Jebakan Warisan
Kediaman Mahendra di Menteng bukan sekadar rumah; itu adalah brankas beton yang dibungkus marmer Italia. Saat Laksmi melangkah masuk, ia tidak disambut oleh kehangatan, melainkan oleh keheningan yang dirancang untuk menekan. Kepala Staf Rumah Tangga, pria paruh baya dengan setelan yang terlalu kaku, membungkuk formal. Matanya memindai Laksmi, bukan sebagai nyonya rumah, melainkan sebagai variabel baru yang harus dikelola.
"Aturan di sini mutlak, Nyonya Muda," ucapnya datar. "Privasi Tuan Ardian adalah prioritas. Lantai dua adalah area terlarang, kecuali untuk kamar utama. Setiap pergerakan Anda akan dicatat untuk audit keamanan aset perusahaan."
Laksmi merasakan denyut ancaman di balik kesopanan itu. Ia bukan tamu; ia adalah pion yang sedang diawasi. Namun, ia tidak akan membiarkan dirinya menjadi pajangan. Ia menatap pria itu, memaksakan otoritas yang ia pelajari dari tahun-tahun menanggung beban keluarga Wijaya. "Terima kasih, Pak. Namun, sebagai istri, saya perlu memahami alur logistik rumah ini untuk memastikan jadwal Tuan Ardian berjalan lancar. Saya tidak ingin ada kesalahan yang merusak citra kami." Ia memberikan jeda yang cukup untuk membuat pria itu ragu, sebuah celah kecil yang ia gunakan untuk memetakan denah akses lantai dua.
Malam harinya, ketegangan berpindah ke ruang makan. Bau melati dari vas kristal terasa mencekik di tengah dinginnya AC. Sinta Wijaya, yang diundang untuk 'menjaga silaturahmi', menatap Laksmi dengan sorot mata penuh racun.
"Aku tidak menyangka Laksmi bisa berakting begitu meyakinkan di depan kamera tadi siang," sindir Sinta, menyesap anggur merahnya. "Biasanya, dia lebih nyaman bersembunyi di balik tumpukan dokumen daripada berdiri di samping pria sekuat Ardian."
Laksmi tidak berkedip. Ia tahu ini adalah ujian untuk meruntuhkan egonya di depan kerabat jauh Mahendra. "Dunia bisnis tidak mengenal kata nyaman, Kak," jawab Laksmi tenang. "Dan di dunia yang baru ini, saya belajar bahwa efisiensi jauh lebih berharga daripada sekadar penampilan."
Ardian, yang sedari tadi diam, tiba-tiba meletakkan pisau makannya. Denting logam itu memotong napas semua orang. "Laksmi benar," suara Ardian rendah, namun menghentikan sindiran Sinta seketika. "Dia adalah mitra saya dalam mengelola aset keluarga Wijaya yang kini berada di bawah pengawasan hukum saya. Saya harap kerabat saya mengerti bahwa menghina istri saya sama dengan meragukan keputusan bisnis saya." Sinta bungkam, namun kebencian di matanya semakin dalam.
Setelah makan malam, Laksmi memanfaatkan akses yang ia peroleh untuk menuju ruang kerja Ardian. Namun, langkahnya terhenti di koridor. Ardian sudah berdiri di sana, tanpa jas, lengan kemejanya digulung hingga siku.
"Mencari sesuatu, Laksmi? Atau hanya memastikan brankas saya masih terkunci rapat?" suara Ardian penuh otoritas.
Laksmi tidak mundur. "Saya butuh jaminan bahwa posisi saya aman. Jika keluarga saya tahu saya hanya alat, mereka akan menghancurkan kontrak ini. Saya butuh akses, bukan sekadar pajangan."
Ardian melangkah maju, memangkas jarak hingga aroma kayu cendana dan tembakau mahal menguar di antara mereka. "Anda berani menuntut jaminan saat Anda sedang mencoba membongkar ruang kerja saya?"
"Itu bukan menuntut, itu negosiasi," balas Laksmi.
Ardian terdiam sejenak, menatap Laksmi dengan intensitas yang tak terbaca sebelum akhirnya mengalah. Ia memberikan akses ke informasi tertentu, mengakui Laksmi sebagai mitra strategis, bukan sekadar pion. Namun, saat Ardian pergi, Laksmi segera menuju brankas. Dengan jemari gemetar, ia memasukkan kode yang ia curi pandang. Pintu brankas terbuka, menampakkan arsip rahasia.
Di dalamnya, ia menemukan dokumen yang membuat napasnya tercekat: laporan investigasi internal yang mengaitkan keluarga Wijayanya sendiri—termasuk tanda tangan Sinta—dengan penggelapan aset lima tahun lalu. Pernikahan ini bukan soal uang; ini adalah senjata Ardian untuk menghancurkan keluarganya. Laksmi memegang file itu, menyadari bahwa ia kini memiliki kunci untuk menghancurkan atau menyelamatkan Ardian, dan permainan baru saja dimulai.