Tanda Tangan di Atas Luka
Ruangan itu berbau karpet mahal, kayu mahoni yang dipoles, dan kebohongan yang rapi. Elara duduk di kursi kulit yang sengaja dibuat rendah, memaksanya mendongak untuk menatap mata dingin Ibu Tirinya, Ratna. Di balik meja firma hukum Danuarta & Associates, Ratna tampak seperti hakim yang siap menjatuhkan vonis, bukan seorang ibu yang tengah dirundung kecemasan.
“Adikmu tidak hanya menghilang, Elara. Dia membawa serta kontrak merger yang seharusnya ditandatangani hari ini,” suara Ratna tajam, tanpa jejak kepanikan. Hanya ada amarah seorang pemegang saham yang aset pribadinya terancam.
Elara meremas jemarinya di bawah meja. Ia tahu persis di mana adiknya berada—mungkin sudah lepas landas bersama pria yang dicintainya, meninggalkan Elara untuk menanggung puing-puing kehancuran keluarga yang selama ini membuangnya.
“Lalu kenapa aku yang dipanggil?” tanya Elara, suaranya tenang namun bergetar karena emosi yang tertahan. “Aku bukan bagian dari keluarga ini sejak lima tahun lalu, saat kalian menghapus namaku dari daftar ahli waris dan mengusirku dengan satu koper pakaian.”
Ratna melemparkan dokumen tebal ke atas meja. Bunyi kertas yang beradu dengan kayu itu terdengar seperti palu hakim. “Karena kau memiliki wajah yang cukup mirip untuk menipu publik dan Aris Danuarta selama beberapa bulan ke depan. Jika pernikahan ini gagal, utang keluarga akan disita oleh bank besok pagi. Kau ingin rumah ini tetap berdiri? Tanda tangani ini.”
Pintu mahoni ruang rapat terbuka dengan desis hidrolik yang nyaris tak terdengar. Aris Danuarta melangkah masuk, membelah atmosfer yang pengap oleh ketegangan. Ia tidak menatap Elara. Pria itu langsung menuju kursi utama dengan gerak presisi, dingin, dan penuh otoritas. Aris meletakkan ponselnya di meja kaca. Layarnya menyorot berita utama tentang hilangnya sang calon pengantin asli—adik tiri Elara—yang kabur tepat sebelum merger raksasa ini diresmikan.
Aris akhirnya menatap Elara. Tatapannya tajam, membedah, seolah-olah ia sedang memeriksa keaslian sebuah aset yang baru saja dibelinya di pasar gelap.
“Tanggung jawab?” suara Aris rendah, berwibawa, namun mengandung duri. “Bagi saya, ini adalah kegagalan manajemen risiko yang fatal. Tapi, saya tidak punya waktu untuk mencari pengganti lain di tengah guncangan pasar saham hari ini.”
Elara merasakan sensasi dingin menjalar di tengkuknya. Aris tidak butuh cinta, ia butuh bidak yang bisa dikendalikan. Namun, Elara memiliki sesuatu yang tidak diketahui pria itu: bukti kepemilikan aset keluarga yang selama ini dicuri darinya. Jika ia harus menjadi pengantin pengganti, ia akan memastikan kontrak ini menjadi senjata untuk merebut kembali apa yang menjadi haknya.
“Saya punya syarat,” ucap Elara, suaranya kini lebih tegas.
Aris mengangkat satu alisnya, sedikit tertarik. “Syarat? Kau berada di posisi di mana kau tidak punya pilihan, Elara.”
“Saya punya pilihan untuk membiarkan keluarga ini runtuh,” balas Elara, menahan napas saat ia melihat kilatan bahaya di mata Aris. “Tapi jika saya menandatangani ini, saya ingin akses penuh ke arsip hukum keluarga dan pemulihan nama saya di yayasan. Anda butuh pengantin, saya butuh martabat yang kalian curi.”
Aris terdiam sejenak, mengamati Elara dengan intensitas yang membuat ruangan terasa semakin sempit. Akhirnya, pria itu mengangguk tipis. “Sebuah transaksi yang menarik.”
Bau kertas tua dan lilin segel yang meleleh memenuhi ruangan saat pena emas disodorkan. Elara meraihnya. Tangannya tidak gemetar saat ia membubuhkan tanda tangan di baris yang tersedia. Tinta hitam itu meresap ke dalam kertas, mengunci nasibnya dengan pria yang menatapnya dengan pandangan predator.
Aris mendekat, aromanya yang maskulin dan dingin menyelimuti ruang gerak Elara. Ia berbisik tepat di samping telinga Elara, “Kau bukan pengantin yang kuinginkan, tapi kau adalah pion yang paling menarik.”
Di luar pintu ruang rapat, kilatan cahaya kamera mulai tertangkap dari celah jendela. Seseorang telah membocorkan keberadaan mereka. Lensa kamera berkedip, menangkap momen yang akan segera menghancurkan reputasi keluarga Elara selamanya.