Chapter 6
Pintu ruang rapat itu sengaja ditahan setengah terbuka. Ratna Wulandari ingin menjaga ilusi bahwa ini adalah rapat keluarga, bukan pemeriksaan audit yang membuat udara di restoran warisan itu terasa lebih menyesakkan daripada gudang beras di belakang dapur. Di luar, seorang satpam berdiri sebagai pembatas. Di dalam, map-map disusun ulang, kursi digeser, dan dua staf disiagakan untuk menutup jalur keluar-masuk jika situasi memanas.
Arga Pratama duduk di pinggir meja, punggungnya tegak tanpa menyandar. Di pangkuannya, map cokelat berisi bukti tender asli ditekan kuat oleh telapak tangannya. Di atas meja, sisa kopi dingin dan lembar audit yang belum ditandatangani menjadi saksi bisu bahwa waktu mereka hampir habis. Audit tender harus selesai hari ini. Jika rapat ini dipindahkan ke ruang tertutup, sebagian bukti bisa ditekan menjadi “urusan internal,” dan semua orang di meja tahu itu adalah cara tercepat untuk melenyapkan jejak.
Dimas mengetuk meja sekali, pendek dan keras—tanda kepanikan yang disamarkan sebagai ketegasan. “Cukup. Kita lanjut di ruang keluarga saja. Pak Hadi sudah melihat bagian yang perlu dilihat.”
Ratna tidak menoleh pada Arga. Matanya tertuju pada staf di pintu, memberi isyarat yang jelas: singkirkan menantu ini. “Yang tidak berkepentingan, silakan keluar. Kita tidak perlu memperpanjang aib keluarga.”
Kalimat itu diucapkan dengan tenang, namun tajam. Ratna sedang mencoba memindahkan konflik ke zona otoritasnya, tempat saksi bisa disaring dan dokumen bisa ditahan. Maya, yang berdiri di dekat lemari arsip, menegang. Ia melihat ibunya mulai kehilangan kendali atas narasi yang selama ini ia jaga dengan tangan besi.
Arga menatap mereka satu per satu tanpa meninggikan suara. “Kalau rapat dipindah, berarti kalian masih menyembunyikan sesuatu yang krusial.”
Dimas mendengus. “Kamu selalu membuat segalanya jadi drama, Arga.”
“Bukan drama,” balas Arga dingin. “Kalian menutup akses pembukuan, menahan arsip, dan memindahkan biaya operasional ke nama yang salah. Itu bukan drama. Itu pola.”
Kata “pola” membuat Dimas kaku. Di meja itu, pola berarti jejak yang tak bisa dihapus. Ratna menatap Arga dengan tatapan merendahkan yang sudah ia pakai bertahun-tahun. “Kamu sudah diberi tempat duduk. Jangan lupa siapa dirimu di rumah ini.”
“Justru karena saya tahu tempat saya, saya tahu mana yang sengaja dibengkokkan,” jawab Arga tenang.
Pak Hadi, sang auditor, memecah ketegangan. Ia membuka catatan kecilnya, mencocokkan cap dan tanggal dengan teliti. “Dimas, jelaskan kenapa nomor gudang pada lampiran revisi ini kembali ke format lama, sedangkan arsip sumber sudah berganti format dua tahun lalu?”
Ruangan mendadak hening. Arga membuka map cokelatnya, mengeluarkan fotokopi daftar pengiriman dari gudang lama. “Nomor gudang itu bukan kesalahan cetak. Itu penanda berkas yang dipindahkan lewat jalur ilegal sebelum sistem digital dikunci dari saya.”
Ratna memucat. Ia paham implikasinya. “Siapa yang memberimu itu?”
Sebelum Arga menjawab, langkah kaki berat terdengar dari lorong belakang. Pak Jaya, penjaga gudang lama yang selama ini dianggap bungkam, muncul dengan map plastik tipis yang sudah menguning. Kehadirannya membuat ruangan kehilangan topeng.
“Saya yang memintanya datang,” ujar Arga.
Dimas bangkit, kursinya berderit keras. “Ini tidak sah! Dia cuma pegawai gudang!”
Pak Jaya tidak gentar. Ia menatap Pak Hadi. “Saya tahu siapa yang keluar-masuk berkas saat sistem masih pakai cap manual. Dua minggu sebelum audit, ada berkas revisi keluar lewat pintu belakang. Diserahkan langsung oleh orang yang punya akses keluarga.”
“Kamu disuruh berbohong?” bentak Ratna.
“Saya diminta mengingat,” jawab Pak Jaya tegas. Ia membuka mapnya, memperlihatkan catatan tangan yang pudar. “Saya tahu wajah orang yang meletakkan berkas itu di keranjang arsip.”
Maya menatap ibunya dengan tatapan kecewa. “Bu, kalau saksi ini benar, berarti ada jalur dokumen di luar sistem.”
“Kamu mau membantah ibumu sendiri?” Ratna mendesis.
“Aku mau melihat kebenaran, Bu,” jawab Maya. Itu bukan pembelaan penuh untuk Arga, tapi cukup untuk membuat Ratna kehilangan pijakan.
Pak Hadi memeriksa cap di lembar tersebut. “Ini cocok dengan format gudang lama. Validitas penilaian ini harus ditunda.”
“Ini jebakan!” teriak Dimas.
Arga mengeluarkan map kedua. “Kalau ini jebakan, kenapa angka di sini konsisten dengan pemindahan biaya ke PT Cakrawala Investama?”
Nama itu jatuh seperti besi panas. PT Cakrawala Investama—pemodal bayangan yang selama ini membiayai manipulasi keluarga Wulandari. Pak Hadi mengangguk pelan, menyadari bahwa ini bukan lagi kesalahan administrasi, melainkan skandal hukum.
Saat itulah, pintu kaca restoran terbuka. Seorang pria berjas tipis masuk bersama asistennya. Ia adalah perwakilan dari pembeli strategis yang sudah lama mengincar aset Wulandari. “Maaf mengganggu. Kami hanya ingin menyampaikan satu hal sebelum jam tender lewat. Kami bisa menawarkan jalan keluar.”
Ratna membeku. Ia tahu jalan keluar itu punya harga yang sangat mahal: kendali atas restoran.
“Syaratnya sederhana,” lanjut pria itu, menatap Arga, “kami perlu akses penuh pada data operasional dan persetujuan dari orang yang benar-benar memegang kendali hari ini.”
Ratna menoleh pada Arga. Untuk pertama kalinya, ia sadar bahwa ia bukan lagi orang yang memegang kendali. Arga telah membalikkan meja, dan kini, perang yang lebih besar baru saja dimulai.