Ballroom dalam Kepungan
Lampu kristal di Ballroom Hotel Grand Mentari bukan sekadar penerang; ia adalah instrumen pengawasan. Di bawah pendar cahayanya yang tajam, gaun sutra biru tua Aruna terasa seperti kostum yang salah tempat. Di depannya, Pak Surya—kreditor ayahnya—melangkah maju, memecah kebisingan orkestra dengan suara yang sengaja dikeraskan untuk menarik perhatian para tamu.
"Apakah Anda pikir dengan memakai perhiasan pinjaman ini, utang keluarga Anda akan terhapus, Aruna?" Suara pria itu memantul di dinding marmer, mengundang bisik-bisik yang mulai menjalar seperti api. "Ayahmu bukan sekadar bangkrut. Dia seorang penipu yang melarikan diri dengan membawa dana investor. Dan sekarang, putrinya berani berdiri di sini, berpura-pura menjadi bagian dari kalangan atas?"
Aruna merasakan panas menjalar di tengkuknya. Ia tidak bisa melangkah mundur; di belakangnya hanya ada dinding kaca yang menghadap ke kerumunan tamu yang haus akan drama. Martabatnya, satu-satunya aset yang ia jaga mati-matian sejak kematian ayahnya, sedang dikuliti hidup-hidup di depan mata mereka yang berkuasa.
"Saya di sini untuk memenuhi kewajiban keluarga saya, Pak Surya," jawab Aruna. Suaranya stabil, meski jemarinya yang dingin terkunci rapat di balik lipatan gaun. "Tolong, jangan di sini. Kita bisa bicara di tempat lain."
"Di sini adalah tempat yang tepat untuk memperingatkan orang lain tentang parasit seperti keluargamu," balas pria itu. Ia memberi isyarat pada asistennya untuk membuka folder dokumen. Namun, sebelum surat sita aset itu terangkat, sebuah tangan yang kokoh mencekal pergelangan tangan Pak Surya.
Bramantya muncul seperti bayangan yang mematikan. Dingin, tak tersentuh, dan penuh otoritas. "Cukup, Surya. Jika kau ingin menagih utang, lakukan di kantor hukum, bukan di acara amal yang aku sponsori," suaranya rendah, namun membungkam seluruh ruangan. Ia melepaskan cengkeraman itu dengan gerakan menghina, seolah baru saja menyentuh sesuatu yang kotor.
Tanpa menunggu jawaban, Bramantya menarik Aruna keluar dari kerumunan, membawa mereka menuju balkon privat yang jauh dari jangkauan kamera. Dinginnya lantai balkon memancar hingga ke balik gaun sutra Aruna, kontras dengan hawa panas ballroom.
Bramantya menyalakan pemantik, lidah api kecil memantul di matanya yang tajam. Aroma cerutu mahal menguar, bercampur dengan wangi parfum maskulin yang terasa menyesakkan.
"Mereka tidak akan berhenti, Aruna," suara Bramantya datar, namun memiliki bobot yang mampu menghentikan detak jantung. "Besok pagi, berita tentang kebangkrutan keluargamu akan menjadi headline. Dan saat itu terjadi, rumah yang kau tinggali bersama ibumu akan disita dalam hitungan jam."
Aruna menegakkan punggung. Meski hatinya perih, ia menolak untuk terlihat hancur. "Lalu apa maumu? Menertawakan kehancuranku?"
Bramantya melangkah mendekat, mendesak ruang gerak Aruna hingga ia terpojok ke pagar balkon. "Aku tidak punya waktu untuk hal sepele. Aku butuh seseorang untuk menstabilkan posisiku di dewan direksi sebelum rapat pemegang saham minggu depan. Seseorang yang bisa tampil sempurna di depan publik. Menikahlah denganku, dan aku akan melunasi seluruh utang ayahmu. Termasuk skandal yang baru saja kau hadapi."
Pena emas itu terasa dingin dan berat di jemari Aruna. Di atas meja mahoni kecil, lembaran kontrak itu terbentang—sebuah surat kematian bagi kebebasannya, sekaligus satu-satunya perisai untuk menyelamatkan rumah keluarga. Aruna menatap tanda tangannya yang masih basah. Tinta hitam itu tampak pekat, kontras dengan kertas putih yang terasa seperti vonis.
"Kau baru saja membeli ketenangan bagi keluargamu, Aruna," ucap Bramantya. "Dan sebagai gantinya, kau adalah milikku di mata publik mulai detik ini. Jangan pernah lupa batasan itu."
Aruna mendongak, matanya menantang meski tangannya gemetar. "Aku tidak lupa, Bramantya. Aku hanya berharap kau tidak lupa bahwa kesepakatan ini memiliki harga. Reputasimu sekarang terikat dengan kehancuran keluargaku."
Bramantya tidak menjawab. Ia hanya menarik tangan Aruna dengan posesif, menyeretnya kembali ke area ballroom. Tanda tangan di atas kertas kontrak itu baru saja mengubah hidupnya selamanya, tepat saat Bramantya menarik tangannya di depan kamera, membuat seluruh ruangan terdiam.