Novel

Chapter 2: Topeng di Depan Lensa

Nadira berhasil melewati debut publiknya sebagai tunangan Adrian dengan bantuan proteksi tak terduga dari Adrian saat menghadapi rival sosial. Namun, kemenangan itu terasa hambar saat ia menemukan bukti di ruang kerja Adrian bahwa pria itu telah memata-matai kehidupan Aksa jauh sebelum kesepakatan kontrak dibuat.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Topeng di Depan Lensa

Udara di dalam penthouse Adrian Mahendra tidak pernah terasa cukup untuk bernapas. Nadira Arum berdiri di depan cermin ruang ganti, menatap pantulan dirinya yang asing. Gaun sutra hitam yang dikenakannya bukan sekadar pakaian; itu adalah seragam untuk peran yang dipaksakan. Di bawah tulang selangka, bros emas keluarga Mahendra tersemat—sebuah cap kepemilikan yang terasa lebih berat daripada logam aslinya.

Ponsel di atas meja rias bergetar. Notifikasi dari sekolah Aksa muncul: Tunggakan biaya administrasi telah dilunasi. Nadira memejamkan mata sejenak, membiarkan rasa sesak itu menetap di dadanya. Keamanan Aksa adalah harga yang ia bayar, dan malam ini, ia harus memastikan tidak ada retakan pada topeng yang ia kenakan.

Pintu terbuka tanpa ketukan. Adrian masuk, setelan abu-abu gelap membalut tubuhnya dengan presisi yang dingin. Ia meletakkan map berisi jadwal acara di meja rias, matanya menatap pantulan Nadira di cermin—bukan sebagai wanita, melainkan sebagai aset yang baru saja ia amankan.

"Jangan terlihat seperti orang yang sedang dipaksa," ujar Adrian datar. "Dunia hanya perlu melihat apa yang ingin mereka lihat: bahwa aku punya kendali, dan bahwa kamu adalah pilihan yang tepat untuk menenangkan dewan direksi."

Nadira menegakkan punggung, menatap balik melalui cermin. "Dan jika mereka bertanya tentang masa lalu saya?"

"Masa lalumu tidak ada dalam kontrak," jawab Adrian, suaranya sedingin es. "Yang ada hanyalah masa depan yang kita bangun malam ini."

*

Lobi hotel bintang lima itu adalah medan perang yang diterangi lampu sorot. Begitu mereka melangkah keluar dari mobil, kilatan kamera menghujam seperti peluru. Nadira berdiri tegak, menjaga jarak agar sentuhan Adrian di pinggangnya tidak terasa terlalu intim, namun cukup kuat untuk mengunci posisinya di sisi pria itu.

"Luar biasa, Adrian. Kamu benar-benar punya selera yang... tak terduga," sebuah suara tajam membelah kerumunan. Rani Veyra, sosialita yang dikenal sebagai pengumpul rahasia paling berbahaya, melangkah mendekat. Matanya memindai Nadira, mencari celah pada zirah yang ia kenakan.

Nadira menahan napas, namun tetap tenang. "Senang bertemu denganmu, Rani."

"Dan Nadira?" Rani memiringkan kepala, senyumnya tidak sampai ke mata. "Namamu jarang terdengar di lingkaran ini. Di mana kamu menempuh pendidikan? Mahendra biasanya sangat selektif soal latar belakang keluarga."

Ini adalah jebakan. Satu jawaban salah, dan riwayat hidup yang ia bangun dengan susah payah akan dibongkar. Sebelum Nadira sempat merangkai kata, Adrian melangkah maju, memotong ruang di antara mereka dengan gerakan protektif yang dingin.

"Pendidikan Nadira tidak relevan dengan kapasitasnya saat ini, Rani," suara Adrian rendah, namun memiliki gravitasi yang membuat kerumunan di sekitar mereka terdiam. "Dan jika kamu mencari gosip tentang latar belakang, mungkin kamu bisa mengalihkan perhatianmu ke audit perusahaan yang sedang kamu pantau. Saya yakin itu jauh lebih menarik daripada kehidupan pribadi saya."

Rani tertegun, senyumnya memudar. Adrian tidak hanya membela Nadira; ia mempermalukan Rani di depan wartawan dengan membawa isu audit yang sensitif. Itu adalah tindakan yang berisiko bagi posisinya sendiri, namun efektif untuk menutup mulut sang rival.

Di dalam ballroom, tekanan meningkat saat Buana Mahendra, ayah Adrian, mendekat. Nadira merasa sesak. Sentuhan Adrian di pinggangnya kini terasa seperti peringatan. Buana berdiri di hadapan mereka, auranya menekan, seolah ia bisa mencium kepalsuan di udara.

"Nadira Arum," Buana mengucapkan namanya seakan sedang memeriksa dokumen audit. "Jadi, akhirnya Adrian belajar memilih dengan hati?"

Adrian mengencangkan jari di pinggang Nadira—sebuah sinyal untuk tetap tenang. "Saya memilih dengan pertimbangan yang matang, Ayah. Nadira adalah masa depan saya."

Nadira tidak berkedip. Ia menyadari bahwa pertunangan ini bukan sekadar kontrak; ini adalah pertaruhan nyawa bagi ketenangan Aksa. Saat acara berakhir, wartawan masih mengerumuni mereka. Adrian menarik pinggang Nadira lebih dekat, posesif, seolah-olah ia sedang memamerkan trofi yang tak boleh disentuh siapa pun. Kilatan kamera menyambar, dan Nadira menyadari bahwa ia telah terjebak dalam jaring yang tak bisa ia lepaskan.

Ketika mereka akhirnya kembali ke penthouse dalam keheningan yang menyesakkan, Nadira melangkah masuk ke ruang kerja Adrian dengan niat mencari salinan dokumen tambahan. Namun, matanya tertuju pada sebuah map di atas meja kerja pria itu. Ia membukanya, dan napasnya tertahan. Di sana, tertata rapi, adalah dokumen-dokumen yang merinci setiap jejak kehidupan Aksa—sekolah, rutinitas, bahkan lokasi tempat tinggal mereka. Adrian tidak merekrutnya secara kebetulan. Pria itu telah melacak keberadaannya jauh sebelum pertunangan ini terjadi.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced