Novel

Chapter 4: Skandal yang Didesain

Elara menghadapi serangan fitnah dari keluarganya di media sosial. Adrian memilih untuk tidak menyembunyikan Elara, melainkan menjadikannya umpan strategis di acara amal. Di depan publik, Adrian menunjukkan dukungan penuh, membalikkan narasi penipuan menjadi demonstrasi kekuatan, sementara keluarga Elara mulai menyadari bahwa Elara memiliki akses ke data internal perusahaan.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Skandal yang Didesain

Layar ponsel Elara memancarkan cahaya biru yang tajam di atas meja marmer penthouse Adrian. Notifikasi masuk bertubi-tubi—sebuah simfoni digital yang dirancang untuk menghancurkannya. Di sana, di jagat maya, wajahnya terpampang nyata: foto dirinya saat masih menjadi pelayan di kediaman utama, disandingkan dengan potretnya saat berdiri di altar sebagai pengantin Adrian. Judulnya provokatif: Penipu Berkedok Pengantin: Siapa Sebenarnya Istri Adrian?

Elara memungut ponsel itu. Jemarinya stabil, meski jantungnya berdegup kencang. Ia tahu siapa yang mengirimkan foto-foto itu. Keluarga utamanya tidak sekadar memfitnah; mereka meluncurkan kampanye sistematis untuk mendiskreditkan setiap bukti transaksi ilegal yang baru saja ia curi dari brankas Adrian.

"Mereka bergerak lebih cepat dari perkiraan," gumam Elara.

Adrian muncul dari balik pintu ruang kerja, kemeja putihnya sedikit terbuka di bagian kerah. Ia tidak tampak terkejut. Pria itu justru menyesap kopinya, menatap Elara dengan intensitas yang membuat udara di ruangan itu terasa lebih berat.

"Mereka ingin publik melihatmu sebagai penipu agar saat kau mengeluarkan bukti itu nanti, semua orang menganggapnya sebagai karangan fiktif seorang wanita yang putus asa," ujar Adrian. Ia berdiri tepat di belakang Elara, aroma maskulin yang tajam menyelimuti ruang privasi mereka. "Mereka mencoba memotong aksesmu sebelum kau sempat bicara."

Elara memutar tubuhnya. "Dan kau membiarkan mereka melakukannya untuk melihat seberapa jauh aku bisa bertahan?"

Adrian mengambil ponsel Elara dan mematikannya. "Aku membiarkan mereka menunjukkan kartu mereka. Sekarang, aku tahu siapa saja pion yang terlibat dalam sindikat yang mencoba merongrong perusahaanku dari dalam. Kau bukan lagi pelayan yang mereka buang, Elara. Kau adalah umpan yang sangat tajam."

*

Di dalam limusin yang meluncur menuju acara amal, ketegangan di antara mereka terasa seperti kabel yang ditarik hingga titik putus. Adrian membuka folder dokumen di pangkuannya, menunjukkan daftar nama petinggi perusahaan yang bekerja sama dengan keluarga Elara.

"Ini adalah daftar orang-orang yang mendanai kampanye fitnah itu," suara Adrian memecah keheningan. "Jika kau ingin membalas, lakukan sekarang. Tapi ingat, setiap langkah yang kau ambil akan memiliki konsekuensi sosial yang mahal."

Elara menatap dokumen itu, lalu beralih menatap Adrian. "Aku tidak butuh perlindungan, Adrian. Aku butuh kemitraan. Jika kau ingin aku menghancurkan mereka, aku butuh akses penuh ke data internal perusahaanmu. Bukan hanya brankas, tapi alur komunikasi mereka."

Adrian meraih tangan Elara. Sentuhan itu bukan kasih sayang, melainkan pernyataan kepemilikan strategis. "Kau berani menuntut di tengah badai? Baiklah. Tapi ketahuilah, jika kau melangkah ke panggung itu malam ini, tidak akan ada jalan kembali bagi kita berdua."

Elara menerima tantangan itu dengan senyum dingin. "Aku tidak pernah berniat untuk kembali, Adrian. Aku hanya berniat untuk menang."

*

Ballroom Grand Astoria malam itu terasa seperti ruang eksekusi. Elara melangkah masuk di samping Adrian, merasakan tatapan menghina dari kerabatnya. Di tengah kerumunan, sang paman memberi sinyal pada seorang wartawan hiburan yang langsung merangsek maju.

"Nyonya Adrian, benarkah Anda adalah penipu yang menyusup ke keluarga besar kami?" seru wartawan itu. "Ada bukti foto yang viral malam ini, menunjukkan Anda hanyalah seorang pelayan yang mencuri identitas sepupu Anda!"

Keheningan mencekam merayap di ballroom. Elara merasakan jemari Adrian mengunci lengannya, sebuah cengkeraman yang menjadi pernyataan perang. Elara tidak memucat. Ia berhenti, memutar tubuhnya perlahan hingga menghadap langsung ke arah kamera.

"Keluarga saya memang memiliki bakat luar biasa dalam menciptakan narasi," suara Elara tenang dan mematikan. Ia menatap lurus ke arah pamannya yang tampak gelisah. "Namun, sangat disayangkan, mereka lupa bahwa dalam dunia bisnis, identitas bukanlah tentang siapa yang paling keras berteriak, melainkan siapa yang memegang kendali atas fakta."

Adrian melangkah maju, memposisikan dirinya di depan Elara, namun ia membiarkan istrinya tetap memegang kendali. Di depan ratusan pasang mata, Adrian menggandeng tangan Elara dengan posesif, sebuah gestur yang membuat media sosial meledak seketika. Foto-foto mereka yang tampak serasi mulai membanjiri linimasa, menenggelamkan narasi penipuan dengan citra kekuatan yang tak terbantahkan.

Keluarga Elara mulai saling berbisik, wajah mereka pucat pasi. Mereka menyadari bahwa Elara tidak hanya selamat, tetapi ia telah mendapatkan dukungan penuh dari pria paling berpengaruh di kota itu. Saat mereka berbalik untuk pergi, Elara melihat tatapan panik di mata pamannya—sebuah sinyal bahwa mereka mulai curiga bahwa Elara memiliki akses ke data internal yang lebih dalam dari yang mereka bayangkan.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced