Novel

Chapter 1: The Public Slight

Arman Prasetyo menghadapi penghinaan di dapur restoran keluarga saat mertuanya, Ny. Lestari, dan saingan bisnis, Bima Santoso, mencoba memaksa penandatanganan tender lelang yang curang. Arman menggunakan ketelitiannya terhadap detail dokumen untuk mengungkap bahwa tender tersebut adalah upaya pengambilalihan ilegal, memicu ketegangan yang memaksa keluarga Wijaya mempertanyakan validitas dokumen tersebut.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

The Public Slight

Arman Prasetyo sedang berlutut di lantai dapur Restoran Wijaya saat suara kursi diseret dari ruang makan memotong bunyi desis wajan. Tangannya yang bersarung karet masih memegang sikat lantai, namun perhatiannya tertuju pada derit pintu ayun yang sudah ia kenali selama tiga tahun terakhir. Dapur ini adalah jantung keluarga Wijaya—tempat di mana resep rahasia disimpan dan reputasi dibangun—namun baginya, tempat ini hanyalah ruang tunggu bagi seseorang yang dianggap beban.

"Masih di sini?" suara Ny. Lestari Wijaya memotong udara yang penuh uap. Mertuanya itu melangkah masuk dengan kebaya sutra yang kontras dengan lantai dapur yang berminyak. Di belakangnya, Bima Santoso mengikuti dengan setelan jas yang terlalu bersih, membawa map krem yang tampak seperti vonis mati bagi bisnis keluarga.

"Saya sedang memastikan drainase tidak tersumbat, Bu," jawab Arman tenang. Ia tidak bangkit dengan terburu-buru. Ia berdiri dengan ritme yang terukur, meletakkan sikatnya di pinggir wastafel.

"Bersih-bersih itu tugas pelayan, Arman. Bukan tugas menantu yang seharusnya mencari nafkah," sahut Lestari, matanya menatap Arman seolah ia adalah noda di lantai. "Bima, silakan. Kita tidak punya waktu untuk drama keluarga."

Bima meletakkan map di atas meja stainless. "Ibu Lestari, tender lelang ini sudah diatur agar berjalan lancar. Saya sudah menyiapkan jalur audit yang aman. Tidak perlu ada intervensi dari pihak internal yang tidak memahami prosedur formal."

Ratna, istri Arman, muncul dari balik pintu dengan wajah pucat. "Bu, setidaknya kita pelajari dulu drafnya. Arman bilang ada yang janggal dengan valuasi aset kita."

Lestari tertawa sinis. "Arman? Dia tahu apa soal valuasi? Dia bahkan tidak bisa membedakan harga pasar dengan harga jual paksa."

Bima tersenyum, sebuah senyum yang tidak mencapai matanya. "Ratna, jangan bebankan dia. Orang yang terbiasa di dapur memang sering merasa nalurinya lebih tajam dari angka. Tapi di dunia bisnis, angka tidak tunduk pada perasaan."

Arman tidak membantah. Ia tidak berteriak. Ia hanya memandang map di meja. Bukan pada wajah Bima, melainkan pada sudut dokumen yang sedikit tertekuk. Cap stempel notaris di pojok kanan atas miring. Bukan miring karena terburu-buru, melainkan miring dengan sudut yang sama persis dengan cap lama cabang Jalan Sembada—cabang yang sudah ditutup dan diaudit dua tahun lalu.

Arman melangkah mendekat, matanya menangkap kode arsip kecil di bawah tanda tangan. Itu bukan dokumen baru. Itu adalah dokumen lama yang dipalsukan untuk menekan harga aset.

"Tanda tangan surat kuasa ini sekarang, Lestari," desak Bima, suaranya kini lebih tajam. "Jika tidak, kontrak pasokan besok akan putus. Restoran ini akan habis dari dalam."

Ratna ragu, tangannya gemetar di atas pulpen. Arman menyentuh lengan istrinya, lalu menatap Bima. "Cap stempel itu miring, Bima. Dan kertasnya memiliki serat yang tidak sesuai dengan standar notaris tahun ini."

Ruangan mendadak hening. Bima terdiam, senyumnya sedikit goyah. "Anda bicara apa?"

"Saya bicara tentang dokumen yang seharusnya sudah dimusnahkan dua tahun lalu," Arman berkata dengan nada datar yang mematikan. "Ibu, jangan tanda tangani itu. Dokumen ini bukan tender, ini adalah surat pengalihan aset secara ilegal."

Lestari menatap Arman dengan amarah yang tertahan. "Kamu berani menuduh?"

"Saya tidak menuduh. Saya hanya membaca apa yang ada di atas meja," Arman menatap map tender di tangan mertuanya dan tersenyum tipis. "Ibu yakin dokumen ini sah?"

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced