’\n\nNadine bergerak setengah langkah, lalu berhenti. Di layar kecil meja admin, notifikasi audit internal benar-benar sudah masuk. Nama Wiratama tidak lagi sekadar ditonton; ia dipetakan. Itu membuat wajah Nadine kehilangan warna. Ia paham terlalu cepat bahwa kemenangan Tara barusan bukan kemenangan bersih. Itu jaring yang ikut menyeret mereka semua.\n\nDr. Raka akhirnya bicara, lembut, seperti sedang menenangkan pasien. ‘Kalau ada kekeliruan administratif, kita bisa bahas internal. Tidak perlu dibaca di depan staf.’\n\nArga menoleh padanya. ‘Justru karena dibaca di depan staf, kalian tak bisa lagi menyebutnya kekeliruan.’\n\nKalimat itu membuat ruangan lebih sempit. Seorang petugas tender, yang tadi pura-pura sibuk dengan printer, menatap layar lalu pada Arga. Tidak ada orang yang suka berada di sisi pihak yang sedang dicatat audit. Tara melihat tatapan itu, dan untuk pertama kalinya sejak tadi, ia tidak segera menyerang. Ia sedang menghitung berapa banyak reputasi yang tersisa kalau Arga terus bicara.\n\nArga membuka map kedua. Di dalamnya ada salinan berkas penilaian dengan halaman belakang yang telah difotokopi ulang, cukup jelas untuk menunjukkan bekas tinta tanda tangan palsu. Di sudut bawah, nomor lot dan aliran pembayaran terhubung pada jalur yang namanya tidak langsung muncul, tapi cukup untuk menempelkan bayangan pada rumah sakit dan keluarga Wiratama. Bukan tuduhan liar—cukup untuk membuat orang yang paham angka merasa telanjang.\n\n‘Siapa yang menyisipkan tanda tangan ini?’ tanya Nadine pelan, nyaris tanpa sadar. Bukan pada Tara, bukan juga pada Arga. Pertanyaan itu keluar karena ia melihat apa yang tidak bisa lagi ia lindungi.\n\nTara menatap adiknya seperti hendak memotong kalimat itu di tenggorokan. ‘Kamu diam.’\n\nNamun Nadine tidak mundur. Wajahnya tetap tenang, tetapi suaranya berubah. ‘Kalau kita terus menutupnya, audit akan masuk lebih dalam. Bukan cuma meja ini.’\n\nItu pukulan kecil yang lebih menyakitkan daripada teriakan. Tara memahami bahasa itu: bukan soal benar atau salah lagi, melainkan siapa yang akan dikorbankan sebelum semuanya terbakar. Dr. Raka memiringkan kepala, mencari jalan keluar yang masih tampak mulia. Tetapi tak ada yang mulia di layar sistem yang sudah menandai akses dicabut dan agenda tertahan.\n\nLalu seseorang muncul dari koridor VIP. Mira Sanjaya. Kartu aksesnya tergenggam terlalu erat, wajahnya pucat tetapi mantap. Di tangannya ada satu amplop tipis, tak berstempel sistem, tak tercatat di log rumah sakit. Arga langsung tahu: itulah bukti yang tidak akan bisa mereka sangkal tanpa mengorbankan orang yang membawanya.\n\nMira berhenti di ambang pintu kaca. Suaranya rendah, seperti orang yang sedang menandatangani hidupnya sendiri. ‘Kalau ini saya serahkan, karier saya selesai.’ Ia menatap Arga, lalu Tara, lalu Dr. Raka. ‘Tapi kalau saya diam, yang lain akan terus dipakai jadi penutup.’\n\nArga tidak bergerak. Ia hanya menahan pandangannya pada amplop itu, pada beban yang cukup kecil untuk masuk saku, tapi cukup besar untuk menjatuhkan orang-orang di ruangan ini. Di belakangnya, notifikasi audit berkedip lagi. Agenda lelang masih terbuka di layar, tetapi kini semua orang di ruangan tahu satu hal: sebelum palu turun, rumah sakit sudah harus berhenti dulu—karena Arga baru saja menyiapkan satu dokumen yang datang tepat waktu untuk memaksa mereka menunggu."}

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced