Novel

Chapter 3: Topeng yang Retak

Elara berhasil mengakses brankas digital Adrian dan menemukan bukti bahwa mereka berdua dimanipulasi oleh sindikat yang sama. Adrian, alih-alih marah, justru menawarkan aliansi strategis untuk menghancurkan musuh bersama mereka, mengubah dinamika hubungan mereka dari sekadar kontrak menjadi sekutu yang berbahaya.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Topeng yang Retak

Lampu kristal di ruang makan kediaman utama Wiradana berpendar dingin, menyorot meja mahoni panjang yang memisahkan Elara dari orang-orang yang dulu membuangnya. Di seberang, Ayah menatapnya dengan pandangan yang lebih tajam daripada pisau steak di tangannya. Ibu tiri, dengan perhiasan yang gemerlap berlebihan, menyesap anggur merahnya sambil melempar senyum yang tidak menyentuh mata.

"Pernikahan yang mendadak, Elara," ujar Ayah, suaranya rendah namun penuh penekanan. "Sangat efisien. Seolah kau sudah menunggu Siska melakukan kesalahan itu sejak lama."

Elara meletakkan garpunya dengan tenang, membiarkan bunyi denting logam itu bergema di ruang yang sunyi. Ia merasakan kehadiran Adrian di sampingnya—bukan sebagai suami yang penuh kasih, melainkan sebagai predator yang sedang mengamati mangsanya. Tangan Adrian, yang tergeletak di atas meja, tampak kokoh dan tak tergoyahkan.

"Kesempatan tidak datang dua kali, Ayah," jawab Elara datar. "Siska memilih untuk pergi, dan aku hanya memastikan aset tanah Ibu tidak jatuh ke tangan yang salah. Bukankah itu yang kalian inginkan? Stabilitas?"

Ibu tiri tertawa kecil, suara yang terdengar seperti gesekan kaca. "Stabilitas? Kau hanyalah bidak yang dipinjam Adrian untuk menutupi skandal pertunangannya. Jangan berpikir kau bisa mengklaim hak waris hanya karena kau memakai gaun pengantin itu."

Adrian memotong, suaranya dingin dan presisi, menghentikan ketegangan yang mulai memuncak. "Elara adalah istriku secara hukum. Dan dalam kamusku, apa pun yang menjadi milik istriku adalah aset yang harus kulindungi. Jika ada yang mencoba mengusik tanah itu, mereka tidak sedang berhadapan dengan Elara. Mereka berhadapan dengan aku."

Ketegangan di ruang makan itu menguap, digantikan oleh keheningan yang menyesakkan. Elara menatap Adrian, menyadari bahwa meskipun ia hanyalah pion dalam permainan pria ini, ia kini memiliki pelindung yang paling berbahaya bagi musuh-musuhnya.

Sesampainya di kediaman Adrian, Elara tidak membuang waktu. Pintu ruang kerja Adrian yang berbahan kayu mahoni berat menutup dengan bunyi klik yang final. Aroma parfum maskulin bercampur wangi tembakau mahal masih tertinggal di udara. Tanpa ragu, Elara melangkah menuju meja kerja Adrian. Di sudut meja, sebuah tablet dengan enkripsi biometrik menjadi targetnya.

Jantung Elara berdegup kencang. Ia tahu kode akses dasar keluarga—angka yang selalu digunakan ayahnya untuk transaksi gelap—dan dengan tangan yang sedikit gemetar, ia memasukkannya. Layar berkedip, meminta verifikasi tambahan. Elara memasukkan tanggal lahir mendiang ibunya. Sistem terbuka.

Namun, saat ia membuka direktori berlabel 'Proyek Utama', jemarinya membeku. Itu bukan sekadar catatan keuangan keluarga. Itu adalah rekaman percakapan dan bukti transaksi yang melibatkan Adrian sendiri, namun dengan satu perbedaan krusial: Adrian bukan pelaku utama, melainkan korban manipulasi yang sama dengan ibunya. Di sana, tertulis nama-nama yang sama—paman tirinya, sindikat yang merampas warisan ibunya—semuanya terhubung dalam skema yang sama untuk menghancurkan perusahaan Adrian.

"Mencari sesuatu yang berharga, atau justru mencari cara untuk menghancurkanku?"

Suara Adrian memecah udara. Pria itu bersandar di ambang pintu, kemeja putihnya yang digulung hingga siku memperlihatkan urat nadi yang tegang. Elara tidak membuang waktu dengan berpura-pura. Ia menegakkan punggung, menatap mata pria itu tanpa gentar.

"Aku mencari keadilan, Adrian. Sesuatu yang tampaknya tidak dipahami oleh orang-orang di lingkaranku, termasuk keluargaku," jawab Elara, suaranya tetap stabil meski ia memegang map biru tua berisi bukti pengkhianatan itu.

Adrian melangkah masuk, berhenti tepat di depan Elara. Ia mengambil map dari tangan wanita itu dengan gerakan yang hampir lembut—sebuah kontras yang membingungkan. Ia membuka map tersebut, memindai isinya sejenak, lalu tertawa getir.

"Mereka tidak hanya merampas tanahmu, Elara. Mereka menggunakan skema yang sama untuk memanipulasi merger perusahaanku. Mereka pikir aku tidak tahu siapa yang membocorkan data internal itu." Adrian menatap Elara, tatapannya kini tidak lagi menilai, melainkan mengakui. "Kita memiliki musuh yang sama. Dan jika kau ingin menghancurkan mereka, kau tidak bisa melakukannya sendirian. Kau butuh sekutu."

Elara menatap Adrian, menyadari bahwa di balik kekuasaan dan dinginnya pria ini, terdapat luka pengkhianatan yang sama dengan miliknya. Aliansi ini bukan lagi sekadar kontrak pernikahan, melainkan sebuah senjata yang siap diledakkan. Di luar sana, skandal media sosial tentang Elara sebagai penipu mungkin akan meledak esok pagi, namun untuk saat ini, di ruang kerja yang sunyi ini, mereka adalah dua orang terluka yang dipersatukan oleh satu tujuan: pembalasan.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced