Novel

Chapter 3: Harga dari Sebuah Perlindungan

Adrian membawa Elara ke acara amal keluarga sebagai tameng publik. Di sana, Adrian membela Elara dari interogasi ibu tirinya, namun ketegangan memuncak saat mereka kembali ke apartemen. Adrian akhirnya membuka dokumen rahasia Elara, mengungkap pengkhianatan masa lalu yang melibatkan ayah biologis anaknya, sementara ancaman baru muncul di lobi kantor Adrian.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Harga dari Sebuah Perlindungan

Mesin mobil Adrian meraung pelan di parkiran sekolah yang lengang, kontras dengan ketegangan yang menyumbat tenggorokan Elara. Saat mereka bersiap meninggalkan area sekolah, tas Elara tersangkut pintu, tumpah, dan sebuah amplop cokelat meluncur keluar. Sebelum Elara sempat bergerak, tangan Adrian lebih dulu menyambar dokumen itu.

Elara mematung. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut pada Adrian, melainkan karena isi amplop itu adalah bukti pengkhianatan masa lalunya yang bisa menghancurkan sisa harga dirinya. "Itu milikku," suara Elara serak, tangannya gemetar saat terulur.

Adrian tidak mengembalikan amplop itu. Ia justru menyelipkannya ke laci dasbor dengan gerakan yang tenang dan penuh perhitungan. "Dokumen penting untuk urusan sekolah?" tanya Adrian datar. Ia menatap Elara dengan intensitas yang membuat napas wanita itu tercekat. Elara menyadari bahwa perlindungan yang diberikan Adrian kini bukan lagi sekadar kontrak, melainkan jerat yang semakin mengencang. Tanpa sepatah kata pun, Adrian memacu mobilnya, membawa mereka langsung menuju ballroom Hotel Dirgantara—medan tempur berikutnya.

Di dalam ballroom yang gemerlap, lampu kristal memantulkan cahaya yang terasa seperti belati. Adrian berdiri di samping Elara, tangannya yang terbalut setelan jas mahal tersampir di pinggang wanita itu—bukan sebagai tanda kasih sayang, melainkan sebagai peringatan bagi siapa pun yang berani mendekat.

"Elara, benarkah kau hanyalah seorang desainer lepas sebelum bertemu putraku?" Suara Nyonya Susi, ibu tiri Adrian, memecah kebisingan pesta. Matanya memindai gaun Elara, mencari noda yang bisa dipakai untuk menjatuhkan kredibilitasnya.

Elara merasakan genggaman Adrian di pinggangnya mengencang. "Saya bekerja dengan klien-klien privat, Nyonya. Fokus saya adalah detail," jawab Elara tenang, meski tangannya di balik tas mencengkeram erat.

"Detail?" Susi tertawa sinis. "Sangat disayangkan jika detail yang kau simpan adalah rahasia yang bisa menghancurkan reputasi keluarga besar ini. Kudengar ada rumor tentang seorang anak..."

"Cukup, Ibu." Suara Adrian memotong, dingin dan tajam. Ia menarik Elara lebih dekat. "Malam ini adalah acara amal, bukan sesi interogasi. Jika Ibu ingin membahas masa lalu, lakukan di kantor hukum, bukan di tengah ballroom." Intervensi itu membungkam Susi, namun Elara tahu harga dari pembelaan itu sangat mahal. Adrian sedang mempertaruhkan reputasinya sendiri untuk melindunginya di depan umum.

Saat acara mulai terasa menyesakkan, Adrian menarik Elara ke balkon lantai empat puluh. Angin malam Jakarta terasa dingin, kontras dengan suasana di dalam.

"Mereka tidak akan berhenti bertanya, Elara," ujar Adrian, suaranya kini terdengar lelah. Ia memutar tubuh, menatap Elara dengan tatapan yang seolah membedah ketakutannya.

Elara menegakkan punggung. "Saya tahu apa yang saya tandatangani di atas serbet itu. Saya hanyalah tameng untuk rapat dewan besok pagi."

Adrian tertawa pendek, tanpa kehangatan. Ia memangkas jarak hingga aroma kayu cendana dari jasnya memenuhi indra Elara. "Tameng? Kamu lebih dari itu. Kamu adalah satu-satunya orang di ruangan ini yang tidak menginginkan apa pun dariku. Itu membuatmu jauh lebih berbahaya daripada musuh mana pun."

Adrian hampir membocorkan apa yang ia ketahui tentang isi amplop di dasbor mobilnya, namun ia menahan diri. Ia membutuhkan kendali, dan rahasia itu adalah kuncinya.

Kembali ke apartemen, suasana berubah menjadi konfrontasi dingin. Di ruang kerjanya, Adrian melempar dokumen hukum milik Elara ke atas meja kayu jati. "Jadi, ini alasanmu begitu putus asa saat sekolah anakmu mengancam? Bukan sekadar biaya, tapi karena ada nama lain di sini. Nama ayah biologis yang menghilang saat skandal ini meledak."

Elara terdiam, napasnya tertahan. Ia menyadari Adrian telah mengetahui segalanya. Di saat yang sama, di lobi kantor utama Adrian, seseorang dari masa lalu Elara—sosok yang seharusnya sudah terkubur—baru saja melangkah masuk dengan senyum penuh ancaman, mulai menanyakan keberadaan Elara kepada resepsionis.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced