Kompensasi yang Tak Terduga
Lampu kristal di ballroom hotel itu tidak lagi terasa mewah; cahayanya menusuk, menelanjangi setiap inci kepalsuan yang Aruna kenakan bersama gaun sutranya. Di sampingnya, Bramantya berdiri layaknya benteng yang tak tertembus. Tangan pria itu mencengkeram pinggang Aruna—bukan dengan kelembutan, melainkan dengan tekanan yang mengirimkan pesan tegas: jangan melangkah keluar dari garis.
Aruna menarik napas pendek. Aroma parfum kayu cendana milik Bramantya bercampur dengan bau apek kecemasan yang ia coba sembunyikan. Matanya tidak tertuju pada para pebisnis yang memuja Bramantya, melainkan pada seorang pelayan berseragam rapi yang bergerak di balik pilar marmer. Di tangan pelayan itu, sebuah buku besar bersampul kulit tua—benda yang seharusnya sudah musnah bersama kebangkrutan ayahnya—terbawa dengan sangat santai, seolah hanya inventaris tak berharga.
"Fokus, Aruna," bisik Bramantya, suaranya sedingin es namun tajam di telinga Aruna. "Dewan direksi sedang memperhatikan. Jika kau tampak linglung, orang-orang akan mulai mempertanyakan apakah pernikahan ini sekadar sandiwara untuk menutupi utang keluargamu."
Aruna menoleh, menatap iris mata Bramantya yang gelap. Pria itu baru saja mengorbankan proyek Singapura untuk melindunginya, namun sekarang, pria itu adalah orang yang menahannya dari satu-satunya bukti yang bisa menyelamatkan martabat keluarganya. "Aku hanya merasa tidak enak badan, Bram. Tekanan ini... terlalu banyak," bohongnya. Aruna mencoba melepaskan diri, namun Bramantya justru menariknya lebih dekat, seolah memamerkan Aruna sebagai trofi yang ia menangkan dengan harga mahal.
Beberapa jam kemudian, di dalam ruang kerja pribadi Bramantya yang kedap suara, suasana berubah menjadi dingin dan transaksional. Bramantya melempar kunci akses digital ke atas meja mahoni. "Gunakan ini untuk melunasi bunga pinjaman keluarga yang jatuh tempo besok," ucapnya tanpa menoleh, jemarinya lincah menari di atas layar tablet, memantau fluktuasi saham yang ia korbankan demi reputasi Aruna. "Jangan biarkan mereka menyentuh rumahmu lagi. Aku tidak butuh skandal penyitaan aset di saat posisi direksi sedang panas."
Aruna mendekat, bukan untuk berterima kasih, melainkan karena matanya tertuju pada tumpukan dokumen yang terbuka di sudut meja. Di sana, terselip buku besar bersampul kulit retak yang ia lihat di ballroom tadi. "Kau sudah membacanya?" tanya Aruna, suaranya bergetar.
Bramantya menghentikan gerakannya. Ia menatap Aruna dengan sorot mata yang sulit dibaca. "Itu bukan urusanmu. Fokuslah pada peranmu sebagai istri yang stabil. Aku sudah membayar mahal untuk ketenangan ini."
Saat Bramantya dipanggil untuk rapat darurat, Aruna tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ia mendekati meja kerja pria itu. Dengan tangan gemetar, ia menavigasi folder terenkripsi yang dibiarkan terbuka. Matanya memindai angka-angka transaksi yang janggal, hingga sebuah file dengan label 'Audit Internal: Kasus Likuidasi 10 Tahun Lalu' muncul.
Aruna menahan napas saat ia membuka dokumen tersebut. Sebuah salinan digital dari buku besar yang selama ini ia yakini telah musnah kini terpampang nyata. Ia menelusuri baris demi baris, mencari bukti bahwa ayahnya adalah korban konspirasi, namun yang ia temukan justru sebaliknya. Nama ayahnya tertera sebagai pelaku utama dalam skandal yang menghancurkan keluarga Bramantya sendiri.
Suara pintu terbuka membuat Aruna tersentak. Bramantya berdiri di ambang pintu, kemejanya sedikit kusut. Ia tidak langsung marah, namun tatapannya yang tajam jatuh tepat pada layar monitor yang masih menampilkan nama mendiang ayah Aruna.
"Jadi, kau sudah menemukannya," ujar Bramantya datar, suaranya berat dengan beban yang selama ini ia sembunyikan. "Itulah alasan kenapa aku tidak membiarkanmu melihat buku itu, Aruna. Aku tidak ingin kau tahu bahwa pria yang kau bela sebagai korban, sebenarnya adalah orang yang menghancurkan hidupku."
Aruna mematung. Pernikahan ini bukan sekadar perisai dari kreditor; ini adalah jebakan yang dirancang oleh dendam masa lalu. Saat mereka berdiri di sana, terikat oleh kontrak dan rahasia, Aruna menyadari bahwa seseorang di luar sana kini mengawasi setiap gerak-gerik mereka, menunggu bukti tersebut bocor ke publik untuk menghancurkan mereka berdua.