Novel

Chapter 1: Sarapan di Atas Jurang

Alya terpaksa menerima kontrak pertunangan palsu dengan Raka Pranata untuk menyelamatkan Nara dari pengusiran sekolah akibat rumor paternitas yang disebarkan oleh pihak yang ingin menghancurkan reputasi mereka.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Sarapan di Atas Jurang

Ponsel Alya bergetar di atas meja marmer hitam, memecah keheningan penthouse yang terasa lebih menyesakkan daripada ruang sidang. Layarnya menyala, menampilkan pesan dari Kepala Sekolah Nara yang masuk untuk kedua kalinya pagi ini: Ibu Alya, kami perlu konfirmasi status wali murid hari ini. Jika tidak ada kejelasan, pihak komite terpaksa menindaklanjuti rumor paternitas yang beredar di grup orang tua.

Jari Alya gemetar saat ia menekan tombol diam. Di seberangnya, Raka Pranata duduk dengan postur yang sempurna, menyesap kopi hitamnya tanpa sedikit pun melirik ke arah Alya. Kemeja putihnya yang disetrika tajam seolah menjadi cerminan dari dunianya yang teratur, berbanding terbalik dengan kekacauan yang kini mengancam kehidupan putrinya.

“Sekolah lagi?” suara Raka datar, hampir tanpa emosi. Pria itu meletakkan cangkirnya dengan bunyi denting yang presisi.

“Mereka sudah tahu,” jawab Alya, berusaha menjaga suaranya tetap stabil meski dadanya terasa sesak. “Seseorang menyebarkan email anonim tentang asal-usul Nara. Jika saya tidak menunjukkan sosok pendamping yang sah hari ini, mereka akan mengeluarkan Nara.”

Raka akhirnya mengangkat kepala. Tatapannya dingin, namun ada kilatan perhitungan di sana. “Departemen legal saya sudah melacak jejak pengirimnya tadi malam. Ini bukan sekadar gosip sekolah, Alya. Ini dirancang untuk menghancurkan reputasi siapa pun yang berada di dekatmu.”

“Lalu apa yang kamu inginkan?” Alya menantang, meski ia tahu posisinya lemah. “Membiarkan mereka menghancurkan masa depan anak saya?”

Raka tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru menggeser sebuah map kulit hitam tebal ke tengah meja, tepat di antara piring sarapan mereka yang nyaris tak tersentuh. Alya membuka map itu, matanya memindai poin-poin yang ditandai stabilo abu-abu. Itu bukan sekadar surat perjanjian; itu adalah kontrak pertunangan palsu dengan syarat-syarat yang kejam.

“Ini gila,” bisik Alya, merasakan dingin menjalar ke ujung jarinya. “Kamu meminta saya untuk meminjam namamu, sementara kamu sendiri sedang berada di ujung tanduk karena perebutan warisan keluarga Pranata. Kamu membutuhkan citra pria setia untuk menenangkan para pemegang saham.”

“Kita saling membutuhkan, Alya,” balas Raka tenang. “Kamu butuh perlindungan agar Nara tidak terusir dan reputasimu tidak hancur oleh masa lalumu dengan Dimas. Saya butuh kamu untuk menunjukkan kepada dunia bahwa saya adalah pria yang stabil dan memiliki komitmen. Ini adalah bisnis, bukan romansa.”

Alya menatap dokumen itu, lalu beralih ke notifikasi ponselnya yang kembali berkedip. Ancaman itu nyata, dan ia tidak memiliki pilihan lain. Ia harus merebut kembali kendalinya, bahkan jika ia harus menyerahkan identitas publiknya kepada pria sedingin es di hadapannya ini.

“Jika saya menandatangani ini, Nara aman?” tanya Alya, suaranya kini lebih tegas.

“Nara akan mendapatkan perlindungan penuh dari nama besar Pranata. Tidak ada satu pun orang tua atau komite sekolah yang berani menyentuhnya,” jawab Raka dengan keyakinan yang membuat Alya tertegun.

Alya mengambil pulpen yang tergeletak di samping map. Tangannya sempat berhenti di atas garis tanda tangan, teringat pada surat hukum lama di tasnya—bukti yang menunjukkan bagaimana Dimas dulu menjebaknya. Ia tahu, dengan menandatangani kontrak ini, ia memasuki medan perang yang jauh lebih berbahaya, namun ia tak punya jalan kembali.

Ia membubuhkan tanda tangannya dengan tegas. Raka menarik kembali map itu, menutupnya dengan bunyi yang final. Ia menatap Alya dengan intensitas yang membuat napas wanita itu tertahan.

“Ini bukan untuk cinta, Alya,” bisik Raka, suaranya sedingin es yang mematikan. “Ini tentang siapa yang akan hancur lebih dulu jika skandal ini meledak.”

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced