Novel

Chapter 2: Topeng di Depan Kamera

Laksmi berhasil mempertahankan posisinya di depan publik saat Raka mencoba memerasnya. Ardian melakukan intervensi protektif yang strategis, namun memperingatkan Laksmi bahwa kegagalan akting mereka akan berakibat fatal bagi keduanya.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Topeng di Depan Kamera

Ballroom Hotel Mulia bukan sekadar tempat perhelatan; itu adalah arena gladiator yang disamarkan dengan wewangian lily putih dan denting kristal sampanye. Laksmi Wijaya berdiri di balik tirai beludru, jemarinya yang dingin meremas kain gaun champagne-nya hingga buku jarinya memutih. Di luar sana, Jakarta sedang menunggu untuk menghakimi.

"Ingat, Laksmi. Kamu bukan Sinta, tapi malam ini, seluruh dunia harus percaya bahwa kamu adalah satu-satunya wanita yang Ardian Mahendra inginkan," bisik suara dingin dari balik bahunya. Ardian tidak menoleh, matanya terpaku pada kerumunan sosialita yang mulai berbisik. "Reputasiku adalah taruhanku, dan hutang keluargamu adalah taruhanmu. Jangan buat aku menyesali pilihan ini."

Laksmi menegakkan punggung. Ia menolak untuk terlihat seperti pion yang gemetar. "Aku tahu peranku, Ardian. Tapi ingat, kontrak kita bukan hanya soal kewajibanku. Klausul kompensasi yang kutandatangani pagi tadi adalah pengingat bahwa aku bukan sekadar dekorasi."

Saat ia melangkah keluar, kilatan kamera menghantam wajahnya seperti badai petir. Laksmi bisa merasakan tatapan tajam Sinta dari sudut ruangan. Kakaknya itu berdiri di sana bersama Raka, mantan tunangan Laksmi, menatapnya dengan seringai yang merendahkan. Sinta sengaja membocorkan rumor tentang 'pengantin yang hilang' ke media, berharap Laksmi akan hancur oleh tekanan publik dan mengungkap kebenaran di depan kamera.

Laksmi memisahkan diri sejenak menuju area VIP yang remang, namun bayangan Raka Pratama segera mencegatnya di balik pilar marmer.

"Kau pikir bisa bersembunyi di balik nama Mahendra selamanya?" desis Raka, suaranya penuh racun. Ia mengeluarkan ponsel, menunjukkan foto-foto masa lalu Laksmi yang bisa merusak reputasinya. "Satu kiriman ke media, dan kontrak konyolmu dengan Ardian akan berakhir sebelum sempat diresmikan. Kau akan kembali menjadi gadis malang yang ditinggalkan, Laksmi."

Laksmi tidak berkedip. Ia merasakan dinginnya lantai marmer di bawah tumitnya, namun hatinya justru tenang. Ia teringat klausul perlindungan reputasi yang ia sisipkan dalam kontrak. "Silakan, Raka. Tapi pastikan kau siap menanggung konsekuensi hukumnya. Kontrak yang kutandatangani pagi ini memiliki klausul perlindungan yang sangat mahal. Jika foto-foto itu tersebar, bukan hanya reputasiku yang terancam, tapi seluruh aset keluargamu akan terseret dalam gugatan Mahendra Group. Apakah kau cukup berani untuk kehilangan segalanya demi dendam murahan?"

Raka tertegun, seringainya luntur. Sebelum ia sempat membalas, sebuah tangan yang kokoh dan dingin mendarat di pinggang Laksmi, menariknya mendekat hingga bahu mereka bersentuhan. Ardian Mahendra muncul di sana, auranya yang dominan membelah ketegangan.

"Keamanan, keluarkan orang ini," perintah Ardian tanpa menoleh pada Raka. "Dia tidak ada dalam daftar tamu undangan eksklusif saya." Dua pria berjas hitam segera bergerak, memotong akses Raka dengan efisiensi yang membuat para sosialita di sekitar mereka terdiam.

Ardian menunduk, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah Laksmi. Aroma kayu cendana yang tajam dari setelan jasnya menguar, menyesakkan sekaligus protektif. "Kau bermain dengan api, Laksmi. Tapi aku suka keberanianmu," bisiknya, namun matanya tetap sedingin es. "Sekarang, kembali ke panggung. Kita punya pertunjukan yang harus diselesaikan."

Di atas panggung utama, di bawah sorotan lampu yang terasa seperti pisau bedah, Ardian melingkarkan lengannya di pinggang Laksmi. Cengkeramannya tegas, menuntut kepatuhan sekaligus memberikan perisai dari tatapan media. Laksmi tersenyum manis ke arah kamera, sementara hatinya berjanji untuk menemukan file rahasia di brankas Ardian yang ia ketahui tersembunyi di balik kebutuhan pria itu akan istri palsu.

"Ingat, Laksmi," suara Ardian merendah, hanya cukup terdengar oleh indra pendengarannya di tengah riuh tepuk tangan. "Keberhasilan pengumuman ini adalah garis pertahanan terakhir perusahaan. Jika kau gagal berakting hari ini, kehancuran kita berdua adalah taruhannya. Jangan biarkan mereka melihat celah sedikit pun."

Laksmi menarik napas panjang, membalas tatapan Ardian dengan senyum yang sama dinginnya. Pertandingan baru saja dimulai, dan ia tidak akan membiarkan siapa pun memenangkan papan catur ini selain dirinya.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced