Novel

Chapter 3: Jejak yang Ditinggalkan

Alya menemukan bukti digital yang membuktikan Dimas merancang skandal paternitas Nara. Ia meninjau dokumen hukum bersama Raka dan pengacaranya, memperkuat posisi tawar mereka. Bab berakhir dengan Alya menghadapi tekanan sosial dari ibunya di sebuah acara amal, mempertegas statusnya sebagai 'pajangan' yang siap membalikkan keadaan.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Jejak yang Ditinggalkan

Layar laptop di meja kerja Alya masih menampilkan utas pesan yang ia temukan semalam. Itu bukan sekadar bukti; itu adalah peta pengkhianatan. Dimas tidak hanya meninggalkan utang, ia merancang skandal paternitas Nara sebagai asuransi jika Alya mencoba menuntut balik. Alya menutup laptopnya dengan gerakan patah, napasnya tertahan saat ketukan di pintu apartemennya memecah keheningan pagi. Tiga kali. Ritme yang hanya dimiliki oleh seseorang yang merasa memiliki otoritas atas ruang pribadinya.

Ibu Ratih melangkah masuk tanpa menunggu jawaban. Wajahnya adalah topeng kekhawatiran yang dipoles dengan tuntutan sosial. "Seluruh lingkungan sudah membicarakan pertunanganmu dengan Raka Pranata, Alya. Sampai sekolah Nara pun ikut bicara. Kamu sadar apa artinya ini bagi martabat keluarga kita?"

"Aku melakukan apa yang perlu dilakukan agar Nara tetap bisa bersekolah, Bu," jawab Alya, suaranya datar namun tegas. Ia merapikan kemeja kerjanya, menolak untuk terlihat goyah di depan ibunya yang selalu mengukur nilai seseorang dari persepsi orang lain.

"Itu bukan jalan keluar. Itu jeratan," Ratih mencibir, matanya menyapu apartemen Alya dengan tatapan merendahkan. "Keluarga Pranata tidak menerima orang luar tanpa harga yang mahal. Jangan sampai kamu menjadi pajangan yang dibuang saat mereka bosan."

Sebelum Alya sempat membalas, ponselnya bergetar. Sebuah instruksi singkat dari Raka: Siapkan dirimu. Kita akan meninjau dokumen hukum pagi ini. Jangan terlambat.

Di penthouse Raka, suasana jauh lebih dingin. Sinta Harun, pengacara keluarga Pranata, sudah menunggu dengan map krem di atas meja kaca. Begitu Alya duduk, Sinta menyodorkan dokumen tersebut. "Jika bukti digital yang Anda miliki sinkron dengan surat hukum lama ini, posisi Anda bukan hanya aman. Anda bisa membalikkan keadaan sepenuhnya."

Alya membuka map itu. Di dalamnya terdapat salinan surat hukum lama yang selama ini diklaim Dimas sebagai bukti utang bersama. Saat ia membandingkan detail transfer dan komunikasi di sana dengan utas pesan di laptopnya, kepingan puzzle itu menyatu. Dimas memanipulasi tanda tangan dan alur komunikasi untuk memastikan Alya menanggung beban hukum sendirian.

Raka berdiri di sisi meja, mengamati Alya dengan tatapan yang sulit dibaca. "Ini cukup untuk membongkar narasi Dimas," ujar Raka dingin. "Pengacara saya akan memproses ini. Tapi ingat, Alya, setiap langkah yang kita ambil untuk menghancurkan Dimas akan menarik perhatian publik ke arah pertunangan kita. Kamu siap dengan sorot lampunya?"

Alya menatap Raka. Untuk pertama kalinya, meja sarapan yang kemarin terasa seperti ruang sidang kini berubah menjadi meja negosiasi yang menjanjikan kuasa. "Aku tidak punya pilihan lain selain siap," jawab Alya tegas. Ia memasukkan salinan dokumen itu ke dalam tasnya, merasakan beratnya sebagai senjata, bukan lagi beban.

Malam harinya, di jamuan amal Hotel Dharmawangsa, tekanan itu memuncak. Alya berdiri di samping Raka, gaun hitamnya terasa seperti tameng. Di seberang aula, ia melihat Ratih sedang berbincang dengan anggota keluarga Pranata lainnya. Saat Alya mendekat, Ratih menatapnya dengan tatapan tajam yang menusuk.

"Jangan lupa posisimu di sini hanya sebatas pajangan, Alya," bisik Ratih saat mereka berpapasan, suaranya halus namun penuh racun. "Jangan biarkan status ini membuatmu lupa siapa dirimu sebenarnya."

Alya hanya tersenyum tipis, sebuah topeng ketenangan yang telah ia latih sepanjang hari. Ia menatap layar ponselnya sekali lagi, memastikan bukti pengkhianatan Dimas masih tersimpan aman. Ia bukan lagi perempuan yang melarikan diri dari masa lalu; ia adalah perempuan yang sedang menunggu waktu yang tepat untuk menghancurkan mereka yang telah mengkhianatinya.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced