Novel

Chapter 4: Chapter 4

Arga mempertahankan bukti tender asli di dapur dan lorong belakang restoran leluhur, lalu memaksa keluarga Wulandari menghadapi daftar harga asli yang membuka selisih biaya dan jejak pemodal tersembunyi. Pak Hadi menolak menandatangani klarifikasi Dimas, sementara Ratna dan Maya mulai retak di hadapan audit yang makin dalam.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Chapter 4

Uap panas dari panci kaldu masih naik di balik pintu ayun dapur ketika Arga dipanggil ke lorong samping, di belakang restoran Wulandari. Pesan Maya tadi cuma dua kata: sekarang, cepat. Itu berarti ada sesuatu yang tidak boleh didengar orang luar—atau sesuatu yang sudah terlambat disembunyikan.

Ia datang dengan map cadangan di bawah lengan. Di dalamnya, foto cap arsip lama yang semalam memaksa pejabat lelang membekukan tender masih terasa seperti besi dingin di tangannya. Di depan ruang arsip kecil, Maya sudah menunggu dengan selembar kertas tua yang dilaminasi plastik kusam. Tidak ada basa-basi. Tidak ada suara tinggi. Yang ada hanya napas yang ditahan terlalu lama dan bau dapur lama yang merembes dari balik tembok: serai, bawang putih, tulang sapi, minyak panas. Bau yang dulu membuat keluarga Wulandari dihormati di Jakarta. Kini bau itu seperti pengingat bahwa segala yang mereka sebut “nama baik” masih bergantung pada angka yang bisa retak kapan saja.

“Aku belum pernah lihat ini,” kata Maya pelan.

Arga mengambil kertas itu tanpa menyentuh jari istrinya lebih dari seperlunya. Di bagian atas ada kepala surat restoran leluhur, lama dan kusam, lalu deretan harga yang ditulis tangan. Sup buntut, bebek panggang, nasi jamuan keluarga besar, teh tarik, paket prasmanan untuk acara kantor. Beberapa angka dicoret, ditimpa stiker baru. Di margin bawah, ada nama pemesan korporat yang samar tapi masih terbaca.

“Daftar harga asli,” kata Maya. Suaranya tenang, tapi tenang yang dipaksa. “Bukan versi yang dipakai Dimas buat tender.”

Arga menggeser kertas itu ke bawah lampu lorong. Ia membaca lebih cepat daripada orang kebanyakan menghitung diskon. Ada pola yang langsung terlihat: harga tertentu sengaja diturunkan terlalu jauh di versi tender, lalu dibulatkan seolah-olah itu harga normal restoran. Terlalu rapi untuk kesalahan. Terlalu licin untuk sekadar salah ketik.

“Siapa yang pegang ini?”

“Mama.” Maya menelan napas. “Dulu disimpan di map resep lama. Aku ambil dari laci administrasi waktu semua orang sibuk di ruang audit.”

Arga memeriksa satu transaksi yang beririsan dengan nama pemodal besar yang semalam sempat muncul di obrolan setengah putus. Satu angka dicoret, lalu diganti dengan harga yang lebih rendah dari biaya bahan. Itu bukan promosi. Itu cara menutup selisih.

Di balik pintu, suara sendok jatuh di meja logam. Seseorang di dapur menahan langkah. Audit masih berjalan, dan setiap menit yang mereka habiskan di lorong ini mengurangi waktu keluarga Wulandari untuk menutup kebohongan.

“Mama tahu?” tanya Arga.

Maya mengangguk sekali. “Bukan semuanya. Tapi cukup untuk tahu ada yang tidak beres. Dia bilang, kalau angka ini keluar, restoran kita bukan cuma kalah tender. Kita bisa ditarik karena laporan biaya dan penilaian asetnya tidak nyambung.”

Arga mengangkat mata. “Kamu menunjukkannya padaku karena ingin aku diam atau karena ingin aku pakai sekarang?”

Maya tidak langsung menjawab. Itulah yang membuat Arga berhenti menekan lebih jauh. Di wajah istrinya, ia melihat perang yang bukan perang di meja rapat. Perang di rumah. Perang antara ibu, kakak, dan suami yang sejak awal dianggap pendatang yang bisa dipindahkan kapan saja.

“Kalau aku bilang pakai sekarang,” kata Maya akhirnya, “ibu akan bilang aku menyerahkan keluarga ke tanganmu.”

“Dan kalau disimpan?”

“Dimas tetap akan bilang semuanya sudah beres.” Bibir Maya mengencang. “Tapi aku juga belum tahu sampai di mana beres versi dia.”

Arga menyimpan lembaran itu di bawah map cadangan, lalu menyalin halaman penting dengan cepat ke catatan kecil. Satu transaksi corporate event dengan nama pemesan yang dulu pernah ia lihat di faktur gudang. Nama itu bukan milik keluarga Wulandari. Itu nama pemodal. Nama yang tidak seharusnya ada di daftar harga keluarga, kecuali ada transaksi yang sengaja diputar lewat restoran untuk menutup aliran uang lain.

Maya melihat gerakan tangannya. “Kau sudah tahu sesuatu.”

“Ada irisan.” Arga menutup catatan. “Dan irisan itu bukan hal kecil.”

Sebelum Maya sempat menjawab, pintu dapur terbuka keras. Dimas keluar dengan wajah yang dipaksa tetap rapi, meski urat di pelipisnya menegang. Di belakangnya, seorang staf audit dan satu orang dari bank berdiri setengah menunggu, setengah menyaksikan. Dimas berhenti ketika melihat lembar harga di tangan Maya.

“Masuk ke ruang keluarga sekarang,” katanya singkat. “Pak Hadi minta semua orang yang terkait hadir. Kita harus tanda tangan pernyataan klarifikasi sebelum siang.”

Arga tidak bergerak.

Dimas menatap map di bawah lengan Arga. “Kalau itu masih ada di tanganmu, serahkan. Kau sudah cukup bikin ribut kemarin.”

“Kemarin tender dibekukan karena dokumen ilegal yang kau ajukan,” jawab Arga datar. “Hari ini kau ingin menutupnya dengan tanda tangan yang sama?”

Senyum Dimas tipis, tidak sampai mata. “Aku ingin menyelamatkan bisnis keluarga. Sesuatu yang seharusnya dipahami orang yang numpang nama di rumah ini.”

Kalimat itu keluar di depan staf audit dan orang bank, dan itulah masalahnya: bukan karena keras, tapi karena sengaja dibuat terdengar wajar. Sebuah penghinaan yang dikemas sebagai urusan internal.

Arga tidak menjawab dengan suara tinggi. Ia hanya menatap Dimas sebentar, lalu menggeser map cadangan ke sisi yang lebih aman. Gerak kecil itu cukup untuk membuat Dimas sadar: bukti masih di tangan Arga, dan Dimas tidak bisa merebutnya tanpa mempermalukan dirinya sendiri di depan orang luar.

“Kalau ingin menyelamatkan bisnis,” kata Arga, “jangan pakai dokumen yang lahir dari arsip yang sudah disegel.”

Dimas membeku sepersekian detik. Cukup lama untuk membuat staf audit menoleh.

Ratna muncul dari ruang keluarga tak lama kemudian, rapi seperti biasa. Blazer krem, perhiasan minimal, wajah yang tidak memberi celah. Namun Arga menangkap satu hal kecil: langkahnya sedikit lebih cepat daripada seharusnya. Itu artinya ia sudah tahu suasana tidak lagi bisa dikendalikan dari balik pintu.

“Masuk,” ujar Ratna.

Ruang rapat kecil di belakang restoran itu lebih sempit dari yang seharusnya, meja keluarga terlalu dekat dengan rak arsip, dan dari celah pintu masih tercium bau kaldu yang belum selesai direbus. Di ujung meja, Pak Hadi duduk dengan kacamata setengah turun. Di depannya ada map krem berisi pernyataan klarifikasi yang dibawa Dimas. Kertasnya sudah dibuka, tinggal bagian tanda tangan yang sengaja dikosongkan rapi.

“Waktu kita sedikit,” kata Pak Hadi. “Audit minta penjelasan, bukan sandiwara.”

Dimas melangkah duluan, meletakkan pena hitam di atas map seperti menaruh alat pengesah. “Pak, cukup tanda tangan ini. Kita jelaskan bahwa selisih angka di tender itu hanya perbedaan format pembukuan. Tidak ada yang ilegal.”

Arga melihat Pak Hadi membaca lembar pertama, lalu lembar kedua. Ia tidak bergerak. Itu sudah cukup untuk menandakan ia sedang mencocokkan sesuatu.

Maya berdiri di dekat rak arsip, memegang daftar harga asli itu lebih erat sekarang. Arga melihat wajahnya sekali, lalu memahami: Maya bukan sekadar penonton. Ia menunggu kapan ibunya akan memilih.

“Perbedaan format?” Pak Hadi mengulang, pelan. “Kalau begitu, kenapa cap gudang lama ada di lampiran revisi?”

Ruangan itu diam.

Dimas menoleh terlalu cepat. “Cap itu—”

“Cap itu dari arsip gudang lama yang seharusnya disegel,” potong Pak Hadi. Nada suaranya masih datar, justru itu yang membuatnya tajam. “Saya sudah cek asal stempelnya. Bukan cap operasional yang sah.”

Ratna menatap map di tangan Dimas, lalu ke wajah Pak Hadi, lalu ke Arga, seakan ada urutan yang baru saja runtuh dan dia dipaksa melihatnya dalam satu garis. “Pak Hadi, ini masalah internal keluarga—”

“Ini masalah dokumen,” jawab Pak Hadi. “Dan dokumen ini menyangkut nilai aset yang sedang dibekukan. Jangan minta saya ikut menutup lubang yang sudah dibuka oleh audit.”

Dimas menyusun ulang wajahnya. “Kalau begitu, kita pakai angka dari arsip yang sudah ada. Arga membawa foto cap lama, ya? Itu cukup untuk membantah revisi, tapi tidak cukup untuk menilai ulang seluruh restoran.”

Arga hampir tersenyum. Bukan karena lucu, melainkan karena Dimas masih mengira ia hanya membawa satu kartu.

Ia mengeluarkan catatan kecil dari map cadangan dan menaruhnya di meja, tidak tergesa, seolah semua orang di ruangan ini punya waktu. Padahal tidak.

“Lembar ini,” kata Arga, “menunjukkan harga asli restoran leluhur. Bukan harga promosi, bukan angka yang dipoles untuk tender. Lihat tanggalnya.”

Maya menunduk lebih dulu. Matanya bergerak cepat di atas baris-baris angka, lalu berhenti di satu transaksi corporate event yang ia kenal. Nafasnya tertahan.

Ratna menangkap perubahan itu. “Maya?”

“Angka ini,” kata Maya, terdengar jauh lebih kecil dari biasanya, “dipakai di laporan yang masuk ke bank.”

Dimas menoleh tajam padanya. “Jangan mulai membacakan apa yang belum kau pahami.”

“Tidak,” jawab Maya. Untuk pertama kalinya pagi itu, suaranya tidak goyah. “Aku paham cukup untuk tahu restoran tidak mungkin menjual paket jamuan di bawah biaya bahan kecuali ada selisih yang ditutup dari tempat lain.”

Pak Hadi menggeser lembar itu lebih dekat. “Dan tempat lain itu?”

Arga tidak menjawab langsung. Ia menandai satu nama korporat di margin kertas. Nama yang sudah ia cocokkan dengan faktur gudang dan catatan pemindahan biaya. “Ada pemodal yang tidak pernah muncul di meja keluarga. Tapi uangnya diputar lewat restoran ini. Tender bukan satu-satunya yang dipalsukan. Penilaian aset dan laporan operasional juga sudah dibentuk agar alirannya tidak terlihat.”

Ratna menatapnya lama. Wajahnya tetap tertata, tapi ada sesuatu yang retak di belakang mata itu. Bukan karena ia tidak tahu apa-apa. Karena ia mungkin tahu cukup banyak untuk menyadari semua itu sekarang sedang dibaca keras-keras di depan orang luar.

“Arga,” ucapnya, dingin tapi terukur, “kau pikir dengan membawa kertas-kertas itu, kau bisa mengatur rumah ini?”

“Tidak,” kata Arga. “Aku pikir aku bisa menghentikan orang yang sudah mengatur rumah ini dengan cara membuat keluarga menanggung biaya yang bukan miliknya.”

Itu bukan serangan emosional. Itu penetapan posisi. Dan semua orang di ruangan itu tahu perbedaannya.

Dimas mencondongkan badan, suara turun menjadi bisikan yang memotong. “Kau ingin dianggap penting? Baik. Tapi jangan lupa, kalau audit ini melebar, yang pertama ditanyai itu nama Wulandari. Bukan namamu. Kau cuma menantu yang kebetulan memegang map.”

Arga menatapnya, tenang seperti meja stainless di dapur: dingin, sulit digeser, dan siap menerima semua yang dilemparkan tanpa retak. “Benar,” katanya. “Karena itu aku datang dengan dokumen, bukan teriakan.”

Pak Hadi mengambil pena yang tadi diletakkan Dimas, lalu meletakkannya kembali tanpa menandatangani apa pun. “Saya tidak akan tanda tangan pernyataan yang isinya bertentangan dengan arsip yang saya lihat. Kalau kalian mau mengajukan klarifikasi, bawa dokumen sumbernya. Bawa juga buku besar operasional yang cocok dengan harga asli ini.”

Dimas kehilangan warna di bagian rahangnya. Bukan panik, belum. Tapi cukup untuk diketahui semua orang: lembar yang seharusnya mengunci masalah justru mulai membuka pintu lain.

Ratna berdiri perlahan. “Pak Hadi—”

“Dan satu lagi,” lanjut Pak Hadi, memotong halus namun tegas. Ia menekan jari ke salah satu baris di arsip lama yang baru saja dibacanya. “Ada transaksi yang ditutup-tutupi di sini. Nilainya tidak cocok dengan penilaian aset yang kalian ajukan. Kalau saya cocokkan dengan laporan gudang dan penjualan jamuan, maka ini bukan hanya revisi tender. Ini jalur uang.”

Ruangan itu menjadi sangat sempit.

Maya menatap angka di daftar harga asli restoran leluhur itu lebih lama dari seharusnya. Wajahnya tidak lagi sekadar tegang. Ada keputusan yang sedang dihitung di dalam dirinya, keputusan yang akan menarik garis antara darah dan rumah tangganya sendiri. Di depannya, ibunya berdiri kaku, mempertahankan wajah keluarga yang selama ini menjadi perisai. Tapi perisai itu kini menahan pukulan dari angka-angka yang tak bisa dibantah.

Ratna melihat kertas di tangan Maya, lalu ke Pak Hadi, lalu ke Arga. Dalam tatapan itu, Arga menangkap sesuatu yang baru: bukan lagi sekadar kemarahan, melainkan perhitungan. Ibu itu tahu kebohongan sedang merapat ke tepi meja, dan ia harus memilih apakah akan menjaga bentuknya atau menyelamatkan bangunan yang sudah mulai goyah.

Di balik pintu, suara dari staf audit memanggil nama Dimas. Ada pertanyaan tambahan. Ada permintaan salinan. Ada langkah-langkah yang tidak bisa lagi ditunda.

Arga menutup map cadangannya perlahan. Satu kemenangan kecil baru saja mengubah susunan kursi, tapi belum mengubah perang.

Maya masih memegang daftar harga asli itu ketika Ratna akhirnya berkata, sangat pelan, seolah ucapan itu lebih berat daripada marah: “Kalau angka ini keluar ke audit penuh, kita harus memutuskan siapa yang akan dikorbankan.”

Dan untuk pertama kalinya, tidak ada seorang pun di ruangan itu yang yakin korban itu bukan nama keluarga sendiri.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced