Novel

Chapter 7: Harga Sebuah Kepercayaan

Elara menguji loyalitas Adrian dengan menyerahkan bukti warisan yang selama ini disembunyikan keluarganya. Adrian menolak suap Baskoro dan mengakui Elara sebagai mitra setara, memperkuat aliansi mereka sebelum konfrontasi besar di ruang rapat.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Harga Sebuah Kepercayaan

Lampu meja kuningan di ruang kerja Adrian berpendar redup, memahat bayangan tajam di atas tumpukan dokumen yang berserakan. Elara berdiri di sana, jemarinya mencengkeram map kulit berisi bukti transaksi ilegal Baskoro. Ini adalah kartu as yang ia ambil dari sistem internal perusahaan—sebuah senjata yang mampu meluluhlantakkan reputasi keluarganya dalam semalam, namun sekaligus menjadi bukti bahwa ia adalah penyusup di mata pria yang kini berdiri di ambang pintu.

Adrian melangkah masuk, setelan jasnya masih rapi meski jam telah melewati tengah malam. Matanya yang tajam mengunci pergerakan Elara. Ia tidak bertanya mengapa Elara berada di ruang kerjanya, atau apa yang ia pegang. Adrian berjalan mendekat, membiarkan aroma cendana yang khas memenuhi indra penciuman Elara hingga jarak mereka hanya sejengkal.

"Baskoro mulai mencium sesuatu," ujar Elara, suaranya stabil meski jantungnya berpacu. "Dia tahu ada kebocoran data. Jika aku menyimpan ini lebih lama, posisimu akan ikut terseret dalam kehancurannya." Ia menyodorkan map itu. Ini adalah ujian; jika Adrian adalah pria pragmatis yang ia kenal, pria itu akan merebutnya untuk mengamankan posisinya sendiri. Namun, Adrian justru menatap map itu sejenak sebelum menatap mata Elara, lalu mendorongnya kembali dengan punggung tangannya.

"Simpan itu, Elara. Aku tidak butuh bukti curian untuk menghancurkan Baskoro. Aku butuh kau tetap memiliki senjatamu sendiri sampai saatnya tiba," ucap Adrian dingin namun tegas. Ia tidak mengambilnya, menunjukkan rasa hormat yang tak terduga atas agensi Elara.

Keesokan harinya, tekanan itu berpindah ke meja makan privat di sebuah restoran eksklusif di SCBD. Baskoro duduk di seberang mereka, menatap Elara dengan kebencian yang nyaris tak tertutup. "Elara hanyalah pion, Adrian," desis Baskoro, suaranya rendah. "Jika kau menyerahkan bukti akses data itu padaku dan menceraikannya malam ini, aku bisa memastikan merger perusahaanmu berjalan mulus tanpa gangguan drama keluarga yang memalukan ini."

Elara menahan napas. Ia menatap Adrian, menunggu apakah pria itu akan memilih kenyamanan bisnis atau kehormatan sekutunya. Adrian menyesap anggurnya perlahan, membiarkan keheningan mencekam menggantung di antara mereka. Ia kemudian meletakkan gelas kristalnya dengan denting tajam. Ia tidak menatap Baskoro; ia menatap Elara, menatapnya dengan intensitas yang membuat Baskoro tampak seperti debu di lantai.

"Pion?" Adrian mengulang kata itu dengan nada menghina. "Elara adalah istriku dan mitra setaraku. Jika kau menganggapnya bisa dibeli, maka kau telah meremehkan lawan bicaramu, Baskoro. Pertemuan ini selesai." Adrian berdiri, menarik kursi Elara dengan gerakan protektif yang tegas, meninggalkan Baskoro yang memucat karena amarah yang tertahan.

Kembali ke kediaman mereka, di balkon yang menghadap gemerlap lampu Jakarta, Elara memutuskan untuk tidak lagi bermain aman. Ia mengeluarkan amplop cokelat tebal yang berisi bukti warisan—dokumen silsilah asli yang selama ini disembunyikan keluarganya untuk meniadakan eksistensinya.

"Kau tahu apa yang ada di sini, Adrian?" suara Elara memecah kesunyian. "Ini bukan sekadar kertas. Ini adalah bukti bahwa aku bukanlah 'pengganti' yang bisa mereka buang. Ini adalah alasan mengapa mereka menghancurkan hidup ibuku."

Adrian melangkah maju, berdiri tepat di sampingnya. Ia tidak mencoba merampas amplop itu. Ia justru membiarkan Elara yang memegang kendali. "Aku tahu," jawab Adrian singkat. "Dan aku tahu kau tidak akan memberikan bukti ini kepada siapa pun kecuali kau yakin mereka tidak akan menggunakannya untuk menindasmu."

Elara menatap pria di sampingnya. Untuk pertama kalinya, ia tidak melihat seorang sekutu bisnis, melainkan seseorang yang bersedia mempertaruhkan reputasinya demi keadilan yang Elara cari. Dengan tangan gemetar namun pasti, Elara menyerahkan dokumen paling sensitif itu ke tangan Adrian. Ia mempertaruhkan segalanya pada satu taruhan: kepercayaan. Saat jemari Adrian menyentuh amplop itu, Elara tahu, mereka bukan lagi sekadar dua orang dalam kontrak pernikahan. Mereka adalah dua kekuatan yang kini siap meruntuhkan fondasi keluarga Baskoro dari dalam.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced