Kontrak di Balik Cadar
Pintu ruang VIP Grand Astoria menutup dengan dentuman yang terasa seperti palu hakim. Di luar sana, musik orkestra masih mengalun, menutupi kekacauan yang baru saja terjadi di altar, namun di dalam ruangan ini, udara terasa dingin dan tipis. Adrian berdiri di dekat jendela, membelakangi Elara. Bahunya yang lebar tampak tegang di balik setelan jas hitam yang sempurna—sebuah perisai yang ia gunakan untuk menyembunyikan amarah.
"Kau berani menggantikan Siska, pelayan rendahan yang bahkan tidak memiliki nama di silsilah keluarga besar," suara Adrian rendah, nyaris berbisik, namun penuh dengan ancaman yang mematikan. Ia berbalik, menatap Elara dengan mata yang tidak lagi mencari pengantin, melainkan mencari kelemahan.
Elara tidak gemetar. Ia telah belajar bahwa di dunia ini, ketakutan adalah kemewahan yang tidak bisa ia beli. Ia merapikan gaun sutra yang seharusnya milik sepupunya, lalu melangkah mendekati meja mahoni tempat kontrak pernikahan itu tergeletak. "Siska sudah kabur dengan pria yang tidak diinginkan keluarga, dan mereka membutuhkan seseorang untuk menutupi skandal ini agar merger tetap berjalan. Keluarga besar menyandera tanah peninggalan ibu saya sebagai jaminan. Saya tidak punya pilihan, dan Anda pun tidak. Anda butuh pengantin untuk mengamankan kursi direksi sebelum rapat pemegang saham besok pagi."
Adrian tertawa pendek, sebuah suara kering tanpa humor. Ia menyodorkan pena berlapis emas ke arah Elara. "Kau pikir kau bisa mengendalikan permainan ini? Jika kau menandatangani ini, kau bukan lagi sekadar pelayan. Kau adalah target bagi musuh-musuhku, dan pion yang bisa dikorbankan kapan saja oleh keluargamu sendiri."
Elara menatap pena itu, lalu menatap mata Adrian yang tajam. Tanpa ragu, ia membubuhkan tanda tangannya. Tinta hitam itu menari di atas kertas, menjadi vonis bagi keluarganya sendiri. "Saya tidak butuh perlindungan Anda, Adrian. Saya hanya butuh status sebagai istri Anda untuk mengambil kembali apa yang menjadi hak saya."
Tak lama, mereka harus kembali ke ballroom. Lampu kristal di atas kepala terasa seperti mata yang menghakimi. Elara berdiri di samping Adrian, merasakan kain gaun sutra yang seharusnya milik Siska terasa seperti baju zirah. Di seberang ruangan, Tante Ratna dan suaminya menatap dengan seringai tipis, menunggu saat-saat Adrian menyadari penipuan ini dan mencampakkan Elara di depan kamera media.
"Ingat, Elara," bisik Adrian, suaranya sedingin es namun mematikan. "Kau adalah istriku sekarang. Jika kau gemetar, kau tidak hanya merusak reputasiku, tapi kau juga menghancurkan satu-satunya kesempatanmu untuk mendapatkan kembali tanah ibumu."
Sebelum Adrian sempat membalas, Tante Ratna melangkah maju dengan segelas sampanye, berpura-pura ramah. "Adrian, sayang, kami sangat terkejut melihat... perubahan mendadak ini. Siska memang sedikit impulsif, tapi kau yakin wanita ini cukup layak untuk mendampingimu di depan para investor?"
Ketegangan memuncak. Para wartawan mulai mengarahkan kamera. Elara merasakan jemari Adrian mengeras di pinggangnya, namun bukan untuk mendorongnya menjauh. Tangan pria itu menariknya lebih dekat, sebuah tindakan protektif yang membuat Tante Ratna tertegun. "Istri saya memiliki martabat yang tidak dipahami oleh orang-orang yang hanya mengandalkan nama belakang untuk bertahan hidup," ujar Adrian dingin, membungkam ruangan. Keluarga besar Elara terpaksa mundur, menyadari bahwa mereka telah kehilangan kendali atas pion mereka.
Di dalam limusin yang membelah kemacetan Jakarta, suasana terasa lebih mencekam. Adrian menyesap wiski, matanya menyipit penuh selidik. "Kau pikir kau bisa mengendalikan permainan ini?" bisik Adrian, mencondongkan tubuh hingga jarak mereka menipis. Elara menatapnya, tidak menunjukkan kerentanan. "Saya tidak bermain, Adrian. Saya sedang melakukan restrukturisasi hidup saya."
Sesampainya di kediaman mewah Adrian, pria itu meninggalkan Elara sendirian di ruang kerja untuk mengurus krisis saham. Elara tidak membuang waktu. Ia tahu informasi adalah mata uang. Ia mendekati meja kerja besar, menemukan brankas di balik lukisan, dan membukanya dengan kombinasi yang ia curi pandang. Di dalamnya, tidak ada uang, melainkan map biru tua berisi bukti transaksi ilegal antara keluarganya dan pihak ketiga untuk mencuci aset tanah ibunya. Elara menarik napas tajam; ia baru saja menemukan kunci untuk menghancurkan musuh bersama mereka.