Novel

Chapter 2: Panggilan dari Sekolah

Elara terjebak dalam dinamika kekuasaan Adrian saat panggilan sekolah mengancam posisi anaknya. Adrian melakukan intervensi hukum yang brutal untuk membungkam pihak sekolah, namun tindakan tersebut memperdalam ketergantungan Elara. Bab berakhir dengan Adrian menemukan dokumen rahasia di tas Elara yang jatuh.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Panggilan dari Sekolah

Ruang kerja Adrian di lantai empat puluh bukan sekadar kantor; itu adalah benteng. Kaca setinggi langit-langit memamerkan cakrawala Jakarta yang gemerlap, namun di dalam, suasananya sedingin ruang otopsi. Adrian berdiri memunggungi pintu, jemarinya mengetuk meja marmer hitam dengan ritme yang konstan—sebuah kode morse dari kecemasan yang ia sembunyikan di balik setelan jas bespoke miliknya.

Elara berdiri di ambang pintu, masih mengenakan gaun yang ia gunakan untuk menahan penghinaan di ballroom tadi. Ia merasa seperti pajangan yang salah tempat.

"Duduk," perintah Adrian tanpa menoleh. Suaranya datar, tanpa sisa kemesraan palsu yang mereka peragakan di depan media satu jam lalu.

Elara memilih kursi kulit yang paling jauh. "Kontraknya sudah kutandatangani, Adrian. Aku sudah melakukan bagianku untuk membungkam rumor Aris. Apa kita benar-benar harus melanjutkan ini?"

Adrian berbalik. Matanya yang kelabu menatap Elara dengan intensitas yang membuat napas wanita itu tercekat. "Kontrak itu bukan sekadar formalitas. Itu adalah jaring pengaman, dan kau baru saja masuk ke dalamnya. Besok, rapat dewan akan menentukan apakah aku masih memegang kendali perusahaan ini. Jika kau ingin perlindungan, kau harus menjadi milikku sepenuhnya di mata publik. Tidak ada ruang untuk kesalahan, tidak ada ruang untuk kehidupan pribadimu yang berantakan."

Elara menggenggam tas tangannya lebih erat. Di dalamnya, tersimpan dokumen hukum kuno yang menjadi satu-satunya bukti pengkhianatan masa lalunya—sebuah pengingat bahwa ia tidak pernah benar-benar memiliki kendali atas hidupnya sendiri. "Aku mengerti risikonya," jawab Elara pelan.

"Paham saja tidak cukup," sahut Adrian, melangkah mendekat. "Besok pagi, saat rapat dewan, kau hanya perlu berdiri di sampingku. Jangan bicara kecuali ditanya. Kau adalah tunanganku, bukan pelayan yang sedang mencari kerja."

Sebelum Elara sempat membalas, ponsel di dalam tasnya bergetar panjang. Layar menunjukkan nama sekolah anaknya. Jantung Elara seakan berhenti berdetak. Ia menatap Adrian yang sedang menelaah dokumen perusahaan, lalu dengan tangan gemetar, ia menerima panggilan itu.

"Ibu Elara? Kami harus membicarakan kelanjutan studi putra Anda," suara dingin di seberang sana menusuk pendengaran Elara. "Ada laporan mengenai status Anda yang tidak sesuai dengan formulir pendaftaran. Dewan sekolah merasa ini berisiko bagi reputasi institusi. Jika ini berlanjut, kami terpaksa mengeluarkan putra Anda."

Elara mematikan sambungan tanpa kata, wajahnya memucat hingga nyaris transparan. Adrian meletakkan penanya. Mata tajam itu tidak menatap dokumen, melainkan menembus pertahanan Elara. "Masalah sekolah?" tanyanya datar, namun ada nada perintah yang tidak bisa dibantah.

"Bukan apa-apa. Hanya masalah administrasi kecil," elak Elara, namun suaranya bergetar.

"Jangan berbohong padaku, Elara. Kontrak kita menyatakan bahwa aku adalah pelindungmu. Jika ada sesuatu yang mengancam stabilitas asetku—termasuk tunangan kontrakku—aku berhak tahu." Adrian berdiri, melangkah mendekat hingga bayangannya menelan Elara. "Siapa yang menyerangmu? Aris?"

Elara meremas ujung blusnya. "Bukan. Hanya rumor tidak berdasar tentang status ibu tunggal. Mereka ingin mengeluarkan anakku karena reputasi sekolah."

Adrian terdiam sejenak, lalu tanpa sepatah kata pun, ia meraih ponsel Elara dari atas meja. Ia menekan tombol panggil ulang dan mengaktifkan mode pengeras suara. "Ini Adrian Dirgantara," suaranya dingin, berwibawa, dan mematikan. "Saya mendengar ada ancaman terhadap siswa di sekolah Anda. Jika satu saja tindakan disipliner dilakukan terhadap anak yang dikaitkan dengan tunangan saya, saya akan memastikan dewan sekolah Anda tidak lagi memiliki institusi untuk dipimpin besok pagi. Paham?"

Sambungan diputus. Keheningan yang menyelimuti ruangan itu terasa lebih berat dari sebelumnya. Elara menatap Adrian dengan rasa syukur yang bercampur ngeri. Ia baru saja menyadari bahwa perlindungan pria ini memiliki harga yang sangat mahal: ia kini sepenuhnya bergantung pada pria yang baru ia kenal sebagai tunangan palsunya.

Saat Elara berbalik untuk pergi, tasnya yang sudah usang tersangkut di sudut meja. Tas itu jatuh menghantam lantai marmer dengan dentuman keras. Isinya tumpah berantakan: dompet, kunci, dan sebuah amplop cokelat tua yang ujungnya sudah mulai menguning. Elara membeku. Sebelum ia sempat membungkuk, sepatu kulit hitam Adrian sudah lebih dulu menginjak pinggiran amplop itu.

"Apa ini?" tanya Adrian. Matanya menyipit, menatap dokumen yang setengah terbuka itu dengan intensitas yang membuat napas Elara tertahan. Elara segera berjongkok, tangannya gemetar saat mencoba menarik amplop tersebut. "Bukan apa-apa. Hanya dokumen lama. Tolong, Adrian, kembalikan."

Adrian tidak bergeming. Ia memungut dokumen itu, matanya menelusuri baris-baris hukum di dalamnya yang seharusnya tetap terkubur selamanya.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced