Harga Sebuah Perlindungan
Kepala Sekolah Aris menatap Alya dengan tatapan yang sudah ia latih selama belasan tahun: empati yang dingin, terukur, dan sepenuhnya tidak berguna. Di atas meja mahoni miliknya, selembar surat peringatan tergeletak seperti vonis mati.
"Kami butuh kejelasan status wali murid hari ini, Bu Alya. Dewan komite tidak bisa mengabaikan rumor paternitas yang beredar di grup orang tua. Ini sekolah internasional, reputasi adalah mata uang kami."
"Nara adalah murid berprestasi," balas Alya. Suaranya tenang, meski di balik meja, jemarinya mencengkeram tas kulitnya hingga buku jarinya memutih. Di dalam tas itu, kontrak pertunangan dengan Raka Pranata terasa seperti beban yang lebih berat daripada dokumen hukum apa pun yang pernah ia bawa. "Rumor itu tidak mengubah kemampuannya di kelas."
"Rumor itu mengubah cara orang tua lain memandang sekolah ini," potong Aris. "Jika tidak ada klarifikasi atau kehadiran wali yang sah untuk meredam spekulasi, kami terpaksa mengambil tindakan administratif."
Tindakan administratif. Sebuah eufemisme untuk pengusiran.
Ponsel Alya bergetar di atas meja. Notifikasi pesan masuk dari nomor tak dikenal muncul di layar: Kami tahu siapa ayah Nara. Jangan bersembunyi di balik nama besar.
Alya tidak membukanya. Ia tahu siapa yang mengirimnya, dan ia tahu bahwa setiap detik yang ia habiskan di ruangan ini adalah waktu yang ia curi dari Nara. Saat ia melangkah keluar menuju koridor, bisik-bisik para ibu murid yang sedang menunggu jemputan segera berhenti. Tatapan mereka tajam, menghakimi, dan penuh dengan rasa ingin tahu yang menjijikkan.
"Ma, mereka lihat aku aneh-aneh," bisik Nara. Anak itu berdiri di dekat pintu, matanya yang besar menatap Alya dengan ketakutan yang seharusnya tidak dirasakan oleh anak seusianya.
"Ada Bunda," jawab Alya, meski ia sendiri merasa tanah di bawah kakinya mulai retak.
Langkah sepatu kulit yang presisi membelah koridor. Raka Pranata muncul dari balik kerumunan, kemeja gelapnya tampak kontras dengan suasana sekolah yang kacau. Ia tidak membawa pengawal, hanya aura kekuasaan yang membuat orang-orang di sekitarnya mundur secara naluriah. Raka berhenti tepat di depan Alya, mengabaikan tatapan tajam para ibu murid dan beberapa wartawan lokal yang mulai mendekat.
"Masuk mobil," perintah Raka. Suaranya tidak meminta, namun mengandung otoritas yang sulit dibantah.
"Aku belum selesai di sini, Raka. Kepala sekolah masih—”
"Sudah selesai," potong Raka dingin. Ia menatap kepala sekolah yang kini berdiri di ambang pintu, lalu beralih kembali ke Alya. "Saya sudah mengurus semuanya. Mulai detik ini, jangan ada satu pun orang yang berani mempertanyakan status Nara."
Saat media mulai merangsek maju, Raka melakukan langkah yang tak terduga. Ia menarik tangan Alya, menggenggamnya dengan jemari yang terasa seperti besi, lalu memposisikan dirinya di depan kamera. "Dia milikku," bisiknya, cukup keras untuk ditangkap mikrofon ponsel wartawan, namun matanya tetap dingin, menatap lurus ke arah kerumunan tanpa sedikit pun kehangatan.
Itu adalah perlindungan yang mahal—dan Alya tahu, reputasi Raka kini ikut terseret dalam lumpur yang sama dengannya. Raka tidak melakukan ini karena peduli; ia melakukannya karena ia membutuhkan citra pria setia untuk mengamankan posisi warisannya di keluarga Pranata. Alya hanyalah pion yang ia beli dengan harga perlindungan.
Sesampainya di apartemen, ketegangan belum mereda. Alya membuka laptop lama Dimas yang sudah dua tahun tertimbun di lemari bawah, berharap menemukan dokumen sekolah yang ia butuhkan. Namun, saat ia menekan tombol power, notifikasi email otomatis terbuka. Di sana, tertumpuk utas pesan lama yang membuktikan bahwa skandal ini bukanlah kecelakaan—Dimas telah merancang rumor paternitas Nara sejak jauh-jauh hari. Alya menatap layar dengan napas pendek, menyadari bahwa ia telah memegang senjata yang bisa menghancurkan segalanya, atau justru mengubur dirinya sendiri.