Novel

Chapter 6: Malam di Puncak Jakarta

Elara menghadapi konfrontasi langsung dengan Baskoro di acara amal, yang memicu intervensi protektif dari Adrian. Di balkon, mereka menegosiasikan aliansi mereka lebih dalam, di mana Adrian memberikan janji perlindungan yang melampaui batas kontrak, mempererat ketegangan romantis sekaligus kesiapan Elara untuk menggunakan bukti korupsi yang ia miliki.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Malam di Puncak Jakarta

Lampu kristal di Ballroom Grand Astoria memantulkan kemewahan yang terasa mencekik. Elara berdiri di sana, dalam balutan sutra midnight blue yang bukan sekadar gaun, melainkan baju zirah. Setiap helai kainnya adalah kompensasi dari Adrian, sebuah pernyataan bahwa ia bukan lagi pelayan yang bisa diabaikan.

Di seberang ruangan, Baskoro tidak lagi menatapnya dengan tatapan meremehkan. Mata pria itu menyipit, penuh kalkulasi yang berbahaya. Saat Baskoro memotong kerumunan, langkahnya berat dan menuntut. Ia berhenti tepat di depan Elara, memutus akses pandangannya ke arah Adrian yang sedang melayani tamu di ujung ruangan.

"Kau berani sekali muncul di sini setelah rapat dewan kemarin," suara Baskoro rendah, bergetar oleh amarah yang tertahan. "Data internal yang kau gunakan untuk menjatuhkanku... itu bukan sesuatu yang bisa diakses oleh seorang 'istri pengganti'. Dari mana kau mendapatkannya?"

Elara tidak mundur. Ia memegang gelas sampanye dengan jemari yang tenang, meski detak jantungnya berpacu. Ia tahu ini adalah ujian dari status barunya. "Mungkin masalahnya bukan dari mana saya mendapatkannya, Baskoro, melainkan kenapa sistem audit internal kalian begitu rapuh hingga bisa ditembus oleh pihak luar," jawab Elara datar. "Atau mungkin, kau hanya takut karena sekarang ada seseorang yang bisa melihat di balik tirai korupsimu."

Wajah Baskoro memerah. Tangannya terangkat, sebuah ancaman fisik yang impulsif. Namun, sebelum telapak tangannya sempat mendarat, sebuah tangan yang kuat mencengkeram pergelangan tangannya di udara. Adrian muncul dari balik bayang-bayang pilar marmer, sosoknya menjulang dengan otoritas yang membuat suasana di sekitar mereka mendadak hening.

"Ada masalah di sini, Baskoro?" Suara Adrian tenang, namun setiap katanya membawa beban yang membuat Baskoro gemetar. Adrian tidak melepaskan cengkeramannya, justru ia menarik Elara mendekat ke sisinya, memposisikan diri sebagai perisai yang tak tertembus. "Istriku sedang menikmati acaranya. Jangan biarkan ketidakmampuanmu dalam mengelola departemen merusak malam ini."

Baskoro mundur, napasnya memburu. Ia tahu ia baru saja kalah dalam perang status. Tanpa sepatah kata pun, Adrian membawa Elara menjauh dari kerumunan, menuju balkon lantai dua puluh yang menghadap ke gemerlap lampu Jakarta.

Udara malam yang lembap menyambut mereka. Adrian bersandar pada pagar pembatas, menatap cakrawala dengan mata yang menyimpan perhitungan dingin. "Baskoro tidak akan berhenti. Dia mencium adanya kebocoran internal. Dia mulai menyadari bahwa data yang kau gunakan bukan berasal dari laporan publik."

Elara memutar gelas sampanye di tangannya, merasakan dingin kristal itu. "Dia bisa mencium apa pun yang dia mau. Selama aku memegang bukti transaksi ilegal itu, dia hanya seekor anjing yang menggonggong di depan gerbang besi yang terkunci." Elara menatap Adrian, mencari keraguan di wajah pria itu. "Kepercayaan adalah komoditas mahal, Adrian. Memberikan bukti itu padamu adalah satu-satunya cara untuk memastikan Baskoro tidak bisa membalas. Jika kau menyimpannya sendiri, kau hanya target. Jika kita..."

"Jika kita bergerak bersama," potong Adrian, suaranya melembut namun intensitas tatapannya meningkat. Ia melangkah mendekat, memangkas jarak hingga Elara bisa merasakan hangat napasnya. "Kau sudah memegang kendali, Elara. Tapi ingat, di dunia ini, memiliki senjata saja tidak cukup. Kau harus berani menarik pelatuknya sebelum mereka merampasnya darimu."

Elara menoleh, menatap mata Adrian yang gelap. "Apa kau takut aku akan menarik pelatuk itu ke arah yang salah?"

Adrian tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru melingkarkan lengannya di pinggang Elara, menariknya begitu dekat hingga batas antara kontrak bisnis dan gairah yang terpendam terasa kabur. "Aku tidak takut kau menarik pelatuk itu," bisiknya tepat di samping telinga Elara, suaranya rendah dan penuh janji yang berbahaya. "Aku hanya ingin memastikan bahwa saat kau melakukannya, kau tahu bahwa tidak ada yang akan membiarkanmu jatuh setelahnya. Aku akan menjadi alasanmu untuk menang, Elara. Bukan sekadar mitra kontrak, tapi seseorang yang akan menjagamu bahkan saat dunia ini mencoba merobekmu."

Elara tertegun. Di tengah riuhnya pesta di bawah sana, janji itu terasa lebih nyata daripada dokumen hukum mana pun yang pernah mereka tandatangani. Ia kini memegang bukti warisan itu—sebuah bom waktu yang siap ia ledakkan. Menatap Adrian, Elara tahu bahwa ini bukan lagi sekadar permainan balas dendam, melainkan pertaruhan hidup yang ia percayakan sepenuhnya pada pria yang kini memeluknya di bawah langit malam Jakarta.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced