Novel

Chapter 2: Skandal di Depan Lensa

Elara menghadapi serangan media setelah penandatanganan kontrak. Aris secara publik mengakui Elara sebagai istrinya, sebuah tindakan yang mengorbankan posisinya di dewan direksi demi stabilitas merger. Aris mengonfirmasi bahwa ia mengetahui Elara memegang leverage, dan keduanya terjebak dalam ketegangan di dalam mobil saat paparazi menangkap momen intim mereka.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Skandal di Depan Lensa

Tinta di atas kontrak pernikahan itu belum sepenuhnya kering, namun Elara sudah bisa merasakan napas dingin masa depannya. Saat langkahnya menapaki lantai marmer lobi Firma Hukum Danuarta & Associates, ia tidak mencari kebebasan. Ia mencari jalan keluar dari jerat Ibu Tirinya, Ratna, yang berdiri angkuh di dekat pintu putar, ponselnya terangkat tinggi seolah sedang memberikan aba-aba pada sekumpulan bayang-bayang di luar gedung.

Elara mengeratkan pegangan pada tasnya. Di dalamnya, tersimpan dokumen kepemilikan aset yang seharusnya menjadi milik ibunya—bukti yang bisa meruntuhkan silsilah keluarga tirinya dalam sekejap. Namun, ia tidak bisa menggunakannya sekarang. Belum saatnya.

"Sudah selesai, Elara?" suara Ratna tajam, penuh dengan kepalsuan yang manis. "Jangan lupa, kau hanya pengganti. Jangan berlagak seperti nyonya rumah saat kau bahkan tidak memiliki nama di daftar tamu undangan."

Elara berhenti, tubuhnya menegang. Sebelum ia sempat membalas, pintu kaca utama gedung itu terbanting terbuka. Kilatan lampu kamera menyambar-nyambar seperti petir di tengah siang bolong. Puluhan wartawan menyerbu masuk, mikrofon mereka beradu, menciptakan kebisingan yang memekakkan telinga.

"Nona Elara! Benarkah Anda menggantikan posisi saudari Anda yang kabur?" "Apakah ini pernikahan paksa demi menutupi hutang keluarga?"

Ratna tersenyum tipis, sebuah seringai kemenangan yang disamarkan dengan ekspresi prihatin di depan kamera. Elara merasa terpojok. Di mata publik, dia hanyalah pion yang tidak diinginkan, seorang 'pengantin tidak dikenal' yang dipaksakan untuk menutupi skandal keluarga. Namun, tepat saat ia hendak menundukkan kepala, sebuah tangan kokoh mendarat di bahunya.

Aris Danuarta muncul dari balik pintu kaca, langkahnya tegap dan penuh otoritas. Tanpa ragu, ia merangkul Elara, menarik wanita itu rapat ke sisinya. Sentuhan itu tidak lembut; itu adalah klaim kepemilikan yang dingin dan strategis.

"Pertanyaan Anda tidak relevan dengan agenda bisnis hari ini," suara bariton Aris memotong riuh rendah. Ia menatap lurus ke arah lensa kamera, tatapannya tajam seperti silet. "Saya tidak peduli pada spekulasi. Saya hanya peduli pada siapa yang berdiri di samping saya sebagai istri sah saya. Dan dia adalah Elara."

Keheningan singkat menyelimuti lobi. Aris baru saja membakar jembatan dengan dewan direksi yang menuntut pengantin asli dari keluarga terpandang. Perlindungan ini mahal—sangat mahal. Elara bisa melihat keraguan di mata para jurnalis, namun Aris tidak memberi mereka celah.

"Masuk ke mobil," bisik Aris, suaranya rendah dan penuh perintah.

Di dalam sedan mewah yang kedap suara, atmosfer berubah menjadi medan perang baru. Elara menjaga jarak, memosisikan diri sebagai mitra bisnis. "Kau baru saja mempertaruhkan posisimu di dewan direksi dengan mengakui pengantin pengganti di depan publik. Kenapa? Merger itu bisa terancam jika publik tahu aku bukan orang yang mereka harapkan."

Aris menoleh, sudut bibirnya terangkat dalam senyum tipis yang tidak mencapai matanya. "Aku tidak membeli masalah, Elara. Aku membeli stabilitas. Dan aku tahu kau memiliki sesuatu yang lebih berharga daripada sekadar reputasi keluarga yang membusuk itu."

Elara menahan napas. Aris tahu tentang dokumen di tasnya. Pria itu tidak mungkin menandatangani kontrak tanpa melakukan penyelidikan mendalam atas aset yang Elara bawa sebagai leverage. Sebelum Elara sempat membalas, mobil berhenti di lampu merah persimpangan pusat kota.

Di luar, seorang paparazi yang gigih berhasil mendekati jendela. Tanpa peringatan, kilatan lampu kamera menyambar dari jarak dekat, menangkap momen intim di dalam mobil—posisi mereka yang terlalu dekat, tatapan tajam Aris, dan wajah Elara yang tegang. Lensa kamera berkedip, menangkap momen yang akan menghancurkan reputasi keluarga Elara selamanya, sekaligus menjadi senjata baru bagi Elara untuk memutarbalikkan keadaan.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced