Ballroom Penghinaan
Aroma melati yang berlebihan di Ballroom Hotel Grand Astoria terasa seperti mencekik. Elara berdiri di sudut bayang-bayang, mengenakan seragam pramusaji hitam yang terasa kasar di kulitnya—sebuah pengingat bahwa di rumah ini, ia hanyalah properti yang tidak diinginkan. Di atas panggung, di bawah sorot lampu kristal yang menyilaukan, sepupunya, Siska, tampak seperti boneka porselen yang siap diserahkan kepada Adrian, pewaris tunggal Grup Dirgantara.
"Jangan sampai nampan itu miring, Elara. Satu tetes sampanye jatuh ke gaun Siska, dan aku akan memastikan sisa aset ibumu yang kau pegang itu disita oleh pengadilan besok pagi," bisik Ibu Tiri Elara. Suara itu dingin, presisi, dan mematikan.
Elara tidak menjawab. Ia hanya mencengkeram nampan perak itu hingga buku-buku jarinya memutih. Ia bukan pelayan, namun di mata para sosialita Jakarta yang memenuhi ruangan, ia hanyalah pion yang dipaksa menyaksikan hari di mana hak warisnya diserahkan sepenuhnya kepada orang yang paling membencinya.
Sepuluh menit kemudian, kekacauan pecah. Siska tidak muncul di altar. Pintu ruang tunggu pengantin terbuka lebar, namun yang keluar hanyalah asisten pribadi yang pucat pasi, membisikkan sesuatu ke telinga Ayah Elara. Wajah pria tua itu berubah pias, lalu memerah padam. Merger bisnis yang menjadi kunci keselamatan perusahaan keluarga kini berada di ujung tanduk.
Elara diseret paksa ke ruang VVIP di balik panggung. Ayahnya melempar sebuah dokumen kontrak ke atas meja mahoni dengan tangan gemetar.
"Pilih, Elara. Gantikan posisimu sebagai pengantin, atau aku akan memastikan semua surat tanah peninggalan ibumu hangus dalam sengketa hukum besok pagi," desis ayahnya. Tidak ada negosiasi. Hanya ultimatum.
Elara menatap dokumen itu. Nama sepupunya, Anindita, tertulis di sana—seorang pengantin yang kini entah berada di mana. Bagi keluarganya, Elara hanyalah cadangan yang bisa dibuang kapan saja, namun malam ini, ia adalah satu-satunya cara untuk menutupi skandal yang akan menghancurkan reputasi mereka.
"Kalian memintaku untuk menipu publik?" suara Elara tenang, meski tangannya di balik punggung mengepal erat.
"Kami memintamu untuk membayar utang budimu," sahut ibu tirinya. "Siapa yang akan menyadari perbedaannya di balik kerudung pengantin yang tebal itu? Kau sudah terbiasa menjadi bayangan, bukan?"
Elara menatap pantulan dirinya di cermin besar. Gaun pengantin sutra putih yang kini ia kenakan terasa berat, seolah membawa beban seluruh masa lalunya. Ia tidak punya pilihan. Jika ia menolak, ia kehilangan sisa aset ibunya. Jika ia menerima, ia masuk ke dalam kandang singa.
Saat ia melangkah keluar menuju altar, lampu kristal di Ballroom Hotel Grand Artha terasa seperti ribuan mata yang menghakimi. Di seberangnya, Adrian berdiri dengan punggung tegak, setelan jas gelapnya memancarkan aura otoritas yang dingin. Pria itu tidak menatapnya dengan tatapan mempelai pria; ia menatapnya seperti seseorang yang sedang membedah bangkai untuk mencari tahu di mana letak kebusukannya.
“Keluargamu benar-benar putus asa, bukan?” suara Adrian rendah, nyaris berbisik, namun cukup tajam untuk memutus kebisingan musik orkestra. “Mengirim pelayan untuk menutupi skandal pelarian sang pewaris utama. Apa mereka benar-benar mengira aku buta?”
Elara membalas tatapan itu tanpa berkedip. “Tuan Adrian,” jawab Elara tenang. “Jika Anda membatalkan merger ini karena pengantin yang kabur, saham perusahaan Anda akan anjlok sebelum fajar. Apakah Anda lebih peduli pada siapa wanita yang berdiri di samping Anda, atau pada nilai perusahaan yang Anda pertaruhkan?”
Adrian terdiam sejenak, matanya menyipit, meneliti setiap inci wajah Elara yang tersembunyi di balik tudung. Tiba-tiba, Adrian maju selangkah, ruang di antara mereka menipis hingga Elara bisa mencium aroma kayu cendana dari jas pria itu. Adrian menarik dagu Elara dengan jemarinya, memaksa wanita itu mendongak.
“Aku tidak butuh pengantin pengganti,” desis Adrian dingin, matanya berkilat penuh ancaman. “Aku butuh seseorang yang bisa kuhancurkan.”