Luka yang Terbuka
Pintu ruang rapat di lantai 40 terbuka dengan bantingan yang memutus keheningan. Baskoro melangkah masuk, napasnya memburu, diikuti dua pengacara yang membawa map tebal. Di balik meja mahoni, Adrian tidak bergeming, namun tangannya secara naluriah bergeser melindungi berkas di depannya.
"Cukup sandiwara ini, Adrian!" Baskoro menunjuk Elara dengan jari gemetar. "Istri simpananmu ini telah mencuri data internal perusahaan. Kami punya bukti akses ilegal dari akunnya. Serahkan dia sekarang, atau kita bawa ini ke meja hijau dan membusuklah kalian berdua di sana."
Elara merasakan hembusan dingin AC, namun ia tidak berkedip. Ia menatap Baskoro tepat di mata, menghitung setiap urat leher pria itu yang menegang. Ini adalah momen yang ia tunggu; saat di mana topeng kesantunan keluarga itu akhirnya retak karena kepanikan.
"Curi?" Elara bersuara, nadanya datar namun menusuk. "Data yang kamu maksud adalah bukti penggelapan pajak yang dilakukan departemen keuangan di bawah pengawasanmu, Baskoro?"
Baskoro tertegun, wajahnya memerah padam. "Jangan berani-berani memutarbalikkan fakta, dasar perempuan tidak tahu diri!"
Sebelum Baskoro sempat melangkah maju, Adrian berdiri. Gerakannya tenang, namun aura dominasinya seketika memenuhi ruangan. Ia melangkah maju hingga berdiri tepat di samping Elara, tangannya bertaut di belakang punggung, menciptakan dinding perlindungan yang nyata. "Dia bukan pencuri, Baskoro. Dia adalah istri saya, dan setiap akses yang ia miliki adalah otoritas yang saya berikan secara sah. Jika Anda ingin membahas data, mari kita buka audit forensik sekarang juga. Apakah Anda siap melihat berapa banyak aset keluarga yang hilang di bawah tanda tangan Anda?"
Baskoro terpaksa mundur selangkah, namun matanya menyiratkan dendam yang lebih dalam. Ia tahu Adrian tidak sedang menggertak.
Setelah keluarga Baskoro pergi dengan wajah terhina, Elara dan Adrian bergegas menuju ruang arsip pribadi. Di sana, di atas meja jati yang luas, Elara membentangkan dokumen silsilah yang selama ini disembunyikan. "Ini bukan sekadar silsilah," suara Elara memecah kesunyian. Ia menunjuk catatan kaki yang telah dihapus sejarah. "Ini adalah bukti bahwa garis keturunan Baskoro tidak pernah memiliki hak atas yayasan ini. Mereka membangun kerajaan di atas tanah yang secara hukum milik almarhum ibuku."
Adrian tidak menatap Elara dengan kasihan, melainkan dengan ketertarikan yang dingin dan penuh perhitungan. Ia membuka akses penuh ke sistem keamanan perusahaannya. "Jika kita merilis ini ke dewan direksi besok, mereka akan menghadapi tuntutan pidana atas pemalsuan dokumen selama dua dekade."
Elara menatap Adrian, mencari keraguan di mata pria itu—keraguan yang tidak pernah ia temukan. Namun, ketenangan itu terusik saat ia menerima pesan anonim di lobi hotel kemudian. Sebuah foto Siska, pengantin yang kabur, sedang bersama seorang pria bertato simbol sindikat. Siska tidak kabur untuk mencari kebebasan; ia menjual akses ke brankas utama keluarga kepada pihak ketiga. Elara menyadari, musuhnya kini jauh lebih besar dari sekadar Baskoro.
Ketegangan memuncak di Ballroom Grand Astoria. Saat Baskoro mencoba mempermalukan Elara di depan tamu undangan, sebuah sabotase fisik terjadi. Rantai lampu kristal raksasa berderit, terputus secara tidak wajar. Waktu seolah melambat. Sebelum puing-puing kaca menghujam, tubuh Adrian menerjang Elara, mendekapnya erat dan menggulingkannya menjauh. Suara dentuman keras menghantam lantai marmer, disusul jeritan para tamu. Adrian terkapar, darah segar mengalir dari pelipisnya, sementara Elara berdiri tegak di atas puing-puing, menatap Baskoro dengan tatapan dingin yang menjanjikan kehancuran total.