Novel

Chapter 3: Kompensasi dan Perangkap

Elara mendapatkan akses ke data keuangan keluarga dari Aris sebagai bagian dari negosiasi, namun ia menemukan bukti pemalsuan tanda tangan ibunya oleh Ratna. Aris mulai menekan Elara untuk menyerahkan bukti fisik sebagai syarat perlindungan, sementara ancaman dari Ratna semakin nyata.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Kompensasi dan Perangkap

Gerbang besi kediaman Danuarta menutup dengan dentuman berat, memutus sisa kilatan lampu paparazi yang masih mencoba menembus celah pagar. Di dalam mobil, keheningan terasa lebih tajam daripada kebisingan di luar. Aris Danuarta melepas dasinya dengan gerakan kasar, matanya menatap lurus ke depan, namun auranya menekan ruang sempit itu hingga Elara merasa sesak.

"Dewan direksi akan mengadakan rapat darurat besok pagi," suara Aris memecah sunyi, dingin dan tanpa emosi. "Mereka tidak suka kejutan, Elara. Terutama kejutan yang melibatkan pengantin pengganti yang tidak ada dalam daftar silsilah keluarga mereka."

Elara menoleh, menatap profil samping pria yang baru saja mempertaruhkan posisinya demi skenario pernikahan ini. "Aku tidak memintamu untuk mengakui aku di depan kamera. Itu adalah keputusanmu sendiri untuk mengamankan merger."

Aris menoleh, tatapan matanya menghujam. "Dan kamu memanfaatkannya untuk mendapatkan akses ke data keuangan keluarga. Jangan berpura-pura naif. Kita berdua tahu kamu memegang kartu as yang tidak seharusnya kamu miliki."

Begitu mereka masuk ke ruang kerja, Aris tidak membuang waktu. Ia menyalakan layar monitor besar di dinding. "Kamu ingin kompensasi? Ini aksesnya." Ia mengetikkan serangkaian kode, dan folder digital terbuka. "Data kas keluarga selama sepuluh tahun terakhir. Semua transaksi, semua pengalihan aset yang Ratna sembunyikan."

Elara mendekat, jantungnya berdegup kencang saat melihat deretan angka yang selama ini dirahasiakan. Di sana, ia menemukan celah: tanda tangan ibunya pada dokumen pelepasan warisan terlihat janggal, terlalu simetris, terlalu sempurna untuk sebuah dokumen yang ditandatangani dalam keadaan sakit.

"Ada harganya, Elara," Aris mendekat, suaranya merendah, memangkas jarak di antara mereka hingga Elara bisa mencium aroma kayu cendana dan ketegangan yang pekat. "Serahkan bukti fisik yang kamu simpan. Aku butuh leverage itu untuk menyingkirkan Ratna dari dewan direksi. Jika kamu tetap menyimpannya sendiri, kamu hanya akan menjadi target."

"Aku tidak akan menyerahkan satu-satunya senjata yang kupunya sebelum aku tahu siapa yang bisa dipercaya," jawab Elara tegas, meski tangannya sedikit gemetar. Ia menatap Aris, mencari celah di balik topeng dingin pria itu.

Sebelum Aris bisa membalas, pintu ruang kerja terbuka tanpa ketukan. Ratna melangkah masuk, senyumnya tipis dan berbisa. "Kalian terlihat sangat sibuk dengan angka-angka. Apa ada sesuatu yang menarik tentang warisan keluarga yang sudah lama terkubur?"

Elara segera menutup laptop, gerakannya gesit dan terlatih. "Hanya menyesuaikan diri dengan kehidupan baru, Ibu."

Ratna tertawa kecil, langkahnya mendekat hingga ia berdiri tepat di antara mereka. "Hati-hati, Elara. Rahasia adalah beban yang berat. Jika kamu tidak bisa memikulnya, ia akan menghancurkanmu."

Aris melangkah maju, memposisikan dirinya di antara Elara dan Ratna. "Dia berada di bawah perlindunganku, Ratna. Apa pun yang dia pegang, itu adalah urusanku."

Setelah Ratna pergi dengan wajah masam, Aris menatap Elara dengan tatapan yang sulit diartikan. "Dia tidak akan berhenti. Kamu harus memutuskan sekarang, Elara. Kita bekerja sama, atau kamu akan hancur sendirian."

Aris meninggalkan ruangan untuk mengurus keamanan, meninggalkan Elara sendirian. Tanpa membuang waktu, Elara bergerak menuju brankas tersembunyi di balik lukisan dinding yang Aris tinggalkan terbuka. Di dalamnya, ia menemukan map biru tua yang selama ini ia cari. Saat ia membuka dokumen pelepasan warisan ibunya, matanya terpaku pada baris terakhir. Tanda tangan itu palsu. Itu adalah tiruan yang dilakukan Ratna.

Suara langkah kaki Aris terdengar dari arah balkon. Ia memanggil nama Elara, suaranya bukan lagi tentang negosiasi, melainkan peringatan akan bahaya yang lebih besar yang kini mengintai mereka.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced