Chapter 8
Pukul 14.07. Ruang rapat Restoran Wulandari bukan lagi sekadar tempat diskusi; ia telah berubah menjadi ruang interogasi yang menyesakkan. Aroma kaldu rempah yang biasanya menjadi kebanggaan keluarga kini tertutup oleh bau apek debu arsip dan keringat dingin yang menguar dari balik kemeja Dimas.
Arga berdiri di sisi meja stainless, sengaja menempati posisi pinggir yang selama ini menjadi tempatnya 'numpang hidup'. Namun, kali ini, ia tidak menunduk. Di tangannya, sebuah map biru berisi bukti-bukti yang ia kumpulkan dari gudang lama menjadi pusat gravitasi ruangan itu.
Ratna Wulandari duduk di ujung meja, jemarinya mencengkeram map hijau hingga buku-buku jarinya memutih. Di seberang mereka, perwakilan konsorsium pembeli strategis—Pak Hadi dan seorang pria berjas abu-abu—menatap tablet mereka dengan tatapan predator yang menunggu mangsa salah langkah.
"Jika berkas penilaian asli tidak muncul, harga akan jatuh," ujar pria berjas abu-abu itu datar, suaranya memotong ketegangan. "Dan jika manajemen tetap di tangan keluarga yang tidak transparan, kami tidak akan mengambil risiko. Kami akan menarik diri."
Ratna mengetuk meja, mencoba mempertahankan otoritasnya. "Restoran ini warisan. Kami yang menentukan operasional, bukan kalian."
"Kalau begitu, Ibu harus siap melihat angka valuasi terjun bebas," balas pria itu tanpa basa-basi. "Tanpa dokumen asli, aset ini hanyalah bangunan tua dengan utang tersembunyi."
Dimas menyambar, suaranya meninggi hingga pecah. "Jangan ajari kami cara mengelola bisnis sendiri! Dokumen yang hilang hanyalah masalah administrasi kecil. Arga, berhenti memprovokasi mereka!"
Arga menggeser map di depannya ke tengah meja. Suara gesekan kertas itu terdengar nyaring di tengah keheningan yang mencekik. "Bukan masalah kecil, Dimas. Ini sabotase sistematis."
Ratna menatap Arga dengan tatapan yang biasanya ia gunakan untuk mengusir pengemis. "Kalau kamu hanya ingin membuat keributan, keluar sekarang. Ini urusan keluarga."
Arga mengabaikan mertuanya. Ia membuka map, menunjukkan lembar pembanding yang telah ia tandai dengan stabilo. "Angka yang kalian bawa ke meja ini sudah dimanipulasi sebelum tender dimulai. Selisihnya bukan karena pasar, tapi karena ada arsip yang sengaja diubah. Urutan ini meloncat. Cap internal lama dipakai dua kali dengan tekanan tinta yang berbeda. Artinya, berkas asli dikeluarkan, diubah, lalu dikembalikan untuk menipu auditor."
Pak Hadi mencondongkan tubuh, matanya menyipit tajam pada dokumen tersebut. Ratna mengencangkan rahangnya, wajahnya memucat.
"Kamu menuduh keluarga saya memalsukan data di depan investor?" desis Ratna.
"Aku hanya menyajikan fakta," jawab Arga dingin. "Dan fakta tidak bisa dibungkam dengan otoritas."
Dimas bangkit, tubuhnya condong ke depan, napasnya memburu. "Tunjukkan berkas cadangannya kalau kamu berani!"
"Berkas itu ada," Arga menatap Dimas tepat di mata, membiarkan keheningan menggantung. "Tapi seseorang sengaja mengunci akses agar tidak ada yang bisa membuktikannya sebelum tender ditutup. Seseorang yang takut jika nilai asli restoran ini terungkap."
Pak Hadi menutup tabletnya. "Kami tidak punya waktu untuk drama. Jika laporan aset bersih tidak diverifikasi hari ini, konsorsium akan mundur atau memaksakan perombakan manajemen total."
Pintu geser terbuka. Maya masuk dengan napas terengah, matanya menyapu ruangan sebelum berhenti pada Arga. "Aku mau lihat lampiran yang hilang itu."
"Maya, jangan ikut campur!" bentak Dimas.
"Aku bagian dari keluarga ini, Dimas. Dan aku tidak akan membiarkan restoran ini hancur karena keserakahan yang disamarkan sebagai strategi," tegas Maya. Ia menatap ibunya, dan untuk pertama kalinya, Ratna melihat tatapan itu bukan lagi sebagai kepatuhan, melainkan tuntutan.
Arga menangkap momen itu. "Kalau Ibu ingin tahu siapa yang menekan harga warisan ini, jawabannya ada di ruang simpan belakang. Bukan di sini."
Tanpa menunggu izin, Arga melangkah keluar. Maya mengikuti. Di lorong belakang, Bu Sari, staf senior, sudah menunggu dengan kunci di tangan. "Bukan di rak atas, Arga. Ada laci musim lama yang disegel Bu Ratna. Orang mengira itu hanya stok lama."
Arga berlutut di depan lemari besi di pojok ruangan. Ada bekas goresan baru di engsel kunci. Ia membuka laci itu dan menemukan map penilaian asli. Di bagian belakang sampul, ia menemukan cap internal yang sama dengan yang ia temukan di ruang tender.
"Lihat ini," Arga menunjukkan cap ganda itu pada Maya. "Mereka sengaja memisahkan harga aset dari nilai jual warisan. Mereka menekan harga agar pembeli bisa masuk dengan kendali penuh. Ini bukan sekadar manipulasi tender, ini adalah upaya pengambilalihan paksa dari dalam."
Maya gemetar saat melihat paraf yang tertera di sana. "Ini bukan paraf resmi keluarga. Ini paraf..."
"Gudang Arsip Tiga," potong Bu Sari. "Dulu dipakai untuk map yang tidak boleh masuk buku resmi. Di sanalah semua rahasia PT Cakrawala Investama disimpan."
Langkah kaki terdengar di lorong. Dimas dan Ratna muncul, wajah mereka tegang. Dimas tampak pucat melihat map di tangan Arga. Ratna kehilangan kendali, otoritasnya runtuh di depan mata putrinya sendiri.
"Serahkan map itu!" perintah Ratna.
"Tidak," jawab Arga tegas. "Nama keluarga ini ditekan dari dalam. Aku menolak ikut menutupinya."
Maya berdiri di antara mereka, memegang map cadangan dengan erat. Ia menatap ibunya, lalu ke arah pintu tender. "Bu, kita perlu lihat apa yang ada di Gudang Arsip Tiga. Sekarang."
Arga tahu, saat ia membuka gudang itu, ia tidak hanya menemukan nilai asli restoran—ia akan mengungkap siapa yang sejak awal merancang kejatuhan keluarga Wulandari. Dan di hadapan pihak tender, pengakuan itu akan mengubah segalanya.