Ballroom yang Terbakar
Denting gelas kristal di Ballroom Grand Hyatt Jakarta terdengar seperti pecahan kaca yang menusuk gendang telinga Elara. Di tengah kerumunan elit yang berbalut sutra dan kemilau berlian, Elara berdiri sebagai satu-satunya target bidikan.
“Jadi, inilah wanita yang mengklaim sebagai mitra eksklusif perusahaan kita?”
Suara lantang itu milik Aris, mantan rekan bisnisnya yang kini menatap Elara dengan seringai predator. Aris memegang mikrofon, sengaja menarik perhatian para tamu yang mulai berbisik. “Sayang sekali, Elara. Bukankah lebih baik kamu jujur? Kita semua tahu kamu hanya orang luar yang mencoba menjual mimpi kosong. Dan rumor tentang anakmu... bukankah itu alasan sebenarnya kamu memohon-mohon kontrak ini?”
Elara merasakan sensasi dingin menjalar di tengkuknya. Ini bukan sekadar penghinaan profesional; ini adalah eksekusi publik. Aris telah merancang momen ini untuk memastikan Elara tidak hanya kehilangan proyek, tetapi juga kehilangan akses pendidikan bagi putranya—sebuah rahasia yang ia jaga dengan nyawa. Reputasi adalah mata uang di ruangan ini, dan Aris baru saja membakarnya hingga habis.
“Itu fitnah, Aris,” ujar Elara, suaranya tetap stabil meski jemarinya di balik tas kopor gemetar hebat. Ia tidak boleh pergi. Jika ia melangkah keluar sekarang, ia kehilangan segalanya. Jika ia bertahan, ia akan dicabik-cabik.
“Fitnah?” Aris melangkah mendekat, tubuhnya memblokir jalan keluar. “Mari kita lihat apa yang dikatakan para pemegang saham saat mereka tahu kamu tidak memiliki apa-apa selain hutang dan—”
“Cukup.”
Satu kata itu diucapkan dengan nada rendah yang dingin, namun mampu menghentikan seluruh bisik-bisik di ballroom. Adrian Dirgantara muncul dari balik kerumunan, membelah barisan tamu dengan otoritas mutlak. Tatapannya tertuju pada Aris, tajam dan menghancurkan. Tanpa sepatah kata tambahan, Adrian meraih lengan Elara, menariknya menjauh dari sorotan mata yang haus skandal menuju ruang tunggu VIP di balik panggung.
Begitu pintu tertutup, Adrian melepaskan cengkeramannya. Ia tidak menawarkan simpati; ia menawarkan fakta. “Kamu butuh perlindungan, dan aku butuh citra keluarga yang stabil untuk rapat dewan besok pagi. Aris tidak akan berhenti sampai dia menghancurkanmu. Aku bisa menghentikannya dalam sepuluh menit.”
Elara menatap pria itu, menyadari bahwa ini bukan penyelamatan, melainkan transaksi. Adrian telah memantau kelemahan finansialnya, tahu bahwa Elara tidak punya pilihan lain selain tunduk.
“Apa syaratnya?” tanya Elara, suaranya parau.
Adrian meletakkan sebuah serbet hotel di meja. “Menjadi tunanganku. Secara publik. Sampai aku mendapatkan kendali penuh atas perusahaan ini.”
Tanpa ragu, Elara mengambil pena. Ia menandatangani draf kontrak di atas serbet itu. Sebuah komitmen yang lahir dari kebutuhan, bukan cinta, namun satu-satunya cara untuk memastikan putranya tetap bisa bersekolah.
Kembali ke ballroom, Adrian menggandeng tangan Elara. Kilatan lampu kamera media langsung menyambut mereka. Adrian menarik Elara hingga tidak ada celah tersisa, tangannya melingkar posesif di pinggang wanita itu.
“Senyum, Elara,” bisik Adrian, tajam dan dingin. “Kita sedang membangun narasi yang mahal. Jangan buat mereka ragu.”
Elara memaksakan senyum profesional. Ia bisa merasakan otot lengan Adrian yang keras di balik jas mahalnya—sebuah pengingat fisik akan kontrak yang mengikatnya. Saat ia menunduk untuk menetralkan napas, ponsel di tasnya bergetar hebat. Sebuah notifikasi muncul di layar: pesan dari pihak sekolah yang mengancam akan mengeluarkan putranya karena rumor skandal orang tua yang mulai tersebar luas.
Adrian menatap lurus ke depan, ke arah kamera, lalu menunduk sedikit, berbisik tepat di telinga Elara, “Mulai detik ini, kamu milikku.”