Novel

Chapter 5: Aliansi yang Berbahaya

Elara mengambil alih kendali dalam rapat dewan dengan mengungkap korupsi Baskoro menggunakan data internal. Sebagai kompensasi, Adrian mengembalikan surat tanah milik ibu Elara. Namun, kesuksesan ini memicu kecurigaan Baskoro mengenai akses Elara terhadap data perusahaan, menempatkan Elara dalam posisi yang lebih berbahaya di tengah acara amal.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Aliansi yang Berbahaya

Pintu mahoni ruang rapat utama di kantor pusat Adrian terbuka tanpa suara, namun kehadiran Elara di ambang pintu itu terasa seperti dentuman palu hakim. Di dalam, belasan petinggi perusahaan yang selama ini memandang Adrian dengan skeptisisme menoleh serempak. Tatapan mereka tajam, penuh selidik, dan sarat dengan asumsi bahwa Elara hanyalah pion yang dipasang Adrian untuk menutupi skandal pernikahannya.

"Istri saya akan memimpin agenda hari ini," suara Adrian terdengar rendah namun mutlak, memutus bisik-bisik yang mulai berkembang. Ia menarik kursi di ujung meja, mempersilakan Elara duduk dengan gerakan yang tampak sopan, namun Elara tahu itu adalah sebuah tantangan. Elara tidak membuang waktu. Ia membuka map biru tua yang ia bawa—dokumen yang ia ambil langsung dari brankas pribadi Adrian. Di hadapannya duduk Pak Baskoro, sekutu utama keluarga Elara yang selama ini menjadi otak di balik upaya pengambilalihan aset keluarga secara ilegal. Pria itu tersenyum meremehkan, seolah menunggu Elara melakukan kesalahan fatal.

"Sebelum kita membahas merger dengan konsorsium luar, saya ingin meluruskan satu hal mengenai arus kas anak perusahaan yang dikelola Pak Baskoro," ujar Elara tenang. Suaranya datar, tanpa getaran gugup. Ia menggeser selembar kertas berisi catatan transaksi fiktif ke tengah meja. "Data ini menunjukkan adanya pengalihan dana ke rekening luar negeri yang tidak tercatat dalam audit tahunan. Jika dewan ingin mempertahankan reputasi perusahaan, saya sarankan kita memutus kontrak dengan entitas tersebut sekarang juga."

Keheningan mencekam menyelimuti ruangan. Wajah Baskoro memucat, matanya membelalak tak percaya saat melihat detail transaksi yang seharusnya hanya diketahui oleh orang dalam. Elara menatapnya tajam, menegaskan bahwa ia bukan lagi pion yang bisa diinjak.

Setelah rapat berakhir, Elara melangkah menuju ruang kerja Adrian di lantai empat puluh. Adrian sudah menunggunya di dekat jendela besar yang menghadap gemerlap lampu Jakarta. Saat Elara masuk, pria itu berbalik, tatapannya penuh perhitungan yang berbahaya.

"Data yang kau berikan bukan sekadar akses, Elara," ujar Adrian, suaranya rendah, menggema di ruang yang sunyi. Ia mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal dari laci meja dan meletakkannya di antara mereka. "Ini adalah kunci untuk membuka tirai yang selama ini mereka tutup rapat. Aku tidak terbiasa berhutang, apalagi pada sekutu. Ini adalah kompensasi atas kerja kerasmu hari ini."

Elara membuka amplop itu. Di dalamnya terdapat surat tanah asli milik ibunya—aset yang selama bertahun-tahun dijadikan sandera oleh keluarganya. Napasnya tertahan. Ini bukan sekadar kertas; ini adalah kebebasan yang selama ini ia impikan. Adrian mendekat, aroma parfum kayu cendana menyelimuti ruang privat mereka. "Kau bukan sekadar istri di atas kertas, Elara. Kau adalah sekutu paling berharga yang pernah kumiliki."

Ketegangan romantis itu terputus saat mereka harus menghadiri acara amal di Ballroom Hotel Grand Astoria. Di sana, lampu kristal tampak seperti ribuan mata yang menghakimi. Elara berdiri di samping Adrian, merasakan jemari pria itu yang bertaut erat di pinggangnya—sebuah gestur posesif yang dirancang untuk membungkam rumor. Namun, di seberang ruangan, Tuan Baskoro menatap mereka dengan intensitas yang mengganggu. Ia mendekat dengan senyum dingin.

"Nyonya Adrian, sungguh mengejutkan melihat Anda begitu cepat memahami sistem manajemen risiko perusahaan ini," bisik Baskoro, matanya menyipit penuh kecurigaan. "Sepertinya Anda memiliki sumber informasi yang sangat... menarik."

Adrian menarik Elara ke area teras yang lebih privat, jauh dari jangkauan telinga-telinga jahil. "Mereka mulai berbisik, Elara. Mereka menyadari bahwa seseorang di dalam lingkaran mereka telah membocorkan data transaksi yang seharusnya terkubur selamanya," ucap Adrian, suaranya tajam. Ia menatap Elara dengan intensitas yang membuat napasnya tertahan. "Mereka mulai mencurigai aksesmu. Jika mereka tahu kau memegang data itu, keselamatanmu adalah taruhan berikutnya."

Elara menatap cakrawala, menyadari bahwa permainan ini telah berubah. "Mereka tidak tahu siapa yang melakukannya, tapi mereka mulai mengawasiku lebih ketat. Mereka tahu fondasi mereka retak, dan mereka akan melakukan apa saja untuk menutup celahnya."

Adrian mendekat, membisikkan janji yang mengaburkan batas antara kontrak bisnis dan keinginan pribadi. "Biarkan mereka mencurigaimu. Aku akan memastikan mereka tidak punya kesempatan untuk menyerang balik. Aku akan menghancurkan mereka sepenuhnya untukmu." Elara tertegun, menyadari bahwa janji itu bukan lagi tentang bisnis, melainkan sebuah ikatan berbahaya yang mungkin akan menghancurkan mereka berdua.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced