Sarapan di Atas Kaca Retak
Ponsel Nadira bergetar di dalam tas, sebuah notifikasi dari portal akademik sekolah Aksa. Tunggakan biaya semester: 3 hari tersisa. Ia mematikan layar, menekan napasnya hingga stabil. Di depannya, penthouse Adrian Mahendra bukan sekadar tempat tinggal; itu adalah ruang interogasi yang dibalut marmer putih dan kesunyian yang mencekik.
Adrian duduk di ujung meja, kemeja abu-abunya terlipat rapi hingga siku. Di hadapannya, sebuah map hitam tergeletak—bukan sarapan, melainkan surat kematian bagi privasi Nadira.
“Duduk, Nadira,” ucap Adrian. Suaranya datar, tanpa nada perintah, namun cukup berat untuk membuat udara di ruangan itu terasa menipis.
Nadira tetap berdiri. Sepatu kerjanya terasa terlalu berisik di atas lantai mahal itu. “Saya tidak punya waktu untuk permainan pagi Anda, Adrian. Katakan apa yang Anda inginkan.”
Adrian menggeser map itu ke tengah meja. “Perusahaan sedang diguncang audit internal. Ayahku mulai mencari kambing hitam, dan dia tidak akan berhenti sampai dia menemukan seseorang yang bisa dia hancurkan untuk menutupi celah di neraca keuangan.”
Nadira menatap map itu. Ia tahu apa isinya sebelum membukanya. “Dan Anda pikir saya adalah pion yang tepat?”
“Aku pikir kamu adalah satu-satunya orang yang memiliki cukup alasan untuk tidak membiarkan dirimu hancur,” jawab Adrian. Ia membuka map tersebut, memperlihatkan dokumen yang sudah ditandatangani di satu sisi. “Pertunangan palsu. Enam bulan. Cukup untuk menenangkan dewan direksi dan mengalihkan perhatian media dari skandal perusahaan.”
Nadira tertawa pendek, sebuah suara yang terdengar asing di ruangan itu. “Anda meminta saya menggadaikan martabat saya untuk menutupi kekacauan keluarga Mahendra?”
“Aku meminta kamu untuk melindungi Aksa.” Adrian menarik selembar kertas dari tumpukan di bawahnya. Itu adalah surat peringatan administratif dari sekolah Aksa. “Jika namamu dikaitkan dengan skandal ini, sekolah akan meninjau ulang statusnya. Kamu tahu bagaimana mereka bekerja. Mereka tidak mengusir, mereka hanya ‘menyesuaikan lingkungan belajar’.”
Nadira meraih kertas itu. Jemarinya gemetar, namun ia mencengkeramnya dengan kuat. Ancaman itu nyata, spesifik, dan tak terelakkan. Ia tidak bisa melawan sistem yang dibangun di atas uang dan reputasi tanpa memiliki perlindungan yang setara.
“Apa yang saya dapatkan?” tanya Nadira, suaranya kini sedingin es.
“Keamanan finansial penuh untuk Aksa, akses pendidikan tanpa gangguan, dan perlindungan identitas yang tidak bisa ditembus oleh media mana pun selama kontrak ini berjalan.” Adrian menatapnya, matanya tajam, mencari celah di pertahanan Nadira. “Aku tidak butuh cinta, Nadira. Aku hanya butuh seseorang yang bisa kuatur untuk menenangkan ayahku.”
Nadira menatap pria di depannya. Adrian bukan penyelamat; dia adalah arsitek dari jaring yang baru saja ia masuki. Namun, di balik ketenangan itu, Nadira melihat sesuatu yang lain—sebuah kebutuhan mendesak untuk mengendalikan kekacauan yang diciptakan ayahnya sendiri.
Ia mengambil pulpen dari atas meja. Tanpa sepatah kata pun, ia menandatangani kontrak tersebut. Tinta hitam itu menempel di kertas, permanen dan mengikat.
Saat ia meletakkan pulpen, pintu lobi terbuka. Suara langkah kaki staf yang tergesa-gesa memecah keheningan. “Tuan Mahendra, wartawan sudah berkumpul di lobi. Mereka menuntut pernyataan soal rumor audit.”
Adrian berdiri, wajahnya berubah menjadi topeng profesional yang tak terbaca. Ia melangkah ke sisi Nadira, menarik pinggang wanita itu dengan gerakan posesif yang terukur. Itu adalah sentuhan yang dingin, namun di depan kamera yang mulai menyorot dari balik pintu kaca, itu terlihat seperti pernyataan kepemilikan yang mutlak.
Nadira merasakan kilatan cahaya kamera menghantam mereka. Ia menyadari, saat Adrian menuntunnya menuju pintu, bahwa ia baru saja terjebak dalam jaring yang tak bisa ia lepaskan. Perang baru saja dimulai, dan ia baru saja menjadi tameng bagi pria yang seharusnya ia hindari seumur hidupnya.