Harga Sebuah Perlindungan
Lampu kristal di Ballroom Grand Astoria membiaskan cahaya yang menyilaukan, namun bagi Aruna, ruangan itu terasa seperti kotak kaca yang menyesakkan. Sepuluh menit lalu, di balkon privat yang tersembunyi dari denting gelas sampanye, ia telah menukar kebebasannya dengan selembar kontrak. Kini, ia harus melangkah kembali ke dalam arena, menjadi istri kontrak bagi pria yang baru saja membelinya dari jurang kehancuran finansial.
Bramantya berjalan di sampingnya. Langkah pria itu tenang, terukur, dan penuh otoritas. Setiap inci dari setelan jasnya tampak seperti perisai yang tak tertembus, kontras dengan Aruna yang merasa gaun sutranya terlalu tipis untuk menahan tatapan tajam para tamu.
"Ingat, Aruna," bisik Bramantya. Suaranya rendah, nyaris tak terdengar oleh kerumunan, namun membawa bobot yang menekan. "Tugasmu hanya berdiri di sisiku dan terlihat meyakinkan. Sisanya adalah urusanku. Jangan biarkan mereka melihat celah sedikit pun."
Aruna menelan ludah, merasakan dinginnya lantai marmer merambat naik melalui sol sepatu hak tingginya. Di seberang ruangan, Pak Surya—kreditor yang baru saja menghinanya habis-habisan—sedang berbincang dengan rekan bisnisnya, sesekali melirik ke arah mereka dengan tatapan penuh kecurigaan. Aruna tahu, jika ia berbuat salah satu langkah saja, rumah masa kecilnya akan disita besok pagi. Bramantya meraih tangan kanannya, menggenggamnya dengan tekanan yang cukup kuat untuk memberi sinyal, namun cukup hangat untuk menipu mata publik.
Mereka bergerak menuju sudut VIP, tempat para dewan direksi berkumpul. Suasana di sana jauh lebih dingin daripada lantai dansa. Pak Surya menyambut mereka dengan senyum yang tidak mencapai mata.
"Jadi, ini wanita yang membuatmu mempertaruhkan stabilitas perusahaan?" suara Surya memecah keheningan, tajam dan penuh penghinaan. Aruna berdiri tegak, merasakan tatapan sinis dari enam pasang mata dewan direksi yang tertuju padanya. Mereka tidak melihatnya sebagai istri; mereka melihatnya sebagai beban yang mewarisi tumpukan utang keluarga yang membusuk.
"Keluarga Aruna adalah risiko, Bramantya," lanjut Surya sambil melempar dokumen di atas meja mahoni. "Apa kau sebodoh itu sampai menukar proyek di Singapura hanya untuk menutupi skandal wanita ini?"
Bramantya tidak berkedip. Ia menarik kursi, membiarkan bunyi gesekan logam yang kasar bergema di ruangan. "Proyek itu bisa dicari lagi, tapi reputasi istri saya tidak untuk diperdebatkan."
Aruna menahan napas. Ia melihat jemari Bramantya mengetuk meja dengan ritme dingin. Pria itu baru saja membakar jembatan emas demi melindunginya. Harga dari perlindungan ini jauh lebih mahal daripada yang pernah ia bayangkan; setiap pembelaan Bramantya adalah taruhan atas posisinya sendiri di perusahaan.
Di sela-sela ketegangan itu, mata Aruna menangkap sosok seorang pelayan yang membawa nampan berisi buku besar berlogo keluarga—sebuah arsip yang seharusnya sudah musnah bersama kejatuhan ayahnya. Tanpa berpikir panjang, Aruna mencoba melepaskan tangannya, berniat mendekat ke arah meja VIP tempat dokumen itu diletakkan. Namun, Bramantya menariknya lebih dekat. Aroma parfum maskulin pria itu menyelimuti indranya, menciptakan jarak yang tidak nyata antara tuntutan publik dan bahaya yang mengintai di balik layar.
"Jangan bergerak," tekan Bramantya, matanya mengunci Aruna dengan kilatan peringatan. "Jika kau ingin rumah itu tetap berdiri, fokuslah pada sandiwara ini."
Aruna menyadari bahwa kontrak ini bukan sekadar perlindungan, melainkan jebakan yang lebih rumit. Saat mereka melangkah keluar menuju lobi hotel, media sudah menanti. Lampu kamera menyambar seperti kilat, membuat mata Aruna perih.
"Bramantya! Apakah benar Anda menikahi seseorang demi menutupi krisis likuiditas perusahaan?" seru salah satu jurnalis.
Aruna merasakan jemarinya dingin. Ia tahu apa yang dipertaruhkan Bramantya. Jika ia gagal bersikap meyakinkan, bukan hanya reputasi pria itu yang hancur, tetapi juga jaminan perlindungan bagi rumah keluarganya akan menguap begitu saja. Bramantya tidak membuang energi untuk membela diri. Sebaliknya, ia mengambil langkah yang tidak terduga. Dengan gerakan tenang namun penuh otoritas, ia meraih tangan Aruna dan menariknya ke dalam genggaman yang terasa seperti sebuah klaim kepemilikan mutlak.
Seluruh ruangan mendadak hening. Aruna menatap Bramantya, menyadari bahwa ia kini benar-benar terjebak dalam pusaran yang tidak bisa ia hindari lagi, sementara di sudut matanya, ia melihat nama ayahnya tertulis jelas di buku besar yang kini dibawa pergi oleh pelayan misterius itu.