The First Lever
Bau kaldu tulang yang pekat di dapur utama Restoran Wijaya biasanya menenangkan, namun bagi Arman Prasetyo, aroma itu kini terasa seperti napas yang tercekat. Di hadapannya, Ny. Lestari berdiri dengan punggung tegak, memegang pena emas di atas dokumen tender yang disodorkan Bima Santoso.
"Tanda tangani sekarang, Lestari. Waktu kita habis sebelum notaris menutup sesi hari ini," desak Bima. Matanya menyapu ruangan dengan tatapan predator yang disamarkan oleh senyum tipis.
Arman melangkah maju, tangannya dengan tenang menahan ujung kertas yang hendak disentuh pena mertuanya. "Tunggu," ucapnya. Suaranya rendah, namun tajam, memotong keriuhan dapur.
Ny. Lestari menepis tangan Arman dengan kasar, wajahnya merah padam. "Berani-beraninya kau menyentuh dokumen ini? Keluar, Arman! Kehadiranmu hanya membawa nasib buruk."
Arman tidak bergeming. Ia menunjuk sudut kanan bawah dokumen tersebut. "Perhatikan stempelnya, Bu. Sudutnya miring empat derajat. Ini bukan stempel resmi notaris kita. Dan lihat nomor seri di bawahnya."
Bima tertawa, suaranya menggema. "Kau mau menggurui kami? Kau hanya menantu yang bahkan tidak punya akses ke rekening utama."
"Nomor seri ini milik cabang Jalan Sembada," potong Arman dingin. "Cabang itu sudah ditutup dan diaudit dua tahun lalu atas perintah Ibu sendiri. Semua arsipnya seharusnya sudah dimusnahkan."
Lestari tertegun, pena di tangannya menggantung. Bima segera menarik napas panjang, mencoba menutupi kegugupannya dengan ancaman. "Jika tender ini tidak segera diselesaikan, saya akan menarik seluruh suplai bahan baku restoran hari ini juga. Pilih, Lestari: tanda tangan, atau biarkan restoran ini tutup besok pagi."
Arman tahu ia tidak bisa hanya berdebat di sini. Ia segera menuju ruang arsip dapur. Di sana, Ratna Wijaya menunggunya dengan wajah pucat. "Jangan buka lagi, Man," mohon Ratna saat Arman mulai membongkar rak yang berdebu. "Ibu tidak akan memaafkanmu."
"Kalau tender ini lolos, rumah makan ini berpindah tangan sebelum makan siang selesai," jawab Arman tegas. Tangannya bergerak cepat, membaca label yang menguning lewat ujung jari hingga ia menemukan map abu-abu dengan cap inventaris lama: Cabang Jalan Sembada.
Di dalam map itu, ia menemukan laporan audit yang hilang. Arman menyadari ia memegang senjata yang bisa menghancurkan kredibilitas Bima, namun saat ia berbalik, pengawal Bima sudah berjaga di ambang pintu, menghalangi jalannya kembali ke ruang lelang. Arman menatap mereka dengan tenang, menyimpan bukti itu di balik jasnya, dan melangkah keluar dengan otoritas yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya.
Kembali ke ruang lelang, suasana terasa mencekik. Bima kembali menekan Lestari di depan notaris. "Lestari, waktu kita tidak banyak. Jika stempel pengesahan tidak dibubuhkan sekarang, penawaran ini hangus."
Arman masuk ke ruangan, memutus jarak antara Bima dan meja notaris. "Dokumen itu cacat, Bu," suaranya membelah kebisingan. "Bukan hanya karena stempelnya miring, tapi karena nomor seri di pojok kanan bawah itu milik arsip cabang Jalan Sembada yang sudah musnah."
Bima tertawa meremehkan, mencoba menutupi kepanikannya, namun wajahnya berubah pucat pasi saat Arman menyebutkan satu nomor seri dokumen spesifik yang seharusnya sudah dimusnahkan. Di saat yang sama, palu lelang terangkat, namun suara notaris mendadak berhenti saat sebuah amplop tersegel diletakkan di atas meja oleh seorang asing yang baru saja memasuki ruangan.