Novel

Chapter 3: Warisan yang Terkubur

Nadira menemukan bukti di ruang kerja Adrian bahwa pria itu telah mengintai kehidupan Aksa jauh sebelum pertunangan palsu mereka dimulai. Konfrontasi tajam terjadi, di mana Adrian secara tersirat mengakui pengintaian tersebut sebagai bagian dari rencana strategisnya. Nadira kini memegang kartu akses penthouse, menyadari bahwa pertunangan ini adalah jebakan yang jauh lebih berbahaya dari yang ia bayangkan.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Warisan yang Terkubur

Pintu lift privat di penthouse Adrian Mahendra menutup dengan dentum halus yang terasa seperti segel yang terkunci rapat. Nadira Arum berdiri di sana, masih mengenakan gaun gala yang kini terasa seperti kostum penyamaran yang menyesakkan. Di luar jendela setinggi langit-langit, gemerlap lampu Jakarta tampak seperti jaring laba-laba yang menjebak.

Adrian melepaskan jasnya, membiarkan kemejanya yang sedikit kusut menonjolkan bahu yang tegang. "Pengaman di sini terhubung langsung ke ruang satpam gedung," suaranya memecah keheningan, dingin dan penuh otoritas. "Mulai malam ini, jangan angkat telepon dari nomor yang tidak dikenal. Jika ada yang mendesak, arahkan padaku. Aku tidak ingin ada celah untuk spekulasi publik lebih lanjut."

Nadira menatap meja sarapan marmer putih di tengah ruangan. Meja itu dingin, panjang, dan tampak seperti ruang sidang yang sudah memberikan vonis tanpa ia sempat membela diri. Di atasnya, Adrian meletakkan sebuah kartu akses berwarna hitam pekat. "Itu untuk lift, parkir, dan akses lantai ini. Kamu tidak perlu lagi repot melewati lobi utama yang penuh wartawan."

"Ini bukan perlindungan, Adrian. Ini pengawasan," jawab Nadira tajam.

Adrian tidak menjawab. Ia berbalik menuju ruang kerja, meninggalkan Nadira dengan kartu akses yang terasa berat di tangannya. Saat pria itu masuk ke kamar mandi, Nadira tidak membuang waktu. Ia melangkah ke ruang kerja yang tertata terlalu rapi—sebuah cerminan dari kehidupan Adrian yang terkontrol dan tanpa cela.

Jemari Nadira bergerak lincah, menyisir laci kayu ek yang terkunci. Ia mencari alasan, mencari celah. Di balik tumpukan dokumen merger yang membosankan, tangannya menyentuh sesuatu yang ganjil: sebuah map kulit berwarna gelap. Saat ia membukanya, dunianya runtuh.

Di dalamnya bukan dokumen perusahaan. Itu adalah laporan pengawasan. Foto-foto Aksa sedang bermain di taman sekolah—diambil dari sudut yang sangat tersembunyi—lengkap dengan catatan rinci rutinitas harian mereka selama dua tahun terakhir. Nadira membalik halaman, napasnya tercekat melihat salinan akta kelahiran Aksa yang seharusnya tersimpan aman di brankas pribadinya. Adrian tidak baru saja menemukannya karena kebetulan. Adrian telah memburunya jauh sebelum kontrak ini ada.

"Kau sudah melihatnya," suara Adrian terdengar dari ambang pintu, datar dan tenang.

Nadira menutup map itu dengan sentakan kasar, matanya berkilat penuh amarah. "Kau melacakku seperti buronan sebelum kau bahkan memikirkan kontrak konyol ini. Apa yang sebenarnya kau inginkan, Adrian?"

Adrian melangkah masuk, memojokkan Nadira di antara meja kerja dan rak buku. "Dunia tempatku berada tidak mengenal kebetulan, Nadira. Saat aku membutuhkan seseorang untuk menenangkan dewan direksi, aku tidak mencari sembarang orang. Aku mencari seseorang yang sudah aku perhitungkan risikonya."

"Risiko?" Nadira tertawa getir. "Aksa bukan risiko. Dia anakku."

"Dan dia adalah bagian dari warisan yang harus aku amankan," potong Adrian dingin. Ia tidak menyangkal pengintaian itu; ia justru mengklaimnya sebagai bentuk tanggung jawab yang tertunda.

Ketegangan di ruangan itu mencapai titik didih. Nadira menyadari bahwa pertunangan ini bukanlah sekadar transaksi bisnis untuk menyelamatkan perusahaan; ini adalah perang terbuka yang telah direncanakan Adrian dengan presisi seorang predator.

Saat mereka kembali ke pintu keluar, Adrian menyodorkan kartu akses itu sekali lagi. Kali ini, Nadira menerimanya, bukan sebagai fasilitas, melainkan sebagai senjata. Ia menatap kartu hitam di tangannya, menyadari bahwa di balik topeng kemewahan dan perlindungan ini, ia kini berada dalam kendali penuh pria yang telah mengintai masa depannya sejak lama. Pertunangan ini bukan lagi sekadar sandiwara. Ini adalah jebakan, dan Nadira baru saja melangkah tepat ke pusatnya.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced