Novel

Chapter 9: Chapter 9

Arga berhasil membongkar manipulasi sistematis di Gudang Arsip Tiga dan menghadirkan bukti fisik di depan auditor serta konsorsium pembeli. Maya secara terbuka memihak Arga, mengungkap keterlibatan Dimas dan Pak Ruli, yang mengakibatkan hilangnya kendali legal Ratna atas izin operasional restoran.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Chapter 9

Langkah kaki Arga terhenti tepat di ambang pintu ruang rapat utama. Di dalam, Dimas sedang menyodorkan map tipis kepada perwakilan konsorsium PT Cakrawala Investama. Suasana ruangan itu kental dengan aroma kopi pahit dan ketegangan yang dipaksakan.

"Namanya tidak ada di daftar undangan, Arga. Kalau mau ikut dengar, tunggu di luar," ujar Dimas tanpa menoleh. Kalimat itu diucapkan dengan nada tenang, namun tujuannya jelas: memosisikan Arga sebagai pesuruh yang tidak memiliki hak suara dalam penentuan nasib restoran.

Arga tidak membalas dengan kemarahan. Ia justru melangkah masuk, mengabaikan tatapan meremehkan dari para staf yang berdiri di sudut ruangan. Di bawah lengannya, ia menggenggam map penilaian asli—bukti fisik yang akan meruntuhkan narasi Dimas. Ia tidak butuh kursi atau undangan; ia butuh meja untuk meletakkan kebenaran.

"Sesuai prosedur, rapat ini hanya untuk pemilik sah dan pihak yang berkepentingan," Dimas kembali menekan, tangannya gemetar saat ia menyadari Arga tidak berniat pergi.

Di ruang samping, Maya muncul dengan napas terengah. Ia membawa salinan izin operasional yang selama ini disembunyikan Ratna di laci pribadinya. "Ibu sudah menahan staf administrasi, Arga. Mereka mencoba menghapus jejak digital perizinan agar tender ini bisa dipaksa mengikuti angka Dimas. Tapi Pak Ruli, dia yang memegang kunci akses sistem perizinan. Dia tahu ke mana data itu dialihkan."

Arga menatap Maya, lalu mengangguk. "Bawa bukti itu ke Pak Hadi. Kita tidak punya waktu lagi."

Mereka bergerak cepat menuju Gudang Arsip Tiga. Ruang itu pengap, dipenuhi debu dan tumpukan buku menu tua yang menjadi saksi bisu kejayaan keluarga Wulandari. Di balik rak saus, Arga menemukan server cadangan yang selama ini dikunci. Dengan satu gerakan presisi, ia menghubungkan perangkatnya. Data mengalir—jejak pengiriman rahasia yang mengarah langsung ke PT Cakrawala Investama.

Pak Hadi, auditor yang sejak awal memantau, muncul dari balik rak dengan wajah pucat. "Ini... ini bukan sekadar kesalahan pembukuan. Ini sabotase sistematis."

Arga tidak membuang waktu. Ia kembali ke ruang rapat, kali ini dengan Pak Hadi dan Maya di sisinya. Ratna duduk di kursi utama, namun otoritasnya tampak retak saat melihat Arga berjalan masuk dengan bukti yang tak terbantahkan.

"Rapat tertutup untuk penipuan, bukan untuk kebenaran," potong Arga saat Dimas mencoba menghalanginya. Ia meletakkan bukti dari Gudang Arsip Tiga di tengah meja. Ratna mencoba meraih dokumen tersebut, namun Maya lebih cepat.

"Ibu, sudah cukup," suara Maya memecah keheningan. Ia menatap ibunya dengan ketegasan yang selama ini terpendam. "Dimas tidak bekerja sendiri. Dia bekerja atas perintah PT Cakrawala, dan orang yang menandatangani persetujuan manipulasi aset ini adalah Pak Ruli, atas instruksi Dimas."

Perwakilan konsorsium menarik kembali map mereka. Wajah mereka mengeras, menyadari bahwa mereka telah diseret ke dalam skandal hukum. Ratna tertegun, otoritasnya runtuh di depan mata. Saat semua mata beralih ke Dimas yang pucat pasi, seorang staf operasional masuk dengan wajah cemas.

"Bu Ratna, izin operasional restoran... sudah tidak lagi terdaftar atas nama keluarga. Pihak otoritas legal telah mengambil alih berdasarkan bukti manipulasi yang masuk pagi ini."

Arga menatap Ratna yang kini tak lagi memiliki kendali atas warisan yang ia banggakan. Permainan baru saja dimulai, dan kali ini, Arga yang memegang kendali atas papan caturnya.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced