Terms Rewritten
Palu notaris Koh Hendra menggantung di udara, bayangannya jatuh tepat di atas dokumen tender yang akan menyerahkan aset dapur utama keluarga Wijaya kepada Bima Santoso. Di ruang rapat yang pengap itu, napas Ny. Lestari tertahan. Baginya, ini adalah jalan keluar dari krisis keuangan; bagi Bima, ini adalah perampokan legal yang sempurna.
"Jika tidak ada keberatan lagi," suara Koh Hendra datar, nyaris mekanis, "maka hasil tender ini akan saya sahkan sekarang."
"Keberatan."
Satu kata itu meluncur dari bibir Arman Prasetyo, memotong keheningan. Ia berdiri di sudut ruangan, jauh dari meja utama, namun suaranya memiliki ketajaman yang membuat semua kepala menoleh. Ny. Lestari memutar tubuh, matanya menyipit penuh amarah. "Arman, jangan membuat malu keluarga di depan mitra bisnis!"
Arman tidak bergeming. Ia melangkah maju, langkahnya tenang dan terukur, mengabaikan tatapan meremehkan Bima. Ia meletakkan sebuah map biru tua—artefak dari masa lalu yang seharusnya sudah musnah—tepat di depan Koh Hendra. "Periksa halaman tiga," ujar Arman dingin. "Cap stempel yang Anda gunakan untuk melegitimasi tender ini adalah cap stempel cabang Jalan Sembada yang sudah ditutup dua tahun lalu. Daftar pemusnahan arsipnya ada di sini, lengkap dengan paraf penerima berkas yang saya simpan saat proses audit dulu."
Bima Santoso tertawa kecil, meski jemarinya mulai mengetuk meja dengan ritme yang tidak beraturan. "Audit cabang itu sudah basi, Arman. Dokumen seperti itu tidak relevan untuk penilaian modern."
"Justru karena sudah basi, dokumen itu seharusnya tidak ada di sirkulasi," sahut Arman tanpa emosi. "Tapi nomor serinya cocok dengan map tender yang Anda bawa pagi ini. Anda menggunakan aset mati untuk memanipulasi nilai aset hidup. Itu bukan sekadar kesalahan prosedur, Pak Bima. Itu penipuan dokumen negara."
Keheningan mencekam jatuh. Koh Hendra menunduk, matanya membelalak saat ia membandingkan stempel di dokumen Bima dengan salinan audit milik Arman. Tangannya gemetar saat ia membalik lembar demi lembar. Ia bukan lagi notaris yang netral; ia kini terjepit di antara skandal yang nyata.
Ratna Wijaya, yang sedari tadi terdiam, menoleh ke arah suaminya. Untuk pertama kalinya, ia tidak melihat pria yang selalu menunduk atau disuruh-suruh. Ia melihat seseorang yang sedang menguasai ruangan, seseorang yang tahu persis di mana letak retakan pada fondasi bisnis keluarganya.
"Pak Bima," suara Koh Hendra bergetar, "ini perlu catatan tambahan. Saya tidak bisa melanjutkan penandatanganan ini jika integritas dokumen dipertanyakan."
Lestari tertegun, wajahnya pucat pasi. Ia menatap Bima, menuntut jawaban, namun Bima hanya bisa menatap Arman dengan kebencian yang terukur. "Kau tidak tahu apa yang sedang kau mainkan, Arman," desis Bima, suaranya rendah namun penuh ancaman. "Menghancurkan tender ini tidak akan membuatmu jadi pahlawan. Kau hanya mempercepat kehancuran keluarga ini."
Arman tidak membalas ancaman itu dengan kata-kata. Ia hanya berdiri tegak, tangannya terlipat, membiarkan ketegangan itu menghancurkan kepercayaan diri lawan-lawannya. Ia telah membalik posisi tawar; sekarang, merekalah yang harus meminta waktu padanya.
Saat Koh Hendra mulai menulis catatan penundaan resmi, pintu ruang rapat terbuka dengan kasar. Seorang pria asing dalam setelan jas gelap masuk tanpa permisi. Ia tidak bicara, hanya meletakkan sebuah amplop tersegel dengan cap lilin merah tepat di atas meja tender yang kini berantakan. Palu lelang yang dipegang Koh Hendra tergantung kaku di udara, seolah waktu berhenti berdetak. Semua mata tertuju pada amplop itu, menyadari bahwa intervensi ini jauh lebih besar daripada sekadar urusan tender keluarga Wijaya.