Tinta di Atas Luka
Bau melati yang menyengat dari rangkaian bunga di sudut ruang rias terasa seperti racun. Laksmi Wijaya menatap pantulan dirinya di cermin besar; gaun pengantin sutra putih itu tampak sempurna, namun di matanya, kain itu hanyalah bungkus untuk sebuah komoditas yang sedang dilelang.
Di balik sekat kayu, suara tawa kakaknya, Sinta, terdengar renyah, diselingi denting gelas kristal. "Raka, pelan-pelan. Kita punya waktu sebelum mereka menyadari kau tidak ada di altar," bisik Sinta.
Laksmi memejamkan mata, menahan getar di tangannya. Raka—pria yang dua tahun ini ia anggap sebagai masa depannya—kini sedang berada di pelukan kakaknya, merayakan pengkhianatan di hari yang seharusnya menjadi milik Laksmi.
Sinta muncul dari balik sekat, wajahnya yang dipulas rias sempurna tampak angkuh. "Berhenti memasang wajah nelangsa itu, Laksmi. Kau tahu ini bukan soal cinta. Saldo bank Ayah sudah di titik nadir. Jika kau tidak menggantikanku di depan keluarga Mahendra, rumah ini disita besok pagi. Kau pilih: jadi pengantin pengganti, atau jadi gelandangan tanpa nama?"
Ancaman itu bukan sekadar gertakan. Laksmi tahu persis bahwa hutang keluarga Wijaya telah mencapai ambang kehancuran. Sinta tidak sedang menawarkan pilihan; ia sedang membuang beban ke pundak Laksmi.
Satu jam kemudian, Laksmi melangkah masuk ke ruang konferensi lantai 32 di kantor hukum Sudirman. Ruangan itu dingin, didominasi warna abu-abu baja dan kaca. Ardian Mahendra duduk membelakangi pintu, menatap cakrawala Jakarta yang tampak kecil dari ketinggian. Ia tidak menoleh saat Laksmi masuk.
"Duduk, Nona Wijaya," suara Ardian datar, tanpa basa-basi. Saat ia berbalik, matanya yang tajam menelusuri Laksmi dengan kalkulasi dingin. "Saya tidak punya waktu untuk drama keluarga Anda. Kontrak ini menjamin pelunasan seluruh hutang Wijaya dalam dua kali dua puluh empat jam setelah pengumuman publik besok. Sebagai gantinya, Anda adalah milik Mahendra Enterprises secara administratif hingga posisi saya sebagai CEO stabil."
Laksmi tidak duduk. Ia berdiri tegak, menatap tumpukan berkas di meja mahoni. "Pasal empat belas, poin C. Anda menuntut akses penuh atas aset pribadi saya jika terjadi pelanggaran kontrak. Itu berlebihan untuk sekadar pernikahan palsu."
Ardian bersandar, melipat tangan di depan dada. "Keluarga Wijaya adalah risiko, Laksmi. Saya tidak berinvestasi pada pion yang bisa membelot. Jika Anda ingin perlindungan Mahendra, Anda harus memberikan jaminan bahwa Anda adalah pion yang patuh."
Laksmi menatap mata pria itu, mencari celah. Ia melihat kebutuhan yang sama mendesaknya. Ardian membutuhkan stabilitas untuk memuluskan akuisisi perusahaan yang sedang diincar dewan direksi. Mereka berdua adalah predator yang terpojok di kandang yang sama.
"Saya akan menandatanganinya," ujar Laksmi tenang. "Namun, saya menambahkan klausul kompensasi finansial mandiri. Jika Anda gagal menjaga reputasi saya selama masa kontrak, penalti yang Anda bayarkan akan masuk ke rekening pribadi saya, bukan ke rekening keluarga Wijaya. Saya tidak akan menjadi pion yang hancur karena permainan Anda."
Ardian terdiam, kilatan kekaguman yang nyaris tak terlihat melintas di matanya. Ia menyodorkan pulpen itu. "Anda cukup berbahaya, Nona Wijaya. Saya hampir menyesal tidak bertemu Anda lebih awal."
Laksmi meraih pulpen itu. Tanda tangan di atas kontrak hukum itu bukan sekadar formalitas, melainkan deklarasi perang terhadap keluarga yang mengkhianatinya. Saat tinta hitam itu kering, Ardian bangkit dan menarik Laksmi mendekat di depan kamera keamanan yang menyala di sudut ruangan. Ia berbisik, suaranya rendah dan mengancam, "Ingat, jika kau gagal berakting di depan publik nanti, kehancuran kita berdua adalah taruhannya."